Pages

Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

“Membeli Mimpi “

Berjalan di situ...di pusat pertokoan
Melihat-lihat barang-barang yang jenisnya
beraneka ragam
Cari apa di sana....pasti tersedia
Asal uang di kantong cukup
Itu tak ada soal

Aku ingin membeli..kamu ingin membeli
Kita ingin membeli...semua orang ingin membeli
Apa yang dibeli...mimpi yang terbeli...
Tiada pilihan selain mencuri..

Sampai kapan mimpi-mimpi itu kita beli
Sampai nanti sampai habis terjual harga diri
Sampai kapan harga-harga itu melambung tinggi
Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi

Segala produksi ada disini
Menggoda kita 'tuk memiliki
Hari-hari kita berisi hasutan
Hingga kita tak tau diri sendiri

Melihat anak kecil mencuri mainan
Yang bergaya tak terjangkau olh bapaknya
Yang maling



Bagi kawan-kawan yang suka mendengar dan ngefans habis ama om iwan fals pasti tahu lagu ini. Yup, benar sekali lagu ini berjudul mimpi yang terbeli. Nah, lagu ini semalam dibawakan oleh om iwan saat beliau manggung di arena Pekan Raya Jakarta. Kalo tidak salah ini lagu yang ke 5 dinyanyikan oleh beliau. Oiya lagu ini juga dinyanyikan didepan bos nya PRJ ibu Sri Hartati Murdaya.

Pasti kita semua yang menonton berjingkrak dan mengikuti setiap bait yang dikeluarkan bang iwan. Tapi lagu ini seakan membawa pesan bagi arena PRJ ini secara khusus juga perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya. Apa pesannya?
Saya merasakan om iwan telah melihat sesuatu yang hilang dari pagelaran PRJ ini. Tahu gak awalnya kalo PRJ itu diadakan sebagai maksud bagi memasyarakatkan dan mengembangkan budaya betawi, tapi apa yang terjadi pada pagelaran PRJ dimasa modern ini tepatnya ketika Arena pagelaran dipindah dari lapangan gambir ato monas ke bekas bandara di Kemayoran?

Yup, jawabnya jelas budaya betawi sudah tidak tergambar dalam pagelaran PRJ. Ondel-ondel kini telah berganti badut-badut promo. Abang – none betawi telah berubah menjadi penjaga stand dengan pakaian menggoda. Lalu barang-barang pajangan berubah menjadi produksi-produksi yang membuat kita meneteskan iler tergoda untuk membeli.
Ya, PRJ ibarat sebuah mall raksasa, yang mengundang mereka untuk membeli dan menghabiskan uangnya. Ditambah iming-iming diskon dan senyum SPG yang cantik terkadang membuat kita tidak berpikir lagi sebelum membeli.

Budaya hedonisme memang tengah mengepung kita. Budaya pengen apa aja tapa berpikir itu kita butuh atau tidak. Budaya yang jelas akan lebih banyak sisi negatifnya ketimbang positifnya. Iya, bagi yang punya uang lalu bagi yang tidak? Ia akan berusaha meminjam, itu juga kalo dapat, kalo tidak? Maka jalan pintas korupsi, mencuri, jambret, nodong sampai menjual kepribadian akan menjadi pilihan.
Maka, ah… saya gak mau panjang kata lagi, ingin menikmati lagu-lagu om iwan saja lewat PC, sambil mencoba bermimpi.

Selasa, 03 Agustus 2010

Matinya Hukum

Hakikat dari demokrasi yang beretika adalah demokrasi yang disertai kepastian hukum dan kesamaan hukum. Sebab, demokrasi tanpa adanya kepastian dan ketaatan asas aturan main (rule of the law) akan berbuah menjadi anarki.


Dalam perjalanan pulang dari sawangan menuju Depok, saya berpapasan dengan rombongan ormas betawi yang kabarnya pas hari itu sedang melakukan perayaan ulang tahun. Rombongan ini terdiri dari iring-iringan sepeda motor, bis umum dan kendaraan pribadi.

Bukan rombongannya yang menarik bagi saya, sebab ini rombongan sangat tidak tertata dan tidak enak di lihat mata, masih kebih bagus karnaval kendaraan hias yang di daerah saya ‘suka’ (saya bilang suka karena penyelenggaraannya gak rutin, terkesan semau panitia aja) ada menjelang tanggal 17 agustus.



Tapi yang menarik perhatian saya adalah kelakuan para anggota rombongan atau konvoi yang menggunakan kendaraan sepeda motor. Kelakuan mereka jelas tidak membuat saya ingin bergabung, bahkan sedikit simpati aja nggak. Padahal kalo mereka bilang syiar, seharusnya bisa membuat yang melihat dan dilewati rombongan itu senang dan terhibur, sedangkan ini, saya yakin yang melihat dan di lewati rombongan ini menjadi eneg juga mungkin sambil berdoa rombongan ini segera berlalu dari hadapan mata mereka.

Kelakuan mereka sangat tidak bisa dijadikan contoh ikutan, walau sudah latihan pula. Mereka tidak memakai helm, membawa anak kecil seenaknya aja, asyik menggoyangkan motornya kesana-kemari gak peduli walaui itu sudah bukan jalurnya lagi, membuat bising dengan suara knalpot dan klakson yang di geber dan dimainkan seenaknya aja.
Pertanyaan saya satu. Kok gak ada sanksi bagi mereka? padahal jelas apa yang mereka lakukan sudah melanggar kode etik jalan raya. Padahal di jalan yang mereka lewati itu polisi berjejer yang anehnya malah mengamankan aksi mereka.

Maka pada hari ini saya melihat matinya hukum dan aparat hukum,di depan kelakuan anggota ormas. Semua peraturan dan sangsinya seakan tidak berlaku ketika menghadapi orang banyak dan berseragam.

Kelakuan dan perlakuan seperti ini tidak hanya monopoli ormas saja, tetapi juga para demonstran, supporter sepakbola bahkan iring-iringan jamaah dzikir juga demikian. Bila sudah begini maka bagaimana kita merupakan bangsa yang tegak diatas aturan hukum?

Hukum seharusnya bersifat mutlak. Memang ada kalanya ada kebijaksanaan dari aparat hukum, tapi saya yakin perilaku diatas bukanlah alasan adanya ‘kelonggaran’ hukum.
Memang negara ini menjamin setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul namun, Kebebasan berserikat dan berkumpul yang diatur dalam UUD tidak boleh dimaknai secara kebablasan sehingga kelompok orang atau organisasi masyarakat yang dilindungi UUD itu bisa melakukan tindakan bertindak sewenang-wenang dan bebas melanggar hukum.

Jadi, akan sangat berbahaya jika aksi anarkis yang dilakukan ormas itu dibiarkan karena jika ini terus dibiarkan maka aturan maupun lembaga atau institusi yang formal menjadi tidak berfungsi. Saya yakin semua organisasi memiliki AD/ART yang memenuhi unsure kebaikan, namun masalahnya adalah bagaimana menerapkan apa yang telah diatur dalam AD/ART mereka itu ke lapangan jadi tidak hanya sekedar teks saja.

Yang sedih banyak ormas yang didirikan untuk menjaga dan melindungi hukum dari para pelanggarnya, namuan sayang kegiatan mereka menjaga hukum malah melanggar aturan hukum itu sendiri. Kita sering mendapat petuah sekecil apapun kesalahan berbahaya untuk dibiarkan, karena ia akan membesar. Lalu kini kesalahan yang besar dan oleh orang banyak terjadi di depan mata dan disaksikan oleh aparat hukum dan tanpa penindakan.

Lalu benarkah kata seorang kawan bahwa hukum telah mati di jalan raya?

Sabtu, 31 Juli 2010

Pong Harjatmo

"kencingi air zam-zam jika kau mau jadi terkenal"
pepatah gila yang mengajarkan kita cara singkat bila kita mau jadi terkenal. dalam arti lain pepatah tersebut ingin mengajarkan jangan jadi orang nanggung alias setengah-setengah kalo pengin dikenal. Terserah, jadi orang paling pinter ato paling bodoh, paling cerewet ato paling diam sekalian. Mau jadi politisi bersih atau politisi busuk, pasti dikenal rakyat. Striker paling tajam akan jadi bahan pemberitaan, sama halnya dengan striker paling mandul.maka banyak orang yang melakukan hal-hal aneh tapi nyata agar namanya menjadi trend setter.

Entah terinspirasi dengan peribahasa di atas atau tidak, aktor tua bernama Pong Harjatmo ketika ia dengan berani memanjat atap gedung DPR yang berwarna hijau itu, lalu menulis tiga kata. ya, hanya tiga kata. 'Jujur, Adil, Tegas' kata-kata itu yang ditulisnya di atap gedung tempat wakil-wakil rakyat Indonesia berkantor. pong harjatmo yang sewaktu muda terkenal lewat film beranak dalam kubur kini terkenal karena aksi protesnya yang membuat gempar baikdunia nyata maupun maya. maka, nama pong harjatmo pun menjadi trending topics di situs mikroblogging twitter,

“Selama ini baik dari pemerintah maupun wakil rakyat di DPR kok selalu mengambang nggak pernah selesai. Mulai dari kasus Century, gas meledak sampai absensi anggota dewan yang bolong-bolong itu,” ujar pong harjatmo ketika ditanya motif atas aksi yang dilakukan. "ini salah satu tindakan saya supaya didengar,” jelasnya. ia mengungkapkan kesal dengan perilaku anggota dewan yang seperti tidak pernah mendengarkan keluhan rakyat yang diwakilinya, mereka selalu berdalih bahkan kadang balik mengejek rakyat.

apa yang dilakukan oleh seorang tua bernama pong harjatmo bagi sebagian orang hanya cari sensasi murahan saja, namun bagi masyarakat lainnya terutama para aktivis yang suka bersuara di ranah media social ini adalah tamparan keras. ketika kita hanya bersuara di twitter dan facebook, lalu dengan bangga menulis deretan kata menjadi status yang entah itu kutipan atau memang buah pikiran sendiri, Mas Pong berani bertindak nyata. "Pong Harjatmo membuktikan ia tidak hanya sekedar jago omong tapi ia juga sudah bertindak", "mas Pong hanya butuh tiga kata, tapi nyata. sedang kita? ratusan status tapi hanya di dunia maya" tulis banyak teman di ranah social media.

Aksi Pong mencoret gedung DPR mengingatkan saya pada lagu lawan Iwan fals yang berjudul, ’Coretan di Dindig’

Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tepi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan di dinding adalah pemberontakan
Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah
Ditiap kota . . . . . . . .


Ya, Pong tengah memberotak terhadap perilaku sombong, sok kuasa dan semena-mena para anggota DPR. Pong tidak malu-malu mengungkapkannya ia melakukan aksi nyata, tanpa harus pakai dan gelar konferensi pers seperti sekumpulan orang yang ingin melakukan aksi. Memang aksi Pong hanya akan menjadi berita sesaat namun pesan dari aksinya merupakan tamparan bagi para anggota DPR karena mereka dipermalukan oleh seorang tua di depan mukanya., juga kita-kita yang hanya lebih suka bersuara di dunia maya.

Seorang Pong Harjatmo telah membuktikan bahwa pagar dan tembok tinggi gedung dewan yang bernilai milyaran rupiah tidak bisa menghentikan dirinya untuk bersuara. Begitu juga ratusan petugas keamanan yang menjaga gedung itu tetap tidak bisa menahan suara hati seorang rakyat.

Jumat, 30 Juli 2010

Masihkah Butuh Negara?

“Ah, ternyata negara tidak ada disini” ujar bapak tua itu kesal, sambil melangkah dari kantor kelurahan. Iseng ku bertanya, “loh, ini bukannya kantor pemerintahan?” lalu bapak itu menjawab kembali, “iya tapi hanya labelnya, sedang tugas sebagai negara atau pemerintah tidak ada” ujarnya sambil terus melangkah.

Tadinya ku ingin bertanya lebih detil lagi. Tapi rasanya ia terburu-buru sambil membawa beberapa berkas. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam antara dia dan petugas kelurahan, namun yang pasti ini sesuatu yang serius.

Emha Ainun Nadjib dalam suatu acara pernah mengatakan bahwa bila keberadaaan negara tetap membuat kita susah maka layakkah negara itu di pertahankan? Lalu ia kembali bertanya Buat apa sih ada negara? Buat apa ada pemimpin negara? Untuk memelihara dan mengatur urusan rakyatnya, kan? Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim kita temukan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Imam (kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat); ia akan diminta pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” Bagi Emha kehadiran negara seharusnya membuat rakyatnya mudah dan tidak terbebani. Apa yang dikatakan oleh Emha sejalan dengan apa yang rumuskan oleh Roger F. Soltau, menurutnya Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat

sedangkan secara umum dan ini dapat kita temui di teks buku PPKN fungsi sebuah negara adalah

1. Mensejahterakan serta memakmurkan rakyat
Negara yang sukses dan maju adalah negara yang bisa membuat masyarakat bahagia secara umum dari sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

2. Melaksanakan ketertiban
Untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif dan damani diperlukan pemeliharaan ketertiban umum yang didukung penuh oleh masyarakat.

3. Pertahanan dan keamanan
Negara harus bisa memberi rasa aman serta menjaga dari segala macam gangguan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar.

4. Menegakkan keadilan
Negara membentuk lembaga-lembaga peradilan sebagai tempat warganya meminta keadilan di segala bidang kehidupan.

Lalu, pertanyaannya sudahkah saat ini kita merasakan kehadiran negara sesuai dengan fungsinya? Apa yang dikatakan bapak tua yang saya temui di kantor kelurahan sepertinya mewakili mayoritas suara penduduk negeri ini, ya kita belum merasakan kehadiran negara dalam arti luas.

Bicara mensejahterakan serta memakmurkan rakyat sepertinya kita masih bicara dalam tatapan teori tanpa aplikasi. Saat ini sepertinya rakyat makin merasakan kesulitan dalam sisi ekonomi. Lihat saja kenaikan harga yang tidak sebanding dengan upah dan pendapatan.

Para ekonom mengatakan kenaikan harga identik dengan pajak terhadap pendapatan masyarakat yang menyebabkan pendapatan riil mereka turun.

Ketika pendapatan masyarakat tetap, sedangkan harga-harga barang meningkat. Maka, kenaikan tersebut bukan saja menyebabkan masyarakat menjadi sulit mendapatkan bahan pangan, tetapi juga menyebabkan mereka semakin sulit atau bahkan kehilangan akses untuk kebutuhan primer nonpangan, seperti kesehatan, sandang, dan pendidikan
Kegagalan negara dalam fungsi ekonominya bisa disebut dengan kegagalan penyelenggaraan negara oleh para elite. Sebab kegagalan ini bisa terjadi tatkala mereka gagal memisahkan misi dan motivasi publik dengan misi dan motif pribadi.

Sebab Ketika seorang menjadi elite negara dan tidak bisa memisahkan antara motivasi pribadi dan kelompok dengan motivasi publik, lalu motivasi pribadi dan kelompok begitu besar maka akan terjadi masuknya kepentingan pribadi dan kelompok dalam kebijakan-kebijakan publik. Semakin besar dominansi kepentingan pribadi dan kelompok dalam kebijakan publik maka semakin jauh pula wujudnya pada kebijakan publik yang menyejahterakan rakyat.

Itu baru dari satu sisi soal ekonomi, belum lagi dari sisi sossial bisa kita lihat semakin menjamurnya anak putus sekolah yang berkeliaran di jalanan, peredaran narkoba yang semakin parah. Dari sisi hukum betapa timpangnya perlakuan hukum antara koruptor dan maling ayam, seolah mereka yang punya duit bisa bersahabat sedang mereka yang tidak siap menerima apa saja.

Saya jadi teringat ucapan seorang kawan, “Negara hanya ada dan terasa ketika pemilu dan pilkada”

Kamis, 29 Juli 2010

Minoritas di Tengah Mayoritas muslim

"Tumben tuh umat Budha berdemo" komentar singkat ibu saya saat menyaksikan program berita di televisi, yang memberitakan demonstrasi yang dilakukan pemeluk agama Budha yang menuntut di tutup dan di berhentikan izin operasi Buddha bar.

kalimat ibu saya bukan dalam arti meledek, tetapi ia mengenal umat budha biasanya sangat sabar dan agak enggan dalam urusan turun ke jalan. lagian ibu saya sedari kecil terbiasa bergaul dengan penduduk keturunan yang beragama budha. soal kesabaran umat budha mungkin, ibu saya belum mengenal dan membaca bagaimana perjuangan pemeluk agama budha di Tibet dalam memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintah China.

polemik soal buddha bar memang ukan barang baru. diawal berdirinya tempat hiburan ini juga umat budha sudah menentangnya. mereka beralasan ada penistaan terhadap ajaran dan simbol-simbol agama budha, itu yang mereka tentang.

awalnya komunitas budha hanya menuntut secara pelan agar pemilik tempat hiburan tersebut merubah nama dan tidak menggunakan simbol-simbol agama budha dalam tempat hiburan tersebut. namun, tuntutan mereka tidak direspon baik oleh pemilik buddha bar maupun aparat pemerintahan. Mereka merasa seolah anaktirikan.

"apa karena kami minoritas, sehingga ketika agama kami dihina itu tidak dibela?" protes seorang kawan yang kebetulan beragama budha yang ditulisnya di status jejaring social FB.

ketika membaca status ini saya teringat sebuah buku kecil karya DR. Yusuf Qardhawi yang berjudul 'Minoritas NonMuslim di Dalam Masyarakat Islam" walau kecil bobot isi buku ini sungguh besar.

Dalam buku ini ada bahasan soal kebebabasn beragama bagi kaum minoritas. membuka bab ini syaikh Qardhawi mengutip firman Allah swt,

"Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah" (Q.S 2:256)

ya, kita tidak boleh memaksa seseorang untuk memasuki Islam. sebab bukti akan kebenaran Islam sudah banyak sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memasukinya.

begitu juga maka kita tidak boleh menghalangi pemeluk agama lain dalam menjalankan perintah agamanya. juga disaat yang sama mayoritas muslim harus memberikan perlindungan bagi pemeluk agama lain dalam menjalankan agama mereka. ini sebagaimana docontohkan Umar bin Khatab kepada penduduk Jerusalem. Dalam perjanjian itu Umar berjanji akan menjaga keamanan diri, gereja, harta-benda, salib-salib serta keperluan peribadatan mereka. hal serupa juga dilakukan oleh panglima perang Khalid bin Walid bagi penduduk Anax. setelah menaklukkan daerah itu Khalid memberikan kebebasan dan jaminan serta perlindungan bagi penduduk Anax dalam membunyikan lonceng gereja mereka kapan saja baik siang dan malam (kecuali pas shalat berjamaah) serta dibolehkan juga memameri salib mereka pada hari raya.

Dua contoh diatas maka sudah sepantasnya mayoritas muslim di negeri ini terlebih para pemegang kebijakan untuk mendengar apa yang dituntut oleh para pemeluk agama Budha. bukti telah terpampang bahwa ada penistaan agama disana. sebab sebagai agama yang diakui di negara ini maka pemeluk agama budha juga harus dilindungi hak-hak keberagamaan mereka. kementerian agama harus bersuara dan turun tangan, negara tetangga Malaysia telah memberi contoh ketika komunitas muslim menutup tempat hiburan yang sama.

Rabu, 28 Juli 2010

Teror Model Baru

Teror adalah sebuah aktivitas menyebarkan rasa takut kepada orang lain, pelakunya disebut teroris. Istilah ini mulanya tidak berkonotasi apapun, tidak negatif tidak pula positif, kecuali setelah melihat konteksnya. Misalnya seorang penjahat akan merasa ketakutan apabila melihat polisi, karena polisi akan menangkapnya, menjebloskannya ke penjara, dan menghukumnya. Si penjahat ini merasa diteror oleh polisi. Maka dalam hal ini si polisi adalah teroris, teroris yang positif.

Berbicara masalah terror, kini di negeri ini ada teror dari yang namanya tabung gas. Alih-alih memudahkan urusan dapur, tabung gas kini menjelma menjadi teror menakutkan. Ledakan demi ledakan yang terjadi membuat warga waswas dan sangat khawatir.

Sejak tahun 2008, pemerintah mencanangkan proyek pengadaan tabung gas ukuran 3 kg sebagai pengganti minyak tanah. Niat awal pemerintah memang mulia; ingin menyejajarkan semua rakyat dengan orang mapan, yang sudah lama menikmati gas di rumahnya.

Namun, proyek terburu-buru itu keburu meluncur. Yang terjadi kemudian, karena diproduksi secara massal, so pasti banyak yang tidak beresnya. Mana mungkin pengelola Standar Nasional Indonesia (SNI) mampu mengecek satu per satu tabung gas yang jumlahnya ribuan. Yang penting barang jadi sesuai pesanan negara dan kita tunggu dampak dari "bom" munggil warna hijau itu.

Kini, tabung gas itu jadi teror baru, menjadi headline media massa, menjadi topik panas, bersaing dengan berita koruptor, pejabat cabul, artis cabul, gerakan teroris, dan pemilu kepala daerah.

Teror tabung gas bukan main-main. Ini serius sebab menyangkut hak hidup rakyat banyak. Kalau tak becus mengurus tabung gas saja, bagaimana mengelola negara? Aparat kepolisian wajib membongkar pelaku pembuat regulator, selang, dan elemen palsu lainnya sampai pemodal dan mungkin pengelola SNI. Jangan-jangan ada markus di lembaga SNI?

Teror lain yang sedang marak menjadi berita dan omongan baik di dunia maya dan nyata adalah perilaku paspampres yang semena-mena. Seorang warga bernama Hendra NS, mengeluhkan rombongan presiden SBY yang sering bertindak semena-mena, terhadap pengguna jalannya.

Dalam surat pembaca yang diterbitkan harian Kompas, Hendra menulis,


… kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 WIB di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar suara sirene dan hardikan lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setor ke kiri.

Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.

Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?”

Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpanan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahnya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”…

Tidak lama berselang dari kasus ini kembali terjadi peristiwa yang kembali melibatkan pasukan pengamanan presiden, dan lagi-lagi kejadian ini membuat seorang anak mengalami trauma yang cukup dalam.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Seorang anak ditoyor kepalanya oleh salah seorang anggota Paspampres, karena dianggap akan menghalangi jalan presiden. Insiden terjadi usai pementasan operet Persatuan Artis Cilik, yang juga disaksikan oleh Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi.

Walau tidak menimbulkan korban jiwa apa yang dilakukan oleh pasukan pengamanan presiden bisa menimbulkan teror kepada masyarakat pengguna jalan dan anak-anak. Para pengguna jalan suka khawatir jika sudah mendengar suara sirine mengaung. Lalu akankan terjadi perubahan sikap dari pasukan pengamanan presiden? Kita lihat saja nanti.

Selasa, 20 Juli 2010

Harapan itu masih ada

Siang tadi selesai makan siang di pasar mayestik, saya mendapatkan pengalaman mengesankan. Begini ceritanya:

Setelah makan siang dari pasar mayestik di tengah jalan saya bertemu 5 orang anak sekolah berseragam merah dan putih alias anak SD. Kelima anak itu komposisinya terdiri dari 3 lelaki dan 2 wanita. Seperti biasa mereka asyik bercanda di atas trotoar. Tepat di depan bank BNI ada pengemis ibu-ibu yang bersandar pada besi pembatas trotoar dan jalan raya. Nah, disinilah peristiwa mengesankan itu terjadi.

Bertemu dengan sang pengemis kelima siswa SD ini berhenti. Lalu seorang lelaki diantara mereka bertanya, “ibu sudah makan?” yang dijawab gelengkan kepala pelan . Lalu dengan spontan sang anak memberikan bungkusan gorengan yang dipegangnya, padahal saya juga lihat gorengan itu baru saja dibelinya tidak jauh dari tempat itu, “ini untuk ibu, makan ya biar tidak sakit” lalu bungkusan itu diambil pengemis itu sambil berkata pelan, “Terima kasih”

Melihat adgen atersebut spontan saya berkata, “subhanallah” ya, saya kagum dengan jiwa empati anak SD tersebut. Kalo hanya sekedar mengasih mungkin banyak di temui, tapi saya yakin apa yang dilakukan oleh sang anak ini timbul dari rasa empati yang dalam, kalimat, “ini untuk ibu, makan ya biar tidak sakit” menjadi penegas rasa empati itu.

Ternyata di tengah gempuran mesin game semacam Playstation yang biasanya cenderung membuat jiwa seorang anak menjadi individualis, selalu mementingkan diri sendiri, dan berkurangnya jiwa simpati dan empati kepada sesama, apa yang ditunjukkan anak tadi menjadi semacam oase, pembangkit optimis saya bahwa masih ada loh calon generasi bangsa ini yang bisa menghidupkan semangat jiwa bangsa Indonesia.

Sikap ini juga menjadi jawaban bahwa masih ada pendidik ataupun orang tua yang bisa mentransfer sifat-sifat penuh kasih kepada sesama. Di tengah kehidupan yang semakin susah, ternyata siswa SD tadi masih memiliki kebesaran hati memberikan apa yang jelas-jelas sedang dinikmatinya. Jiwa kebersamaan dan keindahan berbagi telah tumbuh dari dirinya. Dalam hati saya berdoa semoga sang anak di kehidupan besarnya nanti tetap dapat mempertahankan sikap mulia yang sudah dimilikinya dari kecil ini dan bisa menjadi agen of the change bagi lingkungannya… aminn.

Senin, 19 Juli 2010

Dongeng Ipad

"benda apa sih yang suka dipegang Tina Talisa?" tanya seorang kawan pada saya, yang saya jawab dengan singkat, "itu, ipad" jawaban yang makin membuat teman saya bingung.

lalu dengan singkat saya jelaskan kepada nya bahwa ipad adalah produk teknologi terbaru atau gadget keluaran apple, ini semacam komputer mini, layar sentuh dan bla,bla,bla ...

pertanyaan teman saya tadi seakan menyadarkan diri sendiri bahwa informasi yang kita terima tidaklah sama, walau saya dan kawan saya tadi tinggal di kota yang bersebelahan dari ibu kota.

selama ini saya mengira bahwa semua orang sudah tahu apa itu komputer tablet, namun nyatanya banyak yang asing dengan kata ini bahkan masih ada yang kepelintir menyebut kata blackbery.

lajunya perkembangan teknologi tadi telah membuat kita serasa diperbudak oleh teknologi. teknologi yang tadinya hanya berfungsi sebagai pelengkap kini berubah menjadi sesuatu yang wajib. lihat saja di status media sosial seperti facebook dan twitter, banyak yg mengeluh ketika BB atau gadgetnya rusak. ada yang bilang tidak bisa menulis dan tak produktif.

Teknologi juga membuat banyak orang tergila-gila. bahkan ada yang bilang gadget yang kita pakai akan membuat status sosial kita berasa naik. maka, tak jarang banyak yang mengkhayal memiliki ipad agar tidak kehilangan gengsi. bahkan seorang teman dalam chatnya bilang, "beda ya tina talisa saat menenteng ipad dan ketika tidak membawa ipad" ucapan yang membuat saya tersenyum getir. seolah-olah ipad adalah sepatu kaca miliki cinderella, yang ketika dipakai akan membuat kita tampil beda, dan dipandang orang banyak.

ya, teknologi begitu cepat perkembangannya bahkan bisa jadi kecepatannya melebihi apa yang bisa di informasikan tentang dunia ini. lihat saja belum habis demam ipod telah ada blackbery lalu kini ipad. belum rusak gadget yang baru kita beli besok sudah ada info tentang produk yang akan keluar lagi.

ya, kalo memang demikian beruntunglah mereka yang bisa memiliki ipad, dan semakin naeklah status sosial mereka. sedang bagi yang tidak bisa memiliki, membaca dongeng ipad di media-media kayaknya bisa menjadi penghibur, atau kalo nekat pengen punya juga ya, gak salah beli iped replika keluaran china.

Kamis, 06 Mei 2010

Ironi Negeri Korupsi

Geram campur marah itulah ekspresi sebagian masyarakat saat ini saat menyaksikan makin merajalelanya kasus korupsi di negeri ini. Bagaimana tidak kasus Century belum selesai tiba-tiba kasus mafia pajak memborbardir headline media massa. maka tema bagaimana memberantas perolaku korupsi di negeri ini kembali mencuat dari berbagai pihak.

Dalam artian secara umum korupsi diartikan sebagai, “the abuse of public office for private gain” yang berarti penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi atau sekelompok orang melalui cara yang bertentangan dengan hokum.
Sejatinya korupsi dalam sejarah manusia bukanlah sesuatu yang baru. Ia ada berbarengan dengan umur manusia itu sendiri. Ketika manusia hidup bermasyrakat maka disanalah awal perilaku korupsi terjadi. Sejarah duni telah menunjukkan kepada kita bahwa korupsi selalu menajdi masalah beasr bagi kehidupan bermasyarakat. Dia India 2300 – an tahun yang lalu seoarng perdana menteri Chandragupta telah menulis 40 cara untuk mencuru kekayaan negara., ini bukti perilaku korupsi telah ada begitu lama. Sedangkan di China ribuan tahun yang lalu telah menerapkan kebijakan yang di sebut dengan Yang – lian yaitu hadiah untuk pejabat negeri yang korup. Sedang sejarah Indonesia mencatat kehancuran VOC juga lewat jalur penyalahgunaan wewenang atau korupsi.

(lanjutan artikel) *****


Indonesia Bangsa Korup?

Mantan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie pernah menyebut lebih dari Rp 300 triliun dana—baik dari penggelapan pajak, kebocoran APBN maupun penggelapan hasil sumberdaya alam—menguap masuk ke kantong para koruptor.

Beberapa tahun lalu Bappenas juga mengendus adanya kebocoran pada utang luar negeri, yang setiap tahunnya mencapai sekitar 20 persen dari total pinjaman yang diterima Pemerintah Indonesia. Dalam pandangan pengamat ekonomi Revrisond Baswir, kebocoran utang luar negeri ini merupakan hasil konspirasi Pemerintah dan lembaga kreditur.
Bentuk korupsi terhadap "uang panas" negara–untuk menyebut dana yang berasal dari utang–tidak hanya terhadap utang luar negeri, namun juga utang domestik dalam bentuk obligasi rekap bank-bank sebesar Rp 650 triliun. Kasus BLBI yang tek pernah usai, juga kasus Century yang masih belum jelas ujung [angkalnya serta kehebohan dalam kasus mafia pajak dengan actor Gayus Tambunan.

Melihat ini pemerintah bukannya diam saja banyak lembaga korupsi yang telah dibentuk untuk menanggulangi penyakit krisis ini. i) Operasi Militer pada tahun 1957, (ii) Tim Pemberantasan Korupsi pada tahun 1967, (iii) Operasi Tertib pada tahun 1977, (iv) Tim Optimalisasi Penerimaan Negara dari sektor pajak pada tahun 1987, (v) Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TKPTPK) pada tahun 1999 dan (vi) Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) pada tahun 2005. Yang kemudian di pamungkasi dengan pendirian KPK.

Sayangnya sampai saat ini korupsi masih menjadi momok besar dalam perjalanan bangsa ini. Walau sudah banyak lembaga dan kebijakan yang dibuat korupsi tetap saja merajalela bahkan sekarang semakin terang-terangan.

Ini bisa jadi karena KPK, sebagaimana yang diungkapkan oleh Teten Masduki, belum punya visi pemberantasan korupsi. Misalnya dari segi penegakan hukum, dari Global Corruption Barometer jelas-jelas menyatakan bahwa nenek moyang atau pusat bersarangnya korupsi di Indonesia berada di Parlemen, Pengadilan, dan Polisi.
Lima tahun terakhir ini Global Corruption Barometer menempatkan lembaga-lembaga tersebut sebagai biang kerok korupsi. Seharusnya ini yang menjadi guideline bagi KPK untuk mencegah dan memberantas kasus-kasus korupsi. Sehingg korupsi bisa di tekan seminimal mungkin dan tidak menjadi budaya akut di negeri ini.

Senin, 28 April 2008

Rasisme di Tengah Kita

“Ah gw gak bakalan menonton kalo film James Bond terbaru dibintangi oleh seorang kulithitam” ujar seorang teman, ketika di tanya alasannya dengan enteng dia menjawab, “Habis gw gaksuka aja sih ama orang kulit hitam, gak asyik aja dilihatnya”. Sadar gak sadar pastinya kita akrabdengan kalimat-kalimat seperti ini ya.

Ya ternyata sikap berbau atau menyerempet-nyerempet Rasisme itu banyak loh disekitar kita. misalnya aja dalam iklan pemutih kulit. Saya melihatnya ini ada sifat-sifat rasis dan melanggarKok bisa? Ya bisa dong bagaimana kalo diperhatikan bahwa orang yang cantik dan bisaditerima dikalangan orang banyak ialah mereka yang berkulit putih sedang yang berkulit gelapakan susah diterima oleh seseorang. HAM ya.

Lalu saya terbayang bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tinggal di Irian Jaya sanaatau mereka-mereka yang menetap di Afrika. Apakah mereka akan sulit diterima oleh manusiakan, bukan mau mereka berkulit hitam semua itu telah menjadi kehendak Allah swt. makanyasekarang coba deh kamu pikirin bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang berkulit hitamtersebut. Jangan sampai kita menjadi seperti apa yang teman saya katakan ‘klu klux lan yang halus’

Klu klux lan ini ialah sebuah gerakan masyarakat di Amerika sana yang sangat eksis padasekitar tahun 70-an. Misi dari gerakan ini ialah untuk membersihkan orang-orang yang berkulithitam dari wilayah mereka. Dalam mencapai tujuannya mereka itu sangat kejam dan gaksungkan-sungkan untuk menghabisi nyawa sang korbannya.

Lagipula gak jaminan kok bahwa hanya mereka yang berkulit putih aja yang akan diterima olehmasyrakat luas sedang mereka yang berkulit gelap gakakan diterima oleh masyrakat. Buktinya, bagaimana seorang Kofi Annan bisa menjabat sebagai ketua PBB yang membawahinegara-negara di dunia atau kamu bisa sebut nama Ronaldinho walau berkulit hitam tetapi janganberapa banyak orang yang sangat menyukainya. Atau kalo kita melihat para sahabatRasulullah saw. Seperti Bilal bin Rabah yang berkulit hitam dan seorang budak lagi tetapi, iamemiliki kedudukan yang sangat hebat dimata Allah swt. Bahkan diriwayatkan telapak kakinyaberada di depan Rasulullah saw di surga nanti. Tanya

Dalam kisah yang lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw menanyakan kabarseorang wanita berkulit hitam yang bertugas sebagai pembersih lantai masjid. Ya, Rasulullahmenanyakannya karena sudah beberapa hari ini beliau tidak melihat kehadiran sang wanitatersebut di masjidnya. Lalu beliau mendapatkan jawaban bahwa sang wanita telah meninggaldunia beberapa hari yang lalu.

Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. Terkaget lalu berkata, “Mengapa kalian diam saja dantidak menyampaikan berita kematiannya kepadaku? Sekarang antarkan aku ke makamnya”

Lalu para sahabat menunjukkan makam sang wanita tersebut. Di depan makam sang wanitatersebut Rasulullah saw. Langsung saja melaksanakan shalat ghaib bagi jenazah wanita berkulithitam tersebut.

Kisah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada perbedaan antara hitam danputihnya kulit seseorang. Begitu juga soal status sosialnya. Coba, bagaimana Rasulullahmemberikan penghargaan yang sangat kepada wanita berkulit hitam tersebut.

Makanya bukan hitam dan putih yang akan menepatkan seseorang disurga nanti tetapi lebihpada sejauhmana ketakwaannya kepada Allah swt. Lah kok jadi panjang lebar membahas ini ya? Ok, anggap ini aja sebaga intermezzo bagi kalian semua.

Nah, Bagi kamu-kamu yang suka menonton film, cobalah luangkan sedikit untuk menontonCrash, kalo bagi yang gak suka nonton ya udah coba aja dipaksa-paksain (hehehe maksa nihini dibintangi oleh Sandra Bullock yang kita kenal sebagai pemeran utama film Speed yang penuh ketegangan dan Matt Dillon. Namun begitu film ini adalah film drama yang mencobauntuk menggambarkan realitas kehidupan di negara Amerika Serikat, negara yang selama inimendeklarasikan sebagai negara impian bagi jutaan manusia. Dimana disini kebebasan, keadilan, kemakmuran dan segalanya bisa dirasakan. film ye). film

Paul Haggis sebagai seorang sutradara sangat cerdik dan cerdas mengangkat temarasisme sebagai suatu tontonan yang mengasikkan dan bermakna. Setidaknya insan film dalamnegeri harus banyak belajar darinya. Bahwa tema sosial seperti ini bisa dijadikan tontonanmenarik, jadi gak hanya bergelut pada tema horror dan takhayul semata. Terbukti film ini mampumemenangkan piala oscar mengalahkan film Brokeback Mountain yang mengangkat tentang temaHomoseksual.

Film ini ingin menggambarkan kepada kita bahwa masalah rasisme adalah sebuahpekerjaan rumah besar bagi manusia di abad modern ini. Walau mengambil setting tentangkehidupan di Amerika Serikat. Tetapi, kita harus jujur bahwa masalah ini tidak hanya menjadimasalah negara adidaya itu saja. Namun, ini adalah masalah bagi mayoritas umat manusia.

Dalam film ini kita benar-benar dituntut menggunakan hati nurani untuk merasakan jeritanhati mereka yang selalu dipandang rendah oleh masyarakat. Bagaimana dikisahkan (dalam film ini) seorang pria berkulit hitam harus rela dan pasrah melihat sang istri didepan mata dankepalanya sendiri digerayangi tubuhnya oleh polisi pria kulit putih. Atau bagaimana seseorangseenaknya saja menabrak seorang pria lalu meninggalkannya hanya karena ia seorangAtau ketika seorang berkebangsaan Iran harus menerima ledekan-ledekan yang menyinggung agama dan kehormatannya. Bila anda tidak dapat merasakan kegetiran dalam film ini. Maka coba tutup mata anda dan bayangkan hal diatas terjadi pada diri anda, saudara anda, anak anda. Saya yakin dengan begitu anda dapat merasakan kegetiran yang mereka hadapi. yang china.

Di luar film tersebut, saya begitu tercengang sewaktu tahu bahwa Lazio, sebuah klubsepakbola besar anggota seri A Italia ternyata memiliki suporter yang terkenal sangat rasis. Mereka selalu melakukan penghinaan dan ledekan-ledekan kepada pemain klub lawan yang berkulit hitam. Sehingga untuk menghilangkan sifat ini manajemen klub Lazio mengontrak Marco Liverani, seorang pemain berkulit hitam hanya untuk mengurangi sikap suporternya tersebut. Tetapi, bukan suporternya yang berubah malah sang pemain yang harus angkat kaki karena tidaknyaman dengan perilaku suporternya.

Masih dari dunia sepakbola saya masih teringat bagaimana ketika, Samuel Eto’o. pemainBarcelona asal Kamerun menolak untuk meneruskan permainan dalam suatu pertandingan. Hal initerjadi bukan karena ia cedera atau diganti oleh pemain lain tetapi dikarenakan ia menerimaperlakuan yang tidak manusiawi dari supporter klub lawan. Maka menangislah ia sambil keluarlapangan.

Ya, berbicara masalah Rasisme berarti kita berbicara tentang masalah penindasan sertaketidakadilan. Penindasan terhadap martabat dan kehormatan manusia. Fakta berbicara akibatsemangat rasisme banyak nyawa yang harus terbuang percuma. Silakan anda tanyakan haltersebut kepad Fuhler Hitler. Berapa banyak nyawa orang Yahudi yang harus ia bunuh akibatketidaksukaannya serta pandangan bahwa ras Aria lah yang paling unggul. Dan jangan lupa untukselalu mengingat apa yang dilakukan para pemimpin Serbia terhadap umat muslim di Bosnia sana. Berapa puluh juta rakyat Bosnia harus kehilangan nyawanya hanya akibat ketidaksukaanmereka terhadap apa yang dipercayai oleh kaum muslim di Bosnia sana.

Sejak awal masa turunnya Islam. Masalah yang satu ini juga menjadi sorotan penting daririsalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Islam menegaskan bahwa bukan kebangsaan, warnakulit, status sosial di masyarakat apalagi persoalan pria dan wanita yang menentukan posisinya disurga nanti. Tetapi hal itu semuanya hanya akan dihitung dan ditimbang dengan sejauhmanaketakwaan sang hamba terhadap apa yang diperintahkan dan dilarang. Jadi gak perduli mo iaberkulit hitam atau putih, kaya atau miskin sekalipun. Hal itu gak akan berpengaruh dalampandangan Allah swt.

Banyak hal yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam memecahkan masalah ini. Misalnyamelalui perkawinan. Bila sebelum Islam datang perkawinan lebih didasarkan pada kesederajatan, Rasulullah malah sebaliknya. Beliau saw tidak ragu menikahkan seorang budak dengan seorangbangsawan. Misalnya dalam perkawinan antara Zaid bin Haritsyah dan Zainab binti Zahasy

Suatu ketika Abu Dzar melontarkan kalimat, “Hai anak perempuan hitam.” Kepada seorangsahabat. Mendengar itu Nabi saw menepuk bahu Abu Dzar, “Thafa sha’. Keterlaluan kamu AbuDzar. Tidak ada kelebihan orang putih di atas orang hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atasorang ‘Ajam kecuali karena amal salihnya.” Mendengar itu, Abu Dzar merapatkan kepalanya ketanah. Ia meminta kawannya itu menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kepongahan ras yang secara tidak sengaja tampak keluar dari mulutnya.

Maka tidak mengherankan seorang berkulit hitam seperti Bilal bin Rabah, dapat memilikikedudukan yang tinggi di mata Rasulullah saw. Bahkan beliau menjadikan Bilal sebagai muadzinnomor satunya. Bilal yang dimasa Jahiliyah hanya menjadi sapi perahan dari sang majikan tetapidi masa Islam ia termasuk orang yang mendapat jaminan surga dari Rasulullah saw. BahkanRasulullah saw telah dapat mendengar bunyi kelopak sandal Bilal di surga sana, disaat sang muadzin masih sehat walafiat.

Makanya kita sepakat dengan slogan yang dikeluarkan FIFA “Kick out Racism” dalamrangka menghapuskan sikap-sikap rasisme dari dunia sepakbola. Ya, buang jauh semangatrasisme dari kehidupan kita. Sebab, itu hanyalah akan menciptakan semangat negatif dalamkehidupan kita.

Julia Peres Salah Mikir

Dalam satu tayangan televisi Julia Peres, artis yang baru aja meluncurkan album musiknya mengatakan, "Saya pikir masyarakat Indonesia sudah cerdas semua, jadi nggak ada masalah dengan bonus kondom itu. saya aja nggak apa-apa" pernyataan ini disampaikan ketika menanggapi usul bu Meuthia Hatta yang menyarankan untuk menarik bonus kondom dalam album yang dibikinnya.

Kalo kita mau memahami, sebetulnya Jupe sudah terjebak dalam kesalahan berpikir yang namanyan Fallacy of Dramatic Instance. Dia menyamakan semua orang dengan dirinya. padahal kita tahu tidak semua orang cara berpikirnya sama. Fallacy of Dramatic Instance berangkatdari sebuah pemahaman untuk melakukan penyamaan terhadap semuanya, atau penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang umum. Biasanya argumennya sangat sulit untuk dipatahkan karena apa yang diangkat berangkat dari peristiwa pribadi.

Disinilah kesalahan fatal Julia Perez. Baginya bonus kondom dalam album musiknya itu tidak masalah, dan bukan sebagai justifikasi atau pelagalan seks bebas. Ia berpendapat itu upayanya mendukung program pemerintah dalam penanggulangan AIDS. Memang bagus niatnya, tetapi masalahnya apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki pemikiran yang sama? ini yang susah dijawab.

Satu bukti aja sudah jelas. Film-film Indonesia yang sekarang menjamur di bioskop dan hampir seluruhnya hampir bernuansa seks, niat awalnya dibuat sebagai seks education. Bahkan dalam satu wawancara salah satu produser yakin yang menonton filmnya hanya mereka yang 17 tahun keatas. Tetapi, apa dilapangan kayak begitu? Kalo diperhatikan pasti penontonnya adalah mereka-mereka yang masih sangat muda dan biasanya dibawah usia 17 tahun. Lalu apakah mereka benar-benar mereka mengambil pelajaran tentang seks yang baik dari film itu? ini juga saya ragukan.

Jadi sebelum melakukan sesuatu itu ada baiknya dipikirkan dulu dengan baik siapa yang akan menerima produknya. karena memang setiap orang dan manusia pemikirannya itu tingkat kemampuannya tidak sama.