Tampilkan postingan dengan label Ahmad Syakib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Syakib. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Juni 2010
my moto
tes ngeblog via motorola Q9h
Kamis, 06 Mei 2010
Ironi Negeri Korupsi
Geram campur marah itulah ekspresi sebagian masyarakat saat ini saat menyaksikan makin merajalelanya kasus korupsi di negeri ini. Bagaimana tidak kasus Century belum selesai tiba-tiba kasus mafia pajak memborbardir headline media massa. maka tema bagaimana memberantas perolaku korupsi di negeri ini kembali mencuat dari berbagai pihak.
Dalam artian secara umum korupsi diartikan sebagai, “the abuse of public office for private gain” yang berarti penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi atau sekelompok orang melalui cara yang bertentangan dengan hokum.
Sejatinya korupsi dalam sejarah manusia bukanlah sesuatu yang baru. Ia ada berbarengan dengan umur manusia itu sendiri. Ketika manusia hidup bermasyrakat maka disanalah awal perilaku korupsi terjadi. Sejarah duni telah menunjukkan kepada kita bahwa korupsi selalu menajdi masalah beasr bagi kehidupan bermasyarakat. Dia India 2300 – an tahun yang lalu seoarng perdana menteri Chandragupta telah menulis 40 cara untuk mencuru kekayaan negara., ini bukti perilaku korupsi telah ada begitu lama. Sedangkan di China ribuan tahun yang lalu telah menerapkan kebijakan yang di sebut dengan Yang – lian yaitu hadiah untuk pejabat negeri yang korup. Sedang sejarah Indonesia mencatat kehancuran VOC juga lewat jalur penyalahgunaan wewenang atau korupsi.
Indonesia Bangsa Korup?
Mantan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie pernah menyebut lebih dari Rp 300 triliun dana—baik dari penggelapan pajak, kebocoran APBN maupun penggelapan hasil sumberdaya alam—menguap masuk ke kantong para koruptor.
Beberapa tahun lalu Bappenas juga mengendus adanya kebocoran pada utang luar negeri, yang setiap tahunnya mencapai sekitar 20 persen dari total pinjaman yang diterima Pemerintah Indonesia. Dalam pandangan pengamat ekonomi Revrisond Baswir, kebocoran utang luar negeri ini merupakan hasil konspirasi Pemerintah dan lembaga kreditur.
Bentuk korupsi terhadap "uang panas" negara–untuk menyebut dana yang berasal dari utang–tidak hanya terhadap utang luar negeri, namun juga utang domestik dalam bentuk obligasi rekap bank-bank sebesar Rp 650 triliun. Kasus BLBI yang tek pernah usai, juga kasus Century yang masih belum jelas ujung [angkalnya serta kehebohan dalam kasus mafia pajak dengan actor Gayus Tambunan.
Melihat ini pemerintah bukannya diam saja banyak lembaga korupsi yang telah dibentuk untuk menanggulangi penyakit krisis ini. i) Operasi Militer pada tahun 1957, (ii) Tim Pemberantasan Korupsi pada tahun 1967, (iii) Operasi Tertib pada tahun 1977, (iv) Tim Optimalisasi Penerimaan Negara dari sektor pajak pada tahun 1987, (v) Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TKPTPK) pada tahun 1999 dan (vi) Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) pada tahun 2005. Yang kemudian di pamungkasi dengan pendirian KPK.
Sayangnya sampai saat ini korupsi masih menjadi momok besar dalam perjalanan bangsa ini. Walau sudah banyak lembaga dan kebijakan yang dibuat korupsi tetap saja merajalela bahkan sekarang semakin terang-terangan.
Ini bisa jadi karena KPK, sebagaimana yang diungkapkan oleh Teten Masduki, belum punya visi pemberantasan korupsi. Misalnya dari segi penegakan hukum, dari Global Corruption Barometer jelas-jelas menyatakan bahwa nenek moyang atau pusat bersarangnya korupsi di Indonesia berada di Parlemen, Pengadilan, dan Polisi.
Lima tahun terakhir ini Global Corruption Barometer menempatkan lembaga-lembaga tersebut sebagai biang kerok korupsi. Seharusnya ini yang menjadi guideline bagi KPK untuk mencegah dan memberantas kasus-kasus korupsi. Sehingg korupsi bisa di tekan seminimal mungkin dan tidak menjadi budaya akut di negeri ini.
Dalam artian secara umum korupsi diartikan sebagai, “the abuse of public office for private gain” yang berarti penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi atau sekelompok orang melalui cara yang bertentangan dengan hokum.
Sejatinya korupsi dalam sejarah manusia bukanlah sesuatu yang baru. Ia ada berbarengan dengan umur manusia itu sendiri. Ketika manusia hidup bermasyrakat maka disanalah awal perilaku korupsi terjadi. Sejarah duni telah menunjukkan kepada kita bahwa korupsi selalu menajdi masalah beasr bagi kehidupan bermasyarakat. Dia India 2300 – an tahun yang lalu seoarng perdana menteri Chandragupta telah menulis 40 cara untuk mencuru kekayaan negara., ini bukti perilaku korupsi telah ada begitu lama. Sedangkan di China ribuan tahun yang lalu telah menerapkan kebijakan yang di sebut dengan Yang – lian yaitu hadiah untuk pejabat negeri yang korup. Sedang sejarah Indonesia mencatat kehancuran VOC juga lewat jalur penyalahgunaan wewenang atau korupsi.
(lanjutan artikel) *****
Indonesia Bangsa Korup?
Mantan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie pernah menyebut lebih dari Rp 300 triliun dana—baik dari penggelapan pajak, kebocoran APBN maupun penggelapan hasil sumberdaya alam—menguap masuk ke kantong para koruptor.
Beberapa tahun lalu Bappenas juga mengendus adanya kebocoran pada utang luar negeri, yang setiap tahunnya mencapai sekitar 20 persen dari total pinjaman yang diterima Pemerintah Indonesia. Dalam pandangan pengamat ekonomi Revrisond Baswir, kebocoran utang luar negeri ini merupakan hasil konspirasi Pemerintah dan lembaga kreditur.
Bentuk korupsi terhadap "uang panas" negara–untuk menyebut dana yang berasal dari utang–tidak hanya terhadap utang luar negeri, namun juga utang domestik dalam bentuk obligasi rekap bank-bank sebesar Rp 650 triliun. Kasus BLBI yang tek pernah usai, juga kasus Century yang masih belum jelas ujung [angkalnya serta kehebohan dalam kasus mafia pajak dengan actor Gayus Tambunan.
Melihat ini pemerintah bukannya diam saja banyak lembaga korupsi yang telah dibentuk untuk menanggulangi penyakit krisis ini. i) Operasi Militer pada tahun 1957, (ii) Tim Pemberantasan Korupsi pada tahun 1967, (iii) Operasi Tertib pada tahun 1977, (iv) Tim Optimalisasi Penerimaan Negara dari sektor pajak pada tahun 1987, (v) Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TKPTPK) pada tahun 1999 dan (vi) Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) pada tahun 2005. Yang kemudian di pamungkasi dengan pendirian KPK.
Sayangnya sampai saat ini korupsi masih menjadi momok besar dalam perjalanan bangsa ini. Walau sudah banyak lembaga dan kebijakan yang dibuat korupsi tetap saja merajalela bahkan sekarang semakin terang-terangan.
Ini bisa jadi karena KPK, sebagaimana yang diungkapkan oleh Teten Masduki, belum punya visi pemberantasan korupsi. Misalnya dari segi penegakan hukum, dari Global Corruption Barometer jelas-jelas menyatakan bahwa nenek moyang atau pusat bersarangnya korupsi di Indonesia berada di Parlemen, Pengadilan, dan Polisi.
Lima tahun terakhir ini Global Corruption Barometer menempatkan lembaga-lembaga tersebut sebagai biang kerok korupsi. Seharusnya ini yang menjadi guideline bagi KPK untuk mencegah dan memberantas kasus-kasus korupsi. Sehingg korupsi bisa di tekan seminimal mungkin dan tidak menjadi budaya akut di negeri ini.
Senin, 03 Mei 2010
Indonesia yang lucu
Alhamdulillah sabtu kemaren (1/5/2010) saya berkesempatan menonton film karya Dedy Mizwar yang berjudul 'Alangkah Lucunya Negeri Ini'
seperti lazimnya film-film karya dedi mizwar sebelumnya film ini adalah film ringan namun berat akan hikmah dan pelajaran. lagi-lagi film dalam film ini Dedi Mizwar ingin mengajak kita merenung (atau menertawakan) diri sendiri melalui dunia hiburan.
film ini berkisah tentang 3 orang anak muda Muluk (Reza Rahadian)-putra Haji Makbul (Deddy Mizwar)-sarjana manajemen yang tak kunjung mendapat pekerjaan; ada Syamsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan yang sehari-hari main gaple; ada Pipit (Tika Bravani), putri Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), yang sehari-hari kerjanya cuma ikut tebakan kuis.
film ini coba menggugat kesadaran kita sebagai sebuah anak bangsa akan apa yang terjadi dengan kondisi negara nya. setting kondisi anak jalanan, yang diperankan oleh anak-anak yang rata-rata memang anak jalanan, yang menjadi pencopet lalu coba di sadarkan oleh seorang pemuda (muluk) untuk merubah anak-anak itu dengan menjadi seorang pengasong atau dalam artian dari mencari rejeki yang haram ke yang halal ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
terlebih kenyataan ketika anak-anak itu yang telah memutuskan untuk menjadi pengasong harus berhadapan dengan kejaran petugas satpol PP dalam hari pertamanya mengisyaratkan bahwa di negeri ini mencari yang halal sama susahnya dengan mencari yang haram. bahkan terkesan yang haram iru lebih mudah dan cepat membuat kita kaya
pada sosok syamsul kita diajak berpikir penting atau tidaknya pendidikan dalam kehidupan manusia. Syamsul yang seorang sarjana pendidikan trauma ketika untuk menjadi seoarng guru dia harus menyetor sejumlah uang dulu. dia merasa lalu buat apa pendidikan yang dia tempuh bila itu tidak menjadi landasan penilaian? dari sini dia mengambil kesimpulan ternyata pendidikan tidak penting yang penting adalah uang. ini juga yang ada dalam pikiran Haji Sarbini (jaja miharja) yang mengatakan bahwa mencari uang lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi, sebab banyak orang yang lulusan pendidikan tinggi namun masih aja menganggur.
lewat tokoh haji makbul dan haji rahmat, penonton coba diajak bahwa peran agama dalam kehidupan kita sangat penting sehingga kita tidak semena-mena dalam melakukan sesuatu. mereka coba memngajarkan bahwa hasil yang baik juga harus di lewati oleh proses yang baik.
walau film ini bersetting di sudut ibukota namun inilah realita yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan. banyaknya lulusan universitas yang menganggur atau yang tidak mendapat kerjaan sesuai dengan klasifikasinya. juga derita anak-anak jalanan yang seharusnya mendapatkan naungan dari pemerintah namun malah jadi 'musuh' pemerintah (adegan akhir film ini yang sungguh mencabik hati).
ya, film ini memang mengahak kita tertawa (tepatnya menertawakan diri sendiri) sambil tak lupa untuk berpikir.
NB : thanks to Wanda Hamidah dan Ciryl Raoul Hakim ( yang mentraktir tiket film ini) juga kepada kawan-kawan alumnus jakarta bergerak wibisono sastrodiwiryo, ferina, barnard, idhoy dan kwan lain yang tidak sempat hadir... semoga acara kedepan bisa kumpul lebih komplit
seperti lazimnya film-film karya dedi mizwar sebelumnya film ini adalah film ringan namun berat akan hikmah dan pelajaran. lagi-lagi film dalam film ini Dedi Mizwar ingin mengajak kita merenung (atau menertawakan) diri sendiri melalui dunia hiburan.
film ini berkisah tentang 3 orang anak muda Muluk (Reza Rahadian)-putra Haji Makbul (Deddy Mizwar)-sarjana manajemen yang tak kunjung mendapat pekerjaan; ada Syamsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan yang sehari-hari main gaple; ada Pipit (Tika Bravani), putri Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), yang sehari-hari kerjanya cuma ikut tebakan kuis.
film ini coba menggugat kesadaran kita sebagai sebuah anak bangsa akan apa yang terjadi dengan kondisi negara nya. setting kondisi anak jalanan, yang diperankan oleh anak-anak yang rata-rata memang anak jalanan, yang menjadi pencopet lalu coba di sadarkan oleh seorang pemuda (muluk) untuk merubah anak-anak itu dengan menjadi seorang pengasong atau dalam artian dari mencari rejeki yang haram ke yang halal ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
terlebih kenyataan ketika anak-anak itu yang telah memutuskan untuk menjadi pengasong harus berhadapan dengan kejaran petugas satpol PP dalam hari pertamanya mengisyaratkan bahwa di negeri ini mencari yang halal sama susahnya dengan mencari yang haram. bahkan terkesan yang haram iru lebih mudah dan cepat membuat kita kaya
pada sosok syamsul kita diajak berpikir penting atau tidaknya pendidikan dalam kehidupan manusia. Syamsul yang seorang sarjana pendidikan trauma ketika untuk menjadi seoarng guru dia harus menyetor sejumlah uang dulu. dia merasa lalu buat apa pendidikan yang dia tempuh bila itu tidak menjadi landasan penilaian? dari sini dia mengambil kesimpulan ternyata pendidikan tidak penting yang penting adalah uang. ini juga yang ada dalam pikiran Haji Sarbini (jaja miharja) yang mengatakan bahwa mencari uang lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi, sebab banyak orang yang lulusan pendidikan tinggi namun masih aja menganggur.
lewat tokoh haji makbul dan haji rahmat, penonton coba diajak bahwa peran agama dalam kehidupan kita sangat penting sehingga kita tidak semena-mena dalam melakukan sesuatu. mereka coba memngajarkan bahwa hasil yang baik juga harus di lewati oleh proses yang baik.
walau film ini bersetting di sudut ibukota namun inilah realita yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan. banyaknya lulusan universitas yang menganggur atau yang tidak mendapat kerjaan sesuai dengan klasifikasinya. juga derita anak-anak jalanan yang seharusnya mendapatkan naungan dari pemerintah namun malah jadi 'musuh' pemerintah (adegan akhir film ini yang sungguh mencabik hati).
ya, film ini memang mengahak kita tertawa (tepatnya menertawakan diri sendiri) sambil tak lupa untuk berpikir.
NB : thanks to Wanda Hamidah dan Ciryl Raoul Hakim ( yang mentraktir tiket film ini) juga kepada kawan-kawan alumnus jakarta bergerak wibisono sastrodiwiryo, ferina, barnard, idhoy dan kwan lain yang tidak sempat hadir... semoga acara kedepan bisa kumpul lebih komplit
Selasa, 01 Desember 2009
Aturan yang membunuh
“Gak bisa mas! Perempuan ini hamil di luar nikah jadi kami tidak bisa memberikan bantuan, ini sudah peraturan pemerintah!” kalimat ini yang saya dapat dari petugas Rumah Sakit ketika membantu seorang perempuan paruh baya menghadapi operasi Caesar kelahiran anak keduanya
“Jadi anaknya ini harus di apakan bu? Apakah dibiarkan mati saja?” argumen saya singkat, yang kemudian dilanjutkan oleh ibu petugas rumah sakit sambil membeberkan aturan-aturan perijinan bantuan untuk mereka yang tidak mampu.
Saat sang ibu petugas rumah sakit berbicara pikiran saya sudah tidak disana. Pikiran saya sudah terbang ke sebuah buku yang berkisah TELADAN TARBIYAH terbitan Aulia Press
Dalam buku itu mengisahkan tentang kisah seorang wanita dari bani ghomidiyah
wanita ini telah hamil karena zina dan merasa berdosa. dia mendatangi Rasul juga, meminta di rajam. untuk ke dua kalinya ia bertemu rasul ia berkata
“Ya Rasul lihatlah, aku hamil karena zina, kenapa aku kau suruh pulang sedangkan Ma’iz engkau sucikan? aku ingin membersihkan dosaku juga…”
Rasul pun mjwb ” Pulanglah, tunggu hingga bayimu lahir”
ia sangat lega dan terus menghitung hari menunggu kelahiran bayi. setelah lahir, ia segera menemui Rasul
“Ya Rasul, lihatlah aku sudah melahirkannya,sekaranghukumlah aku”
Rasul: ”Pulanglah, berilah hak bayimu dengan air susumu hingga kau menyapihnya”
setelah 2 tahun berlalu ia pun pergi menemui Rasul lagi dengan membawa bayinya yang memegang roti kering di salah satu tanganya.
“Ya Rasul lihatlah anak ku sudah bisa makan sendiri, jadi tolong sucikan aku”
kemudian Rasul megambil bayinya dan meminta sahabat merajamnya.
Dalam kisah ini kita menemukan Rasulullah saw, benar-benar menghargai nyawa bayi dalam kandungan. Beliau dengan kebijaksanaan dan kecermatan memandang situasi tidak langsung memberikan hukuman kepada sang wanita yang telah berzina. Beliau mempersilahkan sang wanita untuk menghadapi proses kelahiran janin yang dikandungnya, bahkan sampai sang anak terpenuhi hak-hak mendapatkan air susu sang ibu.
Berbeda dengan apa yang saya temui dari sang petugas rumah sakit dia dengan tegas mempermasalahkan sang wanita yang hamil di luar nikah. Dia tidak memandang ada kehidupan yang terancam jika sang ibu dibiarkan begitu saja. Seharusnya nyawa seorang manusia berharga penting jika dibandingkan dengan sekelumit aturan yang ada. Nyawa harus di dahulukan dibandingkan proses administratif. Hak manusia untuk hidup.
Seorang dokter bisa di ibaratkan seorang hakim dalam sebuah pengadilan. Maka dia harus pintar-pintar berimprovisasi dalam memutuskan suatu kondisi dan situasi darurat. Karena kondisi dan situasi tidak akan pernah sama dan datar-datar aja. Jadi selain kemampuan akademisi, nalar humanisme seorang dokter juga harus di kedepankan. Sehingga kedepan pelayanan terhadap keselamatan pasien menjadi patokan dan norma dalam kerjanya…
(Maaf, kalo catatannya gak asyik dibaca, di tulis di sela-sela menunggu di dinas kesehatan)
“Jadi anaknya ini harus di apakan bu? Apakah dibiarkan mati saja?” argumen saya singkat, yang kemudian dilanjutkan oleh ibu petugas rumah sakit sambil membeberkan aturan-aturan perijinan bantuan untuk mereka yang tidak mampu.
Saat sang ibu petugas rumah sakit berbicara pikiran saya sudah tidak disana. Pikiran saya sudah terbang ke sebuah buku yang berkisah TELADAN TARBIYAH terbitan Aulia Press
Dalam buku itu mengisahkan tentang kisah seorang wanita dari bani ghomidiyah
wanita ini telah hamil karena zina dan merasa berdosa. dia mendatangi Rasul juga, meminta di rajam. untuk ke dua kalinya ia bertemu rasul ia berkata
“Ya Rasul lihatlah, aku hamil karena zina, kenapa aku kau suruh pulang sedangkan Ma’iz engkau sucikan? aku ingin membersihkan dosaku juga…”
Rasul pun mjwb ” Pulanglah, tunggu hingga bayimu lahir”
ia sangat lega dan terus menghitung hari menunggu kelahiran bayi. setelah lahir, ia segera menemui Rasul
“Ya Rasul, lihatlah aku sudah melahirkannya,sekaranghukumlah aku”
Rasul: ”Pulanglah, berilah hak bayimu dengan air susumu hingga kau menyapihnya”
setelah 2 tahun berlalu ia pun pergi menemui Rasul lagi dengan membawa bayinya yang memegang roti kering di salah satu tanganya.
“Ya Rasul lihatlah anak ku sudah bisa makan sendiri, jadi tolong sucikan aku”
kemudian Rasul megambil bayinya dan meminta sahabat merajamnya.
Dalam kisah ini kita menemukan Rasulullah saw, benar-benar menghargai nyawa bayi dalam kandungan. Beliau dengan kebijaksanaan dan kecermatan memandang situasi tidak langsung memberikan hukuman kepada sang wanita yang telah berzina. Beliau mempersilahkan sang wanita untuk menghadapi proses kelahiran janin yang dikandungnya, bahkan sampai sang anak terpenuhi hak-hak mendapatkan air susu sang ibu.
Berbeda dengan apa yang saya temui dari sang petugas rumah sakit dia dengan tegas mempermasalahkan sang wanita yang hamil di luar nikah. Dia tidak memandang ada kehidupan yang terancam jika sang ibu dibiarkan begitu saja. Seharusnya nyawa seorang manusia berharga penting jika dibandingkan dengan sekelumit aturan yang ada. Nyawa harus di dahulukan dibandingkan proses administratif. Hak manusia untuk hidup.
Seorang dokter bisa di ibaratkan seorang hakim dalam sebuah pengadilan. Maka dia harus pintar-pintar berimprovisasi dalam memutuskan suatu kondisi dan situasi darurat. Karena kondisi dan situasi tidak akan pernah sama dan datar-datar aja. Jadi selain kemampuan akademisi, nalar humanisme seorang dokter juga harus di kedepankan. Sehingga kedepan pelayanan terhadap keselamatan pasien menjadi patokan dan norma dalam kerjanya…
(Maaf, kalo catatannya gak asyik dibaca, di tulis di sela-sela menunggu di dinas kesehatan)
Kamis, 19 November 2009
Di Budak Teknologi
“ aduh, maaf gw lagi gak bisa nulis lagi nih, coz laptop gw lagi bermasalah, jadi susah deh menuangkan ide-ide segar” kata seorang kawan beberapa hari yang lalu
Kata serupa saya dengar dari seorang wartawan yang suka mangkal di tempat saya bekerja, “gak enak nih communicator rusak jadi gak semangat nulis berita”
Dua kejadian diatas membuat saya tersadar bahwa teknologi di bebarapa kalangan atau orang sudah bergeser fungsinya, yang tadinya hanya sebagai alat pembantu manusia menjadi sesuatu yang harus ada. Saya yakin anda bisa membedakan antara alat bantu dengan alat yang harus ada. Jadi soal ini tidak usah dijelaskan lagi ya.
Cak Nun pernah menyingsung kondisi yang demikian dengan bahasa diperbudak teknologi. Ya, teknologi telah membuat kita sangat bergantungan. Bahkan bagi banyak orang teknologi udah ibarat nyawa. Jadi tidak heran bila banyak orang yang berteriak-teriak saat listrik mati. Ada yang mengeluhkan panas karena AC jadi mati, atau ada juga yang terganggu aktivitas dunia mayanya.
Dengan kecanggihan fungsinya, teknologi telah menjelma menjadi ‘monster’ baru dalam kehidupan manusia. Hidup terasa hampa dan tak bermakna ketika produk teknologi tidak dimiliki. Sehingga tidak salah banyak orang yang mati-matian memiliki gadget terbaru. Di tempat saya ada seorang penjual martabak kaki lima yang bela-belain punya HP model terbaru yang berharga 3 juta-an, yang dibeli dengan system kredit perhari seharga lima ribu rupiah, bayangin aja berapa belas bulan dia harus mencicil itu HP.
Nah, kembali ke masalah tulis-menulis, dua kisah yang pengantar diatas menyadarkan saya, bahwa aktivitas menulis tidaklah harus terganggu karena ketiadaan sarana yang selama ini menemani kita. Laptop dan Communicator atau teknologi semacamnya bukanlah patokan produktivitas apa yng kita hasilkan. Harus diingat yang pertama kali menemani kita merangkai kata adalah alat yang sederhana (entah itu buku ataupun tembok rumah)
Kita harus kembali membiasakan untuk selalu bisa berkarya dan menuliskan ide-ide kita dalam segala situasi dan kondisi. Ingat, sebuah ide segar tidak datang dua kali, biasanya akan mudah lepas begitu kita terlewat momentumnya. Sebuah ide bagi seorang perkarya ibarat kita melihat luncuran bintang diatas langit, sangat cepat lewatnya, hingga jika kita tidak fokus akan tidak tersadar dengan apa yang kita lewat.
Jadi, sebelum ide-ide segar anda terlewat, hayo tuangkan apa yang akan anda tulis. Ingat pake ape aje.....
Kata serupa saya dengar dari seorang wartawan yang suka mangkal di tempat saya bekerja, “gak enak nih communicator rusak jadi gak semangat nulis berita”
Dua kejadian diatas membuat saya tersadar bahwa teknologi di bebarapa kalangan atau orang sudah bergeser fungsinya, yang tadinya hanya sebagai alat pembantu manusia menjadi sesuatu yang harus ada. Saya yakin anda bisa membedakan antara alat bantu dengan alat yang harus ada. Jadi soal ini tidak usah dijelaskan lagi ya.
Cak Nun pernah menyingsung kondisi yang demikian dengan bahasa diperbudak teknologi. Ya, teknologi telah membuat kita sangat bergantungan. Bahkan bagi banyak orang teknologi udah ibarat nyawa. Jadi tidak heran bila banyak orang yang berteriak-teriak saat listrik mati. Ada yang mengeluhkan panas karena AC jadi mati, atau ada juga yang terganggu aktivitas dunia mayanya.
Dengan kecanggihan fungsinya, teknologi telah menjelma menjadi ‘monster’ baru dalam kehidupan manusia. Hidup terasa hampa dan tak bermakna ketika produk teknologi tidak dimiliki. Sehingga tidak salah banyak orang yang mati-matian memiliki gadget terbaru. Di tempat saya ada seorang penjual martabak kaki lima yang bela-belain punya HP model terbaru yang berharga 3 juta-an, yang dibeli dengan system kredit perhari seharga lima ribu rupiah, bayangin aja berapa belas bulan dia harus mencicil itu HP.
Nah, kembali ke masalah tulis-menulis, dua kisah yang pengantar diatas menyadarkan saya, bahwa aktivitas menulis tidaklah harus terganggu karena ketiadaan sarana yang selama ini menemani kita. Laptop dan Communicator atau teknologi semacamnya bukanlah patokan produktivitas apa yng kita hasilkan. Harus diingat yang pertama kali menemani kita merangkai kata adalah alat yang sederhana (entah itu buku ataupun tembok rumah)
Kita harus kembali membiasakan untuk selalu bisa berkarya dan menuliskan ide-ide kita dalam segala situasi dan kondisi. Ingat, sebuah ide segar tidak datang dua kali, biasanya akan mudah lepas begitu kita terlewat momentumnya. Sebuah ide bagi seorang perkarya ibarat kita melihat luncuran bintang diatas langit, sangat cepat lewatnya, hingga jika kita tidak fokus akan tidak tersadar dengan apa yang kita lewat.
Jadi, sebelum ide-ide segar anda terlewat, hayo tuangkan apa yang akan anda tulis. Ingat pake ape aje.....
Rabu, 18 November 2009
Menulislah Maka Kau Membuat Sejarah
Seorang teman senyum-senyum sendiri, ketika melihat postingan lama di blognya. Seolah bergumam kata-kata kecil keluar dari mulutnya ketika sampai di kepingan-kepingan kisah yang ditulisnya ke dalam rangkaian kata.
Disinilah apa yang dimaksud oleh pak Hernowo, sebagaimana tercatat dalam buku terbarunya Mengikat Makna Update, aktivitas menulis sebagai kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan menjadi benar adanya.
Dengan kata lain bisa disebut dengan melakukan aktivitas menulis kita sedang membuat sejarah! Ya, sejarah tentang apa yang kita tulis saat ini dan akan di baca di masa yang akan datang. Sejarah yang akan menceritakan kepada mereka yang lahir kemudian.
Sadar atau tidak sadar sebuah sejarah diketahui melalui guratan-guratan apa yang didokumentasikan oleh sang pelakunya. Begitulah buku catatan soe hok gie mampu menggambarkan sejarah dalam masanya yang masih bisa dibaca hingga masa kini. Atau kumpulan catatan harian Anne Frank yang menulis peristiwa ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat temannya di Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II, yang mampu menciptakan sejarah dari apa yang dilihat dan ditulisnya.
Atau kalo kita mau mundur kebelakang, banyak benda-benda bersejarah ketahuan asal-usulnya berdasarkan prasasti yang menjelaskan peninggalan sejarah itu terbuat tahun berapa, zaman kerajaan apa dan dalam situasi apa, dan ini terbawa sampai sekarang dimana dalam setiap pendirian bangun yang penting selalu di buat prasasti yang mendokumentasikan kapan bangunan ini dibuat dan siapa yang meresmikan.
Saking pentingnya aktivitas menulis seorang sejarahwan, Ahmad Mansyur Suryanegara, sampai harus mengingatkan kepada umat islam untuk tidak meninggalkan aktivitas menulis. Dalam bukunya Api Sejarah ia menjelaskan bahwa banyaknya fakta sejarah perjalanan Islam di Indonesia yang hilang akibat banyak peristiwa yang ketika itu tidak tercatat dan terekam dengan baik.
Jadi jangan ragu untuk menulis walaupun itu sebuah buku harian saja. Percayalah berharganya sebuah buku harian bukan pada saat di tuliskan tetapi pada saat kita ingin mengingat moment-moment apa yang ingin kita ulang.
Nah, bila dengan menulis maka kita sedang membuat sejarah maka yang harus menjadi modal adalah kejujuran tentang apa yang kita tuliskan. Lain hal jika anda ingin membuat kisah atau cerita fiksi. Kejujuran isi tulisan menjadi factor penting apa yang akan kita tulis, ini agar tidak tercipta distorsi mereka yang membaca.
Jadi, selamat menulis….
Disinilah apa yang dimaksud oleh pak Hernowo, sebagaimana tercatat dalam buku terbarunya Mengikat Makna Update, aktivitas menulis sebagai kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan menjadi benar adanya.
Dengan kata lain bisa disebut dengan melakukan aktivitas menulis kita sedang membuat sejarah! Ya, sejarah tentang apa yang kita tulis saat ini dan akan di baca di masa yang akan datang. Sejarah yang akan menceritakan kepada mereka yang lahir kemudian.
Sadar atau tidak sadar sebuah sejarah diketahui melalui guratan-guratan apa yang didokumentasikan oleh sang pelakunya. Begitulah buku catatan soe hok gie mampu menggambarkan sejarah dalam masanya yang masih bisa dibaca hingga masa kini. Atau kumpulan catatan harian Anne Frank yang menulis peristiwa ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat temannya di Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II, yang mampu menciptakan sejarah dari apa yang dilihat dan ditulisnya.
Atau kalo kita mau mundur kebelakang, banyak benda-benda bersejarah ketahuan asal-usulnya berdasarkan prasasti yang menjelaskan peninggalan sejarah itu terbuat tahun berapa, zaman kerajaan apa dan dalam situasi apa, dan ini terbawa sampai sekarang dimana dalam setiap pendirian bangun yang penting selalu di buat prasasti yang mendokumentasikan kapan bangunan ini dibuat dan siapa yang meresmikan.
Saking pentingnya aktivitas menulis seorang sejarahwan, Ahmad Mansyur Suryanegara, sampai harus mengingatkan kepada umat islam untuk tidak meninggalkan aktivitas menulis. Dalam bukunya Api Sejarah ia menjelaskan bahwa banyaknya fakta sejarah perjalanan Islam di Indonesia yang hilang akibat banyak peristiwa yang ketika itu tidak tercatat dan terekam dengan baik.
Jadi jangan ragu untuk menulis walaupun itu sebuah buku harian saja. Percayalah berharganya sebuah buku harian bukan pada saat di tuliskan tetapi pada saat kita ingin mengingat moment-moment apa yang ingin kita ulang.
Nah, bila dengan menulis maka kita sedang membuat sejarah maka yang harus menjadi modal adalah kejujuran tentang apa yang kita tuliskan. Lain hal jika anda ingin membuat kisah atau cerita fiksi. Kejujuran isi tulisan menjadi factor penting apa yang akan kita tulis, ini agar tidak tercipta distorsi mereka yang membaca.
Jadi, selamat menulis….
Senin, 02 November 2009
Mens Sana In Corpore Sano
Masih ingat dengan pepatah romawi, Men sana in corpore sano? Pastinya kita masih ingat. Di Sekolah Dasar dulu dalam mata pelajaran Penjaskes pepatah ini sering keluar dalam soal-soal ulangan. Pepatah ini berarti dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.
Namun, benarkah pepatah ini masih relevan pada saat ini? Terlebih kalau kita kaitkan dengan dunia olahraga atau mereka yang sering melakukan olahraga. Sejatinya bila merujuk pepatah ini, mereka yang gemar berolahraga pastinya selaih memiliki tubuh yang kuat dan sehat juga memiliki sikap jiwa dan mental yang sehat pula.
Sayangnya, dalam pengamatan dan dunia nyata, pepatah ini sudah sangat tidak relevan. Banyak orang yang berolahraga, karenanya ia berbadan sehat dan kuat tetapi sayangnya memiliki sikap jiwa yang rusak, busuk, amoral dan lainnya.
Betapa tidak dalam dunia olahrga kini hal-hal seperti doping, pemalsuan umur, suap-menyuap dan segala sifat buruk lainnya sudah sangat susah dipisahkan. Sifat-sifat itu sudah melebur hingga bisa dibilang hal yang biasa dan lumrah. Di dalam negeri saja, kericuhan antar pemain sepakbola, yang seharusnya mereka bisa menerima apapun hasil yang didapat, telah menjadi hal lumrah yang kadang dicari oleh penonton itu sendiri. Wasit sudah tidak mendapat tempat sebagai sang pengadil. Mereka dilecehkan. Sebaliknya terkadang wasit juga menjadi satu bagian dari konspirasi pertandingan. Bukti bahwa insan-insan olahraga telah kehilangan jiwa yang sehat.
Yang parah adalah ketika sarana-sarana olahraga dijadikan tempat oleh para pejabat, politisi maupun mereka yang memegang kekuasaan sebagai tempat meloby dan menciptakan kebijakan-kebijakan aneh. Sudah tidak asing kalau para pejabat bermain tenis dan golf, maka besoknya ada kebijakan-kebijakan aneh.
Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. Hasil sudah menjadi tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.
Inilah dunia era modern dimana kesuksesan dan kemenangan telah menjadi berhala baru. Padahal agama manapun menolak kemenangan sebagai berhala. Disaat inilah apa yang pernah dikatakan Pieree de Coubertin, tokoh dalam Olimpiade 1896, “Yang paling penting dalam Olympiade bukanlah untuk menang. Melainkan untuk mengambil bagian” patut untuk kembali direnungkan.
Namun, benarkah pepatah ini masih relevan pada saat ini? Terlebih kalau kita kaitkan dengan dunia olahraga atau mereka yang sering melakukan olahraga. Sejatinya bila merujuk pepatah ini, mereka yang gemar berolahraga pastinya selaih memiliki tubuh yang kuat dan sehat juga memiliki sikap jiwa dan mental yang sehat pula.
Sayangnya, dalam pengamatan dan dunia nyata, pepatah ini sudah sangat tidak relevan. Banyak orang yang berolahraga, karenanya ia berbadan sehat dan kuat tetapi sayangnya memiliki sikap jiwa yang rusak, busuk, amoral dan lainnya.
Betapa tidak dalam dunia olahrga kini hal-hal seperti doping, pemalsuan umur, suap-menyuap dan segala sifat buruk lainnya sudah sangat susah dipisahkan. Sifat-sifat itu sudah melebur hingga bisa dibilang hal yang biasa dan lumrah. Di dalam negeri saja, kericuhan antar pemain sepakbola, yang seharusnya mereka bisa menerima apapun hasil yang didapat, telah menjadi hal lumrah yang kadang dicari oleh penonton itu sendiri. Wasit sudah tidak mendapat tempat sebagai sang pengadil. Mereka dilecehkan. Sebaliknya terkadang wasit juga menjadi satu bagian dari konspirasi pertandingan. Bukti bahwa insan-insan olahraga telah kehilangan jiwa yang sehat.
Yang parah adalah ketika sarana-sarana olahraga dijadikan tempat oleh para pejabat, politisi maupun mereka yang memegang kekuasaan sebagai tempat meloby dan menciptakan kebijakan-kebijakan aneh. Sudah tidak asing kalau para pejabat bermain tenis dan golf, maka besoknya ada kebijakan-kebijakan aneh.
Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. Hasil sudah menjadi tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.
Inilah dunia era modern dimana kesuksesan dan kemenangan telah menjadi berhala baru. Padahal agama manapun menolak kemenangan sebagai berhala. Disaat inilah apa yang pernah dikatakan Pieree de Coubertin, tokoh dalam Olimpiade 1896, “Yang paling penting dalam Olympiade bukanlah untuk menang. Melainkan untuk mengambil bagian” patut untuk kembali direnungkan.
Kamis, 29 Oktober 2009
Kalau Mandeg Nulis ya, Jangan Dipaksakan
Seseorang pasti pernah mengalami titik jenuh ketika menjalani aktivitas yang dilakukannya. Tak terkecuali aktivitas itu yang paling sangat disukai dan digemarinya. Begitu juga dalam aktivitas menulis. Kita pasti akan merasakan sebuah titik dimana ada rasa jenuh atau ketika berada dalam kemandegan produktivitas menulis. Rasa ini tidak salah juga tidak berhak disalahkan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Salah dalam penyikapan maka akan salah juga dalam langkah selanjutnya. Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan saat aktivitas menulis kita mandeg di tengah jalan.
Pertama, Alihkan sejenak aktivitas menulis kita ke dalam aktivitas membaca, silakan membaca buku-buku atau majalah, Koran dan yang lainnya, ada baiknya apa yang kita baca juga satu tema dengan apa yang sedang kita tulis hingga kita bisa menambah daftar referensi baru yang dapat digunakan saat gairah menulis kita timbul lagi.
Kedua, refreshing keluar. Gak harus keluar kota apalagi sampe harus ke luar negeri. Cukup keluar rumah aja, silaturahmi dengan tetangga atau teman-teman sekitar. Bagus juga apabila kita bisa mengunjungi tempat-tempat favorit yang bisa menimbulkan inspirasi baru bagi kativita smenulis kita, museum atau tempat-tempat bersejarah lainnya.
Ketiga, bisa juga kesempatan ini dipakai untuk mengkoreksi apa yang sedang atau sudah kita tulis sebelumnya. Membetulkan ketikan dan yang lainnya. Biasanya dalam proses ini secara tidak sadar kita akan terbawa dalam aktivitas tulis-menulis lagi.
Keempat, browsing internet, buka-buka blog atau web kawan-kawan yang biasa menulis atau penulis terkenal sekalipun. Baca tulisan mereka, pelajari gaya tulis mereka lalu bandingkan dengan gaya tulis kita. Dimana kelebihan mereka maka itu bisa kita ambil sebagai pelajaran..
Nah, kira-kira itu beberapa tips yang biasa saya lakukan saat aktivitas tulis menulis mandeg di tengah jalan. Kalo ada yang punya tips lain silakan aja berbagi….
Pertama, Alihkan sejenak aktivitas menulis kita ke dalam aktivitas membaca, silakan membaca buku-buku atau majalah, Koran dan yang lainnya, ada baiknya apa yang kita baca juga satu tema dengan apa yang sedang kita tulis hingga kita bisa menambah daftar referensi baru yang dapat digunakan saat gairah menulis kita timbul lagi.
Kedua, refreshing keluar. Gak harus keluar kota apalagi sampe harus ke luar negeri. Cukup keluar rumah aja, silaturahmi dengan tetangga atau teman-teman sekitar. Bagus juga apabila kita bisa mengunjungi tempat-tempat favorit yang bisa menimbulkan inspirasi baru bagi kativita smenulis kita, museum atau tempat-tempat bersejarah lainnya.
Ketiga, bisa juga kesempatan ini dipakai untuk mengkoreksi apa yang sedang atau sudah kita tulis sebelumnya. Membetulkan ketikan dan yang lainnya. Biasanya dalam proses ini secara tidak sadar kita akan terbawa dalam aktivitas tulis-menulis lagi.
Keempat, browsing internet, buka-buka blog atau web kawan-kawan yang biasa menulis atau penulis terkenal sekalipun. Baca tulisan mereka, pelajari gaya tulis mereka lalu bandingkan dengan gaya tulis kita. Dimana kelebihan mereka maka itu bisa kita ambil sebagai pelajaran..
Nah, kira-kira itu beberapa tips yang biasa saya lakukan saat aktivitas tulis menulis mandeg di tengah jalan. Kalo ada yang punya tips lain silakan aja berbagi….
Kamis, 02 Juli 2009
Jacko dan hakikat kematian
beragam sikap dan komentar yang bermunculan menanggapi berita kematian sang superstar Michael Jackson. ada yang gak percaya dengan alasan belum melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, ya kalo mau lihat pesen dah tiket ke LA dan liat tuh acara pemakaman sang bintang. juga ada yang shock karena dalam waktu dekat sang mega bintang dijadwalkan akan mengadakan tur ke 50 kota di Amerika Serikat.ada juga yang terus asyik berpolemik seputar hal apa yang menyebabkan sang megabintang menemui ajalnya.
namun yang pasti artikel ini tidak akan membahas tentang apa yang disebutkan diatas. kisah kematian michael Jackson hanya dijadikan sebgai pengantar untuk memasuki tema seputar kematian. tema yang pastinya akan sangat jarang dibicarakan orang banyak.sebab memang naluri manusia itu ingin hidup selama-lamanya dia bisa hidup. bahkan ada yang rela membuat ramuan untuk memperpanjang usia. loh jangankan berbicara kematian berbicara usia tua aja manusia enggan.
tapi mau gak mau, sadar gak sadar, rela gak rela, yang namanya manusia pasti akan mati. bahkan manusia besar pemimpin manusia Rasulullah saw, harus bertemu dengan yang namanya kematian. tentang hal ini Al-Qur'an telah menegasakan,
"Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" (QS. Ali Imran: 185)
jadi yang namanya kematian adalah sebuah fakta. kematian juga satu paket dengan yang namanya kehidupan. jadi, siapapun anda, dimanapun anda yang namanya kematian akan menghampiri anda.
jika kita telah sepakat bahwa kemtian adalah sebuah kepastian, maka pertanyaan besarnya adalah apakah kematian itu adalah akhir perjalanan manusia, selesai sampai disini? soal ini yang memang selalu menjadi perdebatan setiap orang. namun sebagai seorang muslim pastinya kita diwajibkan untuk mengimani apa yang dinamakan dengan hari akhirat atau hari pembalasan. jadi bagi kita yang terlahir sebagai seorang muslim harus yakin bahwa kematian bukanlah akhir periode kehidupan manusia, malah ini merupakan awal untuk periode selanjutnya.
dalam bukunya wawasan Al-Qur'an Prof. Quraish Sihab menuliskan, "agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah kematian. kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan"
namun begitu masih banyak orang yang meragukan akan adanya hari akhirat. bahkan Al-Qur'an telah mengisahkan hal yang demikian kepada kita,
"Mereka berkata: 'Ia (hidup ini) tidak lain kecuali kehidupan kita di dunia (saja) dan kita tidak akan dibangkitkan" (Qs. Al-An'Am: 29)
bahkan dalam ayat lainnya ada penolakan yang lebih tegas,
"Mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati" (QS. Al-Nahl : 29) tetapi semua itu dibantah dengan telak oleh Allah swt, "Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalain kami terhadap hari kiamat"; sambil mereka memikul dosa-dosa mereka di atasa punggung mereka. sungguh amat buruk apa yang mereka pikul itu" (QS: Al-An'Am:31)
jadi dengan kata lain setelah kematian, kehidupan manusia belum berakhir ada masa pengadilan yang akan menentukan posisi kita selanjutnya mau di neraka atau surga maka pertanyaan yang muncul adalah sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk fase yang berat ini? ini yang sekarang harus kita jawab. rumusnya gampang dan sederhana bila kita mau hidup enak dan masuk ke dalam surga di kehidupan setelah kematian maka Taqwa dan meninggalkan maksiat kepada-Nya harus dilaksanakan oiya jangan lupa bertaubat dari segala dosa-dosa yang kita lakukan. begitu pula ketika kita mau merasakan kepedihan di dalam neraka nanti maka terus dan rajinlah bermaksiat kepada-Nya. jadi sekarang bolanya ada di diri kita sendiri. maka segera ambil pilihan mana yang kita suka......
namun yang pasti artikel ini tidak akan membahas tentang apa yang disebutkan diatas. kisah kematian michael Jackson hanya dijadikan sebgai pengantar untuk memasuki tema seputar kematian. tema yang pastinya akan sangat jarang dibicarakan orang banyak.sebab memang naluri manusia itu ingin hidup selama-lamanya dia bisa hidup. bahkan ada yang rela membuat ramuan untuk memperpanjang usia. loh jangankan berbicara kematian berbicara usia tua aja manusia enggan.
tapi mau gak mau, sadar gak sadar, rela gak rela, yang namanya manusia pasti akan mati. bahkan manusia besar pemimpin manusia Rasulullah saw, harus bertemu dengan yang namanya kematian. tentang hal ini Al-Qur'an telah menegasakan,
"Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" (QS. Ali Imran: 185)
jadi yang namanya kematian adalah sebuah fakta. kematian juga satu paket dengan yang namanya kehidupan. jadi, siapapun anda, dimanapun anda yang namanya kematian akan menghampiri anda.
jika kita telah sepakat bahwa kemtian adalah sebuah kepastian, maka pertanyaan besarnya adalah apakah kematian itu adalah akhir perjalanan manusia, selesai sampai disini? soal ini yang memang selalu menjadi perdebatan setiap orang. namun sebagai seorang muslim pastinya kita diwajibkan untuk mengimani apa yang dinamakan dengan hari akhirat atau hari pembalasan. jadi bagi kita yang terlahir sebagai seorang muslim harus yakin bahwa kematian bukanlah akhir periode kehidupan manusia, malah ini merupakan awal untuk periode selanjutnya.
dalam bukunya wawasan Al-Qur'an Prof. Quraish Sihab menuliskan, "agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah kematian. kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan"
namun begitu masih banyak orang yang meragukan akan adanya hari akhirat. bahkan Al-Qur'an telah mengisahkan hal yang demikian kepada kita,
"Mereka berkata: 'Ia (hidup ini) tidak lain kecuali kehidupan kita di dunia (saja) dan kita tidak akan dibangkitkan" (Qs. Al-An'Am: 29)
bahkan dalam ayat lainnya ada penolakan yang lebih tegas,
"Mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati" (QS. Al-Nahl : 29) tetapi semua itu dibantah dengan telak oleh Allah swt, "Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalain kami terhadap hari kiamat"; sambil mereka memikul dosa-dosa mereka di atasa punggung mereka. sungguh amat buruk apa yang mereka pikul itu" (QS: Al-An'Am:31)
jadi dengan kata lain setelah kematian, kehidupan manusia belum berakhir ada masa pengadilan yang akan menentukan posisi kita selanjutnya mau di neraka atau surga maka pertanyaan yang muncul adalah sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk fase yang berat ini? ini yang sekarang harus kita jawab. rumusnya gampang dan sederhana bila kita mau hidup enak dan masuk ke dalam surga di kehidupan setelah kematian maka Taqwa dan meninggalkan maksiat kepada-Nya harus dilaksanakan oiya jangan lupa bertaubat dari segala dosa-dosa yang kita lakukan. begitu pula ketika kita mau merasakan kepedihan di dalam neraka nanti maka terus dan rajinlah bermaksiat kepada-Nya. jadi sekarang bolanya ada di diri kita sendiri. maka segera ambil pilihan mana yang kita suka......
Rabu, 01 Juli 2009
Drama Adu Penalty Moment Bagi Kiper Unjuk Diri…
Bagi penggemar sepakbola pasti sudah familiar dengan istilah Adu Penalty, dulu kita mengenalnya dengan nama tos-tosan. Agak aneh emang, sebab yang namanya to situ biasanya memakai tangan bukan dengan cara menendang bola, tapi kadung udah membudaya ya udah itu tidak harus menjadi persoalan.
Adu Penalty terjadi bila dalam babak normal 2 x 45 menit hasil pertandingan masih imbang kemudian dilanjutkan dengan babak pertambahan waktu 2 x 15 menit masih juga belum ada pemenang maka babak adu penalty harus dilakukan untuk dicari pemenang. Awalnya masing-masing tim menyiapkan 5 algojo penendang plus kiper yang bertugas menjaga gawang. Bila kelima penendang dari masing-masing kesebelasan sudah melaksanakan tugas tetapi hasil masih juga sama, maka dilanjutkan dengan penendangn tambahan hingga terjadi selisih angka.
Adu penalty sebenarnya sangat dihindari oleh setiap tim yang bertanding, sebab disini strategi dan taktik sudah tidak berlaku lagi. Dalam beberapa moment keajaiban atau dewi fortuna lebih banyak menjadi factor penentu kemenangan. Makanya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia sempat membahas untuk menghapus system ini dari pertandingan sepakbola.
Tapi dalam babak adu penalty ada satu posisi yang akan menjadi obrolan dan perbincangan. Dalam pertandingan normal posisi ini biasanya jarang di jadikan pembahasan tetapi ketika babak adu penalty semua perhatian akan menuju ke sati sisi ini. Yap, itu adalah peran sang penjaga gawang. Bila dalam pertandingan normal penjaga gawang selalu kalah pamornya dari posisi lain seperti striker atau gelandang. Namun saat adu penalty penjaga gawang biasanya sering menjadi factor penentu kemenangan sebuah tim.
Banyak nama yang besar dan terkenal setelah melalui babak adu penalty sebut saja nama penjaga gawang Argentina di Piala Dunia 1990 Sergio Goycochea (moga-moga benar ejaannya, habis udah lama bangat … heheheh) awalanya tidak ada yang mengenal nama ini, dia hanyalah kiper pengganti dari penjaga gawang utama Argentina yang cedera dalam salah satu pertandingan. Namun kehebatannya dalam menghadang tendangan penalty mulai melejitkan namanya.
Dalam moment adu penalty pula Tim Howard kiper nasional AS dan pilar di klub Inggris Everton menjadi bahan perbincangan. Aksinya menahan tendangan-tendangan pemain Manchester United dalam babak semifinal piala FA berhasil meloloskan Everton ke final piala FA.
Begitu juga dengan Jerzy Dudek yang akan selalu diingat oleh fans Liverpool karena aksi gemilangnya dalam drama adu penalty saat mengalahkan AC Milan dalam final liga champion 2005.Bahkan sebelum drama adu penalti, Dudek juga berhasil menggagalkan tendangan Andriy Shevchenko yang bisa menjadi neraka bagi The Reds di perpanjangan waktu.
Lalu siapa yang mengenal nama Hendra Prasetya? Sebelum ini kita memang belum mengenalnya namun dalam pertandingan Playoff Indonesia Super League ketika Persebaya berhadapan dengan PSMS Medan, seluruh penggemar bola mulai mengenalnya. Dia adalah penjaga gawang Persebaya Surabaya yang sukses menggagalkan tendangan dua pilar PSMS, Zada dan oktaviani, hingga akhirnya mengantarkan Persebaya memasuiki kasta tertinggi sepakbola Indonesia.
Saya yakin selama ini public sepakbola Indonesia bila menyebut Persebaya akan selalu tertuju ke nama-nama seperti Anang Ma’ruf, Mat Halil, M. Taufik, Jairon Feliciano atau pemain muda Andik. Jarang kita akan menyebut nama Hendra. Namun aksinya semalam saya yakin akan membuat public sepakbola Indonesia terlebih Bonek ( Fans berat Persebaya) akan lebih mengingatnya. Maka bias jadi ditengah ketidakpercayaan pemain PSMS harus kalah lewat babak adu penalty Hendra akan bersyukur dengan adanya babk tersebut.
Adu Penalty terjadi bila dalam babak normal 2 x 45 menit hasil pertandingan masih imbang kemudian dilanjutkan dengan babak pertambahan waktu 2 x 15 menit masih juga belum ada pemenang maka babak adu penalty harus dilakukan untuk dicari pemenang. Awalnya masing-masing tim menyiapkan 5 algojo penendang plus kiper yang bertugas menjaga gawang. Bila kelima penendang dari masing-masing kesebelasan sudah melaksanakan tugas tetapi hasil masih juga sama, maka dilanjutkan dengan penendangn tambahan hingga terjadi selisih angka.
Adu penalty sebenarnya sangat dihindari oleh setiap tim yang bertanding, sebab disini strategi dan taktik sudah tidak berlaku lagi. Dalam beberapa moment keajaiban atau dewi fortuna lebih banyak menjadi factor penentu kemenangan. Makanya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia sempat membahas untuk menghapus system ini dari pertandingan sepakbola.
Tapi dalam babak adu penalty ada satu posisi yang akan menjadi obrolan dan perbincangan. Dalam pertandingan normal posisi ini biasanya jarang di jadikan pembahasan tetapi ketika babak adu penalty semua perhatian akan menuju ke sati sisi ini. Yap, itu adalah peran sang penjaga gawang. Bila dalam pertandingan normal penjaga gawang selalu kalah pamornya dari posisi lain seperti striker atau gelandang. Namun saat adu penalty penjaga gawang biasanya sering menjadi factor penentu kemenangan sebuah tim.
Banyak nama yang besar dan terkenal setelah melalui babak adu penalty sebut saja nama penjaga gawang Argentina di Piala Dunia 1990 Sergio Goycochea (moga-moga benar ejaannya, habis udah lama bangat … heheheh) awalanya tidak ada yang mengenal nama ini, dia hanyalah kiper pengganti dari penjaga gawang utama Argentina yang cedera dalam salah satu pertandingan. Namun kehebatannya dalam menghadang tendangan penalty mulai melejitkan namanya.
Dalam moment adu penalty pula Tim Howard kiper nasional AS dan pilar di klub Inggris Everton menjadi bahan perbincangan. Aksinya menahan tendangan-tendangan pemain Manchester United dalam babak semifinal piala FA berhasil meloloskan Everton ke final piala FA.
Begitu juga dengan Jerzy Dudek yang akan selalu diingat oleh fans Liverpool karena aksi gemilangnya dalam drama adu penalty saat mengalahkan AC Milan dalam final liga champion 2005.Bahkan sebelum drama adu penalti, Dudek juga berhasil menggagalkan tendangan Andriy Shevchenko yang bisa menjadi neraka bagi The Reds di perpanjangan waktu.
Lalu siapa yang mengenal nama Hendra Prasetya? Sebelum ini kita memang belum mengenalnya namun dalam pertandingan Playoff Indonesia Super League ketika Persebaya berhadapan dengan PSMS Medan, seluruh penggemar bola mulai mengenalnya. Dia adalah penjaga gawang Persebaya Surabaya yang sukses menggagalkan tendangan dua pilar PSMS, Zada dan oktaviani, hingga akhirnya mengantarkan Persebaya memasuiki kasta tertinggi sepakbola Indonesia.
Saya yakin selama ini public sepakbola Indonesia bila menyebut Persebaya akan selalu tertuju ke nama-nama seperti Anang Ma’ruf, Mat Halil, M. Taufik, Jairon Feliciano atau pemain muda Andik. Jarang kita akan menyebut nama Hendra. Namun aksinya semalam saya yakin akan membuat public sepakbola Indonesia terlebih Bonek ( Fans berat Persebaya) akan lebih mengingatnya. Maka bias jadi ditengah ketidakpercayaan pemain PSMS harus kalah lewat babak adu penalty Hendra akan bersyukur dengan adanya babk tersebut.
Jumat, 08 Mei 2009
Politik tanpa Kritik
Hingar bingar dunia politik kini tengah mewarnai berbagai macam media di Indonesia, baik media cetak maupun elektronik. Ini tidak terlepas dari digelarnya Pemilu 2009. setelah pemilu legislatif selesai, maka kini para partai tengah seibuk menggalang koalisi untuk menuju pemiliah presiden dan wakil presidennya.
Para partai tengah asyik melobi kesana-kemari untuk membangun koalisi. Semua skenario masih bisa terjadi sampai adanya kepastian dalam bentuk deklarasi pasangan capres dan cawapres. Tapi sayang disini ada yang terlupa, seluruh partai siap-siap untuk menjadi penguasa, mereka melupakan satu peran penting yang seharusnya juga ada yang mengisi yaitu peran menjadi OPOSISI
Yap, berbicara mengenai oposisi adalah berbicara barang mahal di dalam jagad politik Indonesia. Oposisi ibarat tidak boleh dan sesuatu yang tidak bermanfaat. Oposisi sering dianggap tidak tepat dengan budaya timur yang santun. Padahal dalam alam demokrasi yang sehat Oposisi merupakan suatu keharusan.
Tidak ada pemerintahan yang benar-benar sempurna walaupun ia dipilih oleh mayoritas orang. Makanya dibutuhkan pembanding yang seharusnya lahir dari partai-partai politik yang memang bermain didalamnya. Memang telah ada oposisi dari luar seperti LSM dan yang lainnya namun, peran itu tidak sekuat ketika Partai politik yang mengambil peran itu. Tetapi sayangnya banyak partai yang belum menyadari hal itu.
Maka itu diharapkan dalam Pemilu 2009 ini bagi partai yang tidak berhasil meloloskan jagonya menjadi pemegang eksekutif, ada yang mengambil peran sebagai oposisi, yang bisa menjadi pembanding pemerintah yang berkuasa. Agar plotik ini menjadi politik yang terbuka akan kritik.
Para partai tengah asyik melobi kesana-kemari untuk membangun koalisi. Semua skenario masih bisa terjadi sampai adanya kepastian dalam bentuk deklarasi pasangan capres dan cawapres. Tapi sayang disini ada yang terlupa, seluruh partai siap-siap untuk menjadi penguasa, mereka melupakan satu peran penting yang seharusnya juga ada yang mengisi yaitu peran menjadi OPOSISI
Yap, berbicara mengenai oposisi adalah berbicara barang mahal di dalam jagad politik Indonesia. Oposisi ibarat tidak boleh dan sesuatu yang tidak bermanfaat. Oposisi sering dianggap tidak tepat dengan budaya timur yang santun. Padahal dalam alam demokrasi yang sehat Oposisi merupakan suatu keharusan.
Tidak ada pemerintahan yang benar-benar sempurna walaupun ia dipilih oleh mayoritas orang. Makanya dibutuhkan pembanding yang seharusnya lahir dari partai-partai politik yang memang bermain didalamnya. Memang telah ada oposisi dari luar seperti LSM dan yang lainnya namun, peran itu tidak sekuat ketika Partai politik yang mengambil peran itu. Tetapi sayangnya banyak partai yang belum menyadari hal itu.
Maka itu diharapkan dalam Pemilu 2009 ini bagi partai yang tidak berhasil meloloskan jagonya menjadi pemegang eksekutif, ada yang mengambil peran sebagai oposisi, yang bisa menjadi pembanding pemerintah yang berkuasa. Agar plotik ini menjadi politik yang terbuka akan kritik.
Langganan:
Postingan (Atom)