Pages

Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

Revolusi PSSI, Mungkinkah?

Kata-kata revolusi memang selalu menarik untuk dicermati. Terlebih ditengah gelisah, amarah dan kesebalan terhadap situasi revolusi menjadi kata yang sexy. Seruan revolusi tidak hanya digemakan bagi kekuasaan negara tapi juga dalam dunia sepakbola. Melihat kekacauan organissai dan mandeknya organisasi PSSI banyak kalangan yang tergiur mengagendakan revolusi sebagai harga mati untuk perubahan. Perbaikan lewat proses transisi dirasa mustahil untuk membenahi masalah di PSSI yang dinilai sudah karatan. Perbaikan hanya bisa diraih lewat sebuah revolusi.

Banyak yang menilai tanda-tanda ke arah revolusi sudah terlihat dan tampak. Satu indicator yang sering digunakan adalah ketidakpercayaan rakyat (penggila sepakbola) terhadap prioses organisasi yang terjadi di tubuh PSSI. Para insan sepakbola melihat apa yang terjadi di tubuh PSSI sudah melalui ambang batas toleransi. Maka bergemalah teriakan “Nurdin turun” saat pertandingan sepakbola persahabatan Indonesia vs Uruguay.

Tapi benarkah revolusi di tubuh pssi sudah akan terjadi? Dalam buku “mencintai Indonesia dengan amal” Eep Saefulloh Fatah mengatakan bahwa revolusi tidak semudah mengumpulan massa yang marah. Revolusi butuh infrastruktur. Revolusi tidak jatuh tiba-tiba dari langit.

Bung Eep menjelaskan bahwa setiap revolusi setidaknya butuh infrastruktur secara umum sebagai berikut : Pembangkangan massa yang diorganisir, Keretakan dan pembangkangan elite yang dikelola, adanya motif padu untuk revolusi, serta terjadinya krisis negara berupa melemahnya instrument negara dalam memfungsikan regulasi, dan adanya permisivitas lingkungan dunia.

Apa yang dimaksud oleh bung Eep memang revolusi dalam bentuk negara, tapi tak ada salahnya kok kita menggunakan infratsruktur tersebut untuk bingkai revolusi PSSI yang sedang ramai digemakan. Memang ada asyarakat yang marah dalam hal ini suporter, tapi sayangnya ini belum terkelola dengan baik, terkesan jalan sendiri-sendiri dan masih lebih suka memunculkan ego ‘warna’ dan kelompok. Kelompok suporter seharusnya mengesampingkan dulu rivalitas diantara mereka sebelum bicara revolusi, agar kemarah yang sudah terjadi bisa terkelola dengan baik.

Motif kemarahan juga banyak tersedia seperti buruknya prestasi sepakbola Indonesia baik dalam negeri maupun luar negeri. Buruknya sistem kompetisi yang berjalan. Aturan yang suka ditubruk oleh pengurusnya sendiri dll. Namun sayangnya motif tersebut tidak pernah padu untuk sebuah revolusi. Motif kemarahan yang ada hanya berdiri sendiri dan tidak berlangsung lama. Motif kemarahan yang ada tidak mampu menciptakan organisasi revolusioner, juga tak ada kepemimpinan revolsioner. Motif kemarahan yang ada hanya berdiri sendiri tanpa ada jaringan yang menghubungkan.
Soal pembangkangan elite, ini yang belum kelihatan semua elite di PSSI (pengurus, pengcab dan klub) terkesan nyaman dengan kondisi yang ada, ada memang pembrontakan seperti yang dilakukan oleh Persebaya, tapi sayang itu belum cukup untuk menciptakan kondisi revolusi di tubuh PSSI, bahkan banyak yang melihat pembangkangan itu hanya bertujuan jangka pendek yang kental.

Juga soal krisis organisasi, kita bisa saksikan tidak ada krisis organisasi di tubuh PSSI. Pengurus pusat sampai daerah semuanya nyaman-nyaman saja. tidak ada yang mengusulkan perbaikan dan pembaharuan di tubuh organisasi PSSI. Lingkungan dunia dalam hal ini FIFA dan AFC juga belum terlihat ‘turun tangan’ dalam kebobrokan di tubuh PSSI. Bahkan sekjen PSSI, Nugraha Besoes, menantang seruan revolusi PSSI. Melihat semua faktor yang ada maka saya melihat revolusi belum bisa dijadikan jalan keluar tetapi hanya nyanyian pelipur lara.

Tapi bukan berarti kita harus bersedih. Ini saatnya kita berhenti sejenak untuk lalu menetapkan tujuan-tujuan agung yang hendak dicapai. Para insan bola harus rela meninggalkan ego masing-masing untuk tujuan bersama. Kita harus bergegas meraih satu persatu hasil yang ingin dicapai tapi tidak boleh tergesa. Disini kita harus menghargai sebuah proses bahwa perbaikan itu bisa diraih ketika alat untuk meraihnya juga baik. Pastinya kita tidak mau revolusi yang terjadi hanya sekedar mengganti orang tetapi kelakuannya tidak jauh beda.

(tulisan iseng menunggu hujan reda)

Rabu, 14 Juli 2010

Ya, Kita Tidak Punya Visi

"Kami berniat memboyong Fatih Terim untuk menangani PSSI" kata-kata penuh harapan dan optimisme itu diungkapkan oleh Nurdin Halid, seolah merespon perkataan presiden SBY yang mengatakan PSSI harus mempunyai pelatih yang bagus dan berpengalaman internasional.

Fatih Terim sebagaimana kita tahu adalah pelatih asal Turki yang pernah menangani klub elit eropa semacam Galatasaray dan AC Milan. Dipilihnya Terim bisa jadi buah dari kunjungan SBY ke Turki.

Namun benarkah Terim bisa mengangkat prestasi timnas Indonesia? jawabnya bisa iya bisa tidak. namun sepertinya lebih besar kepada tidak. malah dalam pandangan saya ini menunjukkan PSSI memang tidak pernah punya misi untuk pengembangan sepakbola di Indonesia.

Niatan mendatangkan Terim adalah bentuk program latah yang dijalankan pengurus PSSI. Dulu ketika melihat singapura sukses dengan pemain naturalisasi PSSI dengan beraninya mencoba mendatangkan anak muda dari amerika latin untuk dialihkan kewarganegaraannya menjadi WNI. Namun rencana ini urung dilanjutkan sebab proses perpindahan kewarganegaraan tidak semudah membalik telapak tangan, ditambah tolak ukur dan kriteria yang jelas.

Juga program pembinaan instan semacam proyek PSSI Primavera, Baretti dan pengiriman tim ke Uruguay yang hanya menjadi semacam program tanpa visi dan targetan yang jelas. Jadi layaknya pengurus RT yang membuat program biar diakui keberadaannya oleh warga, namun apa manfaat dar kegiatan tersebut tidak begitu jelas.

kembali soal niat mendatang Fatih Terim, dia memang pelatih bagus dan dunia sepakbola mengakuinya. Tapi apakah ia 'orang' yang tepat untuk sepakbola indonesia? itu yang seharusnya dipikirkan.

Berapa banyak pelatih bagus yang pernah dihadirkan oleh PSSI. pernah ada nama Fope de Haan yang oleh PSSI dianggap 'gagal' mengelola sepakbola Indonesia, dimana kriteria gagal itu tidak jelas dan subyektif. buktinya tatkala sang pelatih balik ke Belanda ia bisa membawa tim u-20 belanda juara Eropa 2 kali. juga ada nama peter white yang sukses mengangkat sepakbola di Thailand tapi babak belur di Indonesia, juga karena kriteria gagal yang tidak jelas dari PSSI. sekarang kita tunggu apakah Alfred Riedl bisa sukses membawa prestasi atau kembali kena tuah gagal PSSI.

kehadiran seorang pelatih besar memang penting. namun yang lebih penting lagi adalah visi dan misi yang komprehensif yang harus dimiliki oleh PSSI. Belajarlah dari Jepang ketika mereka membuat pondasi prestasi sepakbola mereka. Standar kompetisi diperbaiki. Pembinaan pemain muda dibuat berjenjang dan berkesinambungan, Pemerintah juga turun tangan secara aktif tidak hanya slogan yang berujung pencitraan semata. hasilnya Jepang menjadi kekuatan sepakbola Asia dan banyak pemainnya berlaga di Eropa.

Jadi, sebelum mendatangkan Fatih Terim dan pelatih besar lainnya. ada baiknya pengurus PSSI berkaca dan merenungkan apakah mereka orang tepat untuk mengangkat sepakbola Indonesia.

Senin, 21 Juni 2010

Dan, Bola Itu Tetap Bundar

Banyak yang kecewa dan bersungut-sungut ketika Inggris hanya bisa bermain imbang dengan Aljazair. Begitu juga ketika Spanyol ditaklukkan Swiss, mulut-mulut makian dan luapan rasa terkejut langsung memenuhi bumi. Bahkan komentataor sepakbola di TV berungkali menyebutkan ini hasil yang mengejutkan banyak orang. Dan terakhir adalah ketika Selandia Baru berhasil menahan Italia dengan skor 1-1.

Ya, Piala Dunia 2010 memang benar-benar tidak bisa diprediksi semudah kita membalikkan tangan. Mungkin hanya Argentina dan Brazil dua tim unggulan yang sudah memastikan lolos dan fase grup. Selebihnya masih ketar-ketir. Pranciz yang dikalahkan oleh Meksiko dua gol tanpa balas pasti seluruh skuadnya tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi pada pertandingan selanjutnya melawan tuan rumah Afrika Selatan . begitu juga dengan Inggris yang menakjubkan dalam babak penyisihan namun bermain tanpa semangat di arena sebenarnya.

Lalu apakah ini menegejutkan? Jujur saya agak tidak begitu setuju bila ini dibilang hasil mengejutkan. Karena disana kita akan meremehkan kekuatan dan persiapa yang telah dibangun oleh tim-tim lainnya. Kemenangan Swiss atas Spanyol, begitu juga Meksiko atas Prancis dan berhasilnya Selandia Baru menahan Italia, adalah bukti bahwa permainan mereka telah mencapai tingkat yang baik dan mampu mengimbangi tim-tim unggulan.
Pastinya hasil yang diraih oleh tim-tim underdog bukan melalui jalur ilegal. Mereka meraihnya dengan semangat sportivitas yang tinggi. Berbulan-bulan persiapan. keluar masuknya sejumlah nama dalam proses seleksi, juga peran sang pelatih mempelajari teknik dan taktik bermain lawan yang dihadapi untuk mencari taktik dan strategi yang tepat dalam pertandingan nanti.

Dan pastinya yang harus kita ingat ini adalah piala dunia. Lambing bergengsi pertandingan sepakbola di bumi ini. dimana mata manusia dari seluruh penjuru dunia akan menatap ke satu titik sentral. Juga ketika headline berita baik cetak dan elektronik akan mengabarkan apa yang akan terjadi disana.

Ya, ini adalah masalah gengsi dan kehormatan. Maka sewajarnya seluruh tim yang masuk dan bermain akan menunjukkan kualitas terbaiknya. Mereka pastinya bangga nama negara mereka akan selalu disebut tatkala mampu membuat prestasi yang baik. Bagi para pemain inilah saatnya mereka menunjukkan kemampuan di depan mata para pencari bakat di seluruh dunia, sambil berharap klub besar akan memakai jasanya dan akan meningkatkan penghasilannya.

Jadi, jangan terkejut lagi dan jangan memandang remeh lagi tim-tim yang belum mempunyai tradisi prestasi sepakbola dunia.

ngan melihat mereka sebelah mata, seperti biasanya. Karena ini sekali lagi adalah ajang bagi pemain yang bertanding mengexplore semua yang dimiliki untuk harga diri, prestasi dan pastinya karir mereka sendiri.

Selasa, 25 Mei 2010

Hal Kecil yang Selalu Dibiarkan

(Renungan Suporter)

Empat orang pemuda ditembak dalam kereta api bawah tanah. Si penembak yang menyerahkan diri seminggu kemudian dielu-elukan masyarakat sebagai pahlawan mereka. Goetz, si penembak itu, dijuluki tabloid-tabloid sebagai “Pengawal Kereta Bawah Tanah” dan “Malaikat Maut Bagi Penjahat”. Memang para pemuda yang ditembak itu adalah kelompok berandal pemeras yang sering melakukan kejahatan di kereta api bawah tanah. Tetap saja si penembak tadi dihukum karena melakukan main hakim sendiri. Rakyat marah, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Hukum adalah hukum. Si penembak harus meringkuk dalam penjara. Beberapa tahun kemudian terbukti para pemuda yang ditembak tersebut adalah para pelaku kejahatan mulai dari pencurian, perampokan, hingga penganiayaan. Salah seorang diantaranya yang bernama Ramseur, dua tahun setelah penembakan tersebut dijatuhi vonis 25 tahun penjara karena pemerkosaan, perampokan, sodomi, pelecehan seksual, penganiayaan, kejahatan bersenjata api, dan pemilikan barang curian. Sulit menerima bahwa yang dulu dianggap korban kekerasan ini ternyata juga pelaku kekerasan. Demikianlah potret buram fasilitas subway di New York tahun 1984. Masyarakat takut menggunakan kereta bawah tanah yang suram penuh coretan grafiti, kotor, dan banyak banditnya. Masyarakat dan pemerintah sama frustasinya dengan kondisi buruk itu. Selama tahun 80-an kriminalitas di New York City mencapai rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan serius dalam setahun.

Namun secara mendadak situasi tersebut berubah drastis di awal tahun 90-an. Di tahun 1996 kejahatan menurun drastis menjadi sepertiga. Kekerasan di kereta bawah tanah bahkan turun sebanyak 75 persen. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Untuk kasus kereta bawah tanah penurunan ini dimulai dari penerapan teori Jendela Pecah (Broken Windows) yang digagas oleh kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika sebuah jendela rumah pecah dan dibiarkan saja, siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti coret-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, kata kriminolog itu, semua setara dengan jendela pecah, yaitu ajakan untuk berbuat kejahatan lebih serius.

Pemalak dan penodong, entah amatiran atau profesional, percaya bahwa peluang mereka untuk tertangkap atau diadukan ketika beroperasi di jalanan berkurang bila mereka memberikan ancaman yang cukup kepada calon korban. Jika masyarakat di suatu tempat tidak mampu mengatasi pemalak yang beroperasi di jalanan, pencuri dan perampok pun akan berkesimpulan bahwa orang di situ tidak akan langsung menghubungi polisi atau mengadukan mereka andaikata kejahatan itu mereka laksanakan.

Ini sebuah teori epidemi untuk kejahatan. Menurut teori ini kejahatan bersifat menular – persis seperti trend mode pakaian – sehingga dengan awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca jendela, perbuatan yang sama segera menyebar ke seluruh wilayah.
Pada pertengahan 80-an, kriminolog George Kelling disewa oleh New York Transit Authority sebagai konsultan, maka ia meminta jawatan itu untuk menerapkan teori Broken Windows di jaringan kereta bawah tanah. Direktur baru yang ditunjuk mengurus hal itu, David Gunn, menerapkan teori tersebut dengan fokus melawan grafiti di kereta bawah tanah. Banyak pejabat di direktorat kereta bawah tanah yang menganjurkan agar dia lebih memusatkan perhatian kepada kejahatan yang lebih serius daripada mengurus masalah corat-coret. Gunn tetap bertahan, ”Coret-coret ini merupakan simbol keambrukan sistem ini,” katanya.

Maka Gunn melancarkan aksi melawan corat-coret. Dia tahu bahwa remaja yang melakukan grafiti memerlukan 3 hari untuk memoles dinding gerbong dengan cat putih, menunggu kering, dan menggambarnya di hari ketiga. ”Begitu mereka selesai menggambar, malamnya kami cat lagi gerbong tersebut sehingga keesokan harinya tak ada yang sempat melihat karya mereka,” demikian kata Gunn. Ketika sebuah gerbong dicorat-coret, maka corat-coret itu dihilangkan selama masa istirahat, atau gerbong itu tidak dioperasikan dulu. Gagasan di balik kebijakan itu adalah menyampaikan pesan yang gamblang kepada para vandal, bahwa mereka tidak disukai.

Program pembersihan grafiti oleh Gunn sudah berlangsung sejak 1984 hingga 1990 saat Transit Authority mengangkat William Bratton sebagai komandan polisi kereta bawah tanah yang baru. Seperti halnya Gunn, Bratton juga penganut teori Broken Windows. Alih-alih fokus pada kejahatan serius, dia justru fokus untuk membasmi kebiasaan remeh yaitu naik kereta tanpa karcis. Menurutnya, naik kereta tanpa karcis juga merupakan simbol ketidakteraturan yang menjadi pangkal pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Hasilnya luar biasa. Penjagaan pada gerbang tiket menghasilkan penangkapan-penangkapan yang tak diduga sebelumnya. Setiap penangkapan ibarat membuka kotak hadiah yang penuh kejutan. Mainan apa yang didapat hari ini? Senjata api? Pisau? Karcis palsu? Uang palsu? Bahkan kadang-kadang ada tersangka pembunuhan. Tak lama kemudian orang-orang jahat mulai berpikir lebih panjang, setidaknya meninggalkan senjatanya dan membayar karcis ketika naik kereta.

Tahun 1994 Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisisan New York City oleh walikota yang baru Rudolph Giuliani. Bratton tetap melakukan strategi yang sama, memberantas perbuatan-perbuatan kecil yang mengganggu ketentraman, termasuk bahkan menangkap para tukang lap kaca mobil di perempatan jalan yang kemudian meminta uang jasa ke pengendara. ”Kami mulai menegakkan hukum dalam kasus-kasus ringan seperti mabuk-mabukan di tempat umum, buang air kecil sembarangan, termasuk membuang botol di jalanan,” demikian kata Bratton. Ketika kriminalitas mulai menurun di kota itu, secepat penurunan di kereta bawah tanah, Bratton dan Giuliani menunjuk ke sebab yang sama. Kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh, yang lazimnya dianggap tidak signifikan, kata mereka, merupakan titik lenting (tipping point) menuju kejahatan-kejahatan besar. Demikianlah seperti dikutip dari buku Tipping Point tulisan Malcolm Gladwell.

Sengaja saya mengutip buku Malcolm Gladweel diatas, untuk mengawali bab ini. Pastinya bertanya mengapa ya? Bila kita perhatikan, apa yang terjadi dalam dunia supporter sepakabola di negeri ini, memang diakibatkan oleh hal-hal biasa yang dibiarkan. Padahal hal-hal yang dianggap biasa itu sejatinya akan merawat tabiat dan budaya buruk dalam dunia suporter kita.

Ambil contoh saja, ketika para penonton dilarang membawa masuk botol minuman ke dalam stadion yang dianggap akan digunakan untuk melempar ke dalam, namun jangan heran kalo didalam stadion sudah ada tukang-tukang minuman botol. Jumlahnya cukup banyak. Ini jelas sebuah lelucon yang aneh.
Pembiaran-pembiaran yang lainnya adalah ketika banyaknya spanduk-spanduk bernada melecehkan suporter lain yang didiamkan dan bebas dipasng di sisi-sisi stadion. Asli ini berbahaya, sebab bagi suporter yang dilecehkan dalam spanduk tersebut hal ini berarti penghinaan dan bisa diartikan sebagai ajakan berperang. Sehingga mereka akan melakukan balasan serupa.

Ingat, manusia memiliki ego. Mereka tidak suka dihina apalagi ketika hinaan itu berlangusng di depan publik. Mereka juga tidak suka diperlakukan secara kejam dan dicaci maki seenaknya. Ini ego dasar manusia. Maka kalo memang manusia itutidak suka dihina ya, jangan menhina orang lain. Kita juga meraskan hal yang sama jika kelompok atau komunitas kita disakiti oleh orang lain.

Kemudian satu hal yang penting dan juga merupakan kelalain adalah ketika para actor-aktor intelektual kerusuhan suporter di biarkan bebas begitu saja menonton pertandingan sepakbola. Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Di negara-negara eropa mereka memiliki data base siapa saja pembuat onar dalam kerusuhan sepakbola, lalu mereka melarang orang tersebut untuk masuk kedalam stadion, jangankan masuk mendekatinya saja sudah haram bagi mereka.

Makanya dalam setiap pertandingan denagn event besar seperti Piala Dunia. Biasanya negara tuan rumah akan meminta data-data mereka yang dianggap sering menjadi perusuh di negara peserta masing-masing. Bahkan tak jarang mereka bekerja sama dalam urusan teknis. Ini dilakukan agar para actor-aktor intelektual tersebut dapat dicegah memasuki stadion yang akhirnya akan menimbulkan ancaman bagi terselenggaranya event tersebut.

Sekali lagi teori kacah pecah ini mengajarkan kepada kita bahwa kejahatan dan kerusakan yang ada padangay itu menular. Ia layaknya sebuah wabah penyakit yang gampang menyebar lewat udara. Terlebih ketika di zaman informasi mudah di akes saat ini.

Maka inilah yang harus coba dilakukan oleh badan yang menggelar suatu pertandinagn sepakbola di negeri ini. Begitu juga dengan aparat keamanan. Karena berbahaya membiarkan suatu kesalahan yang dianggap kecil, sebab sutu kesalah kalao dilakukan berulang-ulang itu akan menjadi suatu kebiasaan, dan bila kebiasaan ini dilakukan dalam waktu yang lama bisa jadi akan membentuk budaya baru yang tentu saja akan sangat-sangat sudah dihilangkan. Ambil contoh saja kasus Korupsi. Semua orang sepakat bahwa korupsi itu haram dan merugikan. Tetapi, karena adanya pembiaran maka hal-hal yang tadinya dianggap terlarang itu akan menjadi budaya baru dan pastinya akan sangat sulit untuk dberantas. Seperti saat ini.

Jadi cobalah dari sekarang untuk berlaku sesuai aturan. Ini juga berlaku bagi para pengurus kelompok-kelompok suporter. saya yakin semua kelompok suporter memiliki peraturan-peraturan yang psoitif. Tetapi masalahnya apakah peraturan tersebut sudah diterapkan atau hanya sekedar formalitas belaka? Nah, ini yang harus dijawab dengan jujur dan niatan yang baik pula.

Selasa, 26 Januari 2010

Dibalik Alasan Seseorang Menjadi Suporter

Ada banyak ragam, motif maupun alasan seseorang rela mendukung suatu kesebelasan. Pastinya alasan seorang yang satu tidak sama dengan orang yang lainnya. Banyak pendukung satu kesebelasan yang sama, tetapi motif antara yang satu dengan yang lainnya pasti beragam.

Faktor pertama, dan ini biasanya menjadi faktor dominan, seseorang menjadi pendukung fanatic suatu kesebelasan adalah kebanggaan akan daerahnya. Dan ini hampir berlaku secara umum dimana saja. Seseorang mencintai klubnya itu karena klub itu barasal dari daerah atau kota. Maka wajar saja, jika warga Bandung identik dengan Persib, warga Jakarta identik dengan Persija, orang Surabaya sayang dengan Persebayanya. Factor kedaerahan akan sangat cocok bila di satu kota tersebut memiliki dua tim. Ambial contoh Jakarta, disana ada dua klub, yang kebetulan juga berlaga di Liga Super, Persija Jakarta dan Persitara Jakarta Utara. Maka disini akan sangat kelihatan warga Jakarta Utara akan lebih dominan menjadi pendukung klub Persitara. Walau prestasi yang diraih belum bisa menyamai prestasi kakak tuanya. Begitu juga warga di Kabupaten Bandung akan menonjolkan fanatisme dan kecintaan yang sangat tinggi kepada Persikab, Kabupatan Bandung.


Factor kedua seseorang menjadi pendukung suatu team adalah factor keluarga. Keluarga sanagat mempengaruhi seseorang akan menyukai sesuatu. Sebab kita tahu kelaurga adalah lingkungan terdekat dan terakrab dengan kita. Di kota saya, Depok, banyak anak-anak yang menjadi pendukung Persikad Depok, karena sering diajak oleh orang tuanya menyaksikan laga-laga Persikad. Akhirnya ketika mereka tumbuh besar hal ini terbawa. Jadi boleh saja Depok dekat dengan Jakarta dan Bogor, tetapi mereka tetap setia mendukung Persikad Depok.

Factor selanjutnya yang mempengaruhi seseorang menjatuhi pilihan untuk mendukung suatu kesebelasan adalah prestasinya. Banyak klub yang disukai orang karena mereka memiliki prestasi yang banyak. Ambil contoh saja ketika Manchester United berhasil meraih Treble Winner, maka banyak orang yang tiba-tiba menjadi pendukungnya The Red Devils. Banyak pendukung dadakan yang awalnya gak tahu apa dan gimananya MU tiba-tiba membeli kaus-kaus MU.

Saat itu banyak remaja yang mengidolakan jago-jago MU. Padahal sebelumnya mereka jarang mendengarnya. Bahkan seorang kawan yang tadinya terkenal sebagai penggemar Arsenal, beralih mendukung MU, kluab yang menjadi saingan terberat The Gunners.

Yang berikutnya bisa jadi karena pemainnya. Ini yang saat ini banyak dikalangan ABG, utamanya kaum hawa. Mereka suka Liverpool karena disana ada Fernando Toress dan Steven Gerard. Begitu juga ketika mereka mengaku menjadi pendukung The Guners itu tak lebih karena adanya si tampan Cesc Fabregas. Atau ketika ada yang mendukung Chelsea karena factor Michael Balack dan Frank Lampard. Biasanya sih mereka gak begitu peduli dengan bagaimana permainan klub yang disukainya tersebut. Yang ada dalam pikiran hanyalah menyaksikan pemain idolanya bertanding. Ini juga yang menyebabkan L.A Galaxy berani membayar seoarng David Beckham dengan harga mahal. Padahal kita tahu usia Beckahm saat ini bukanlah usia prodktif dan potensial bagi seoarng pemain sepakbola. Namun, Beckham adalah pemain sepakbola yang mempunyai nilai jual tinggi dan banyak penggemarnya, dan ini bagi mereka yang jeli melihat dari sisi bisnis adalah keuntungan yang sangat besar. Asumsi ini terbukti, dimanapun Beckham bermain selalu saja menguntungkan bagi klub yang dibelanya. Tetapi seorang mengdiolai seoarng pemain gak selalu soal tampang loh. Banyak yang suka Ronaldinho Karena gaya permainannya. Begitu juga ad ayang suak dengan Lionel Messi juga karena goyangannya yang yahud dan mematikan. Jadi sekali lagi ini gak hanya soal tampang loh.

Selanjutnya yang juga mempengaruhi seseorang menjadi penggemar suatu klub adalah karena gaya atau tipe permainan klub tersebut. Saya suka dengan Ajax Amsterdam adalah karena gaya bermain menyerangnya. Begitu juga pada musim 2007/2008 banyak yang suka dengan Arsenal karena gaya permainannya yang efektif dan ofensif. Atau ada seoarng yang suka dengan gaya permainan cepat dan keras ala Inggris, ada juga yang suka permainan ala Brasil yang lebih mementingkan sisi skill dan teknik pemain. Sedangkan di Indonesia banyak yang suka dengan gaya permainan yang ditawarkan oleh klub Pelita Jaya, yang dinamis dan mencerminkan gaya sepakbola modern.

Sebetulnya masih banyak factor-faktor lainnya seperti. Klub tersebut adalah klub pertama yang disaksikannya hingga dia tertarik. Bisa juga karena media yang selalu meliput suatu klub, hingga nama klub tersebut memiliki arti dan makna tersendiri bagi seseorang. Dan yang lain sebagainya.



Senin, 02 November 2009

Mens Sana In Corpore Sano

Masih ingat dengan pepatah romawi, Men sana in corpore sano? Pastinya kita masih ingat. Di Sekolah Dasar dulu dalam mata pelajaran Penjaskes pepatah ini sering keluar dalam soal-soal ulangan. Pepatah ini berarti dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Namun, benarkah pepatah ini masih relevan pada saat ini? Terlebih kalau kita kaitkan dengan dunia olahraga atau mereka yang sering melakukan olahraga. Sejatinya bila merujuk pepatah ini, mereka yang gemar berolahraga pastinya selaih memiliki tubuh yang kuat dan sehat juga memiliki sikap jiwa dan mental yang sehat pula.



Sayangnya, dalam pengamatan dan dunia nyata, pepatah ini sudah sangat tidak relevan. Banyak orang yang berolahraga, karenanya ia berbadan sehat dan kuat tetapi sayangnya memiliki sikap jiwa yang rusak, busuk, amoral dan lainnya.

Betapa tidak dalam dunia olahrga kini hal-hal seperti doping, pemalsuan umur, suap-menyuap dan segala sifat buruk lainnya sudah sangat susah dipisahkan. Sifat-sifat itu sudah melebur hingga bisa dibilang hal yang biasa dan lumrah. Di dalam negeri saja, kericuhan antar pemain sepakbola, yang seharusnya mereka bisa menerima apapun hasil yang didapat, telah menjadi hal lumrah yang kadang dicari oleh penonton itu sendiri. Wasit sudah tidak mendapat tempat sebagai sang pengadil. Mereka dilecehkan. Sebaliknya terkadang wasit juga menjadi satu bagian dari konspirasi pertandingan. Bukti bahwa insan-insan olahraga telah kehilangan jiwa yang sehat.

Yang parah adalah ketika sarana-sarana olahraga dijadikan tempat oleh para pejabat, politisi maupun mereka yang memegang kekuasaan sebagai tempat meloby dan menciptakan kebijakan-kebijakan aneh. Sudah tidak asing kalau para pejabat bermain tenis dan golf, maka besoknya ada kebijakan-kebijakan aneh.

Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. Hasil sudah menjadi tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.

Inilah dunia era modern dimana kesuksesan dan kemenangan telah menjadi berhala baru. Padahal agama manapun menolak kemenangan sebagai berhala. Disaat inilah apa yang pernah dikatakan Pieree de Coubertin, tokoh dalam Olimpiade 1896, “Yang paling penting dalam Olympiade bukanlah untuk menang. Melainkan untuk mengambil bagian” patut untuk kembali direnungkan.

Rabu, 01 Juli 2009

Drama Adu Penalty Moment Bagi Kiper Unjuk Diri…

Bagi penggemar sepakbola pasti sudah familiar dengan istilah Adu Penalty, dulu kita mengenalnya dengan nama tos-tosan. Agak aneh emang, sebab yang namanya to situ biasanya memakai tangan bukan dengan cara menendang bola, tapi kadung udah membudaya ya udah itu tidak harus menjadi persoalan.

Adu Penalty terjadi bila dalam babak normal 2 x 45 menit hasil pertandingan masih imbang kemudian dilanjutkan dengan babak pertambahan waktu 2 x 15 menit masih juga belum ada pemenang maka babak adu penalty harus dilakukan untuk dicari pemenang. Awalnya masing-masing tim menyiapkan 5 algojo penendang plus kiper yang bertugas menjaga gawang. Bila kelima penendang dari masing-masing kesebelasan sudah melaksanakan tugas tetapi hasil masih juga sama, maka dilanjutkan dengan penendangn tambahan hingga terjadi selisih angka.



Adu penalty sebenarnya sangat dihindari oleh setiap tim yang bertanding, sebab disini strategi dan taktik sudah tidak berlaku lagi. Dalam beberapa moment keajaiban atau dewi fortuna lebih banyak menjadi factor penentu kemenangan. Makanya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia sempat membahas untuk menghapus system ini dari pertandingan sepakbola.

Tapi dalam babak adu penalty ada satu posisi yang akan menjadi obrolan dan perbincangan. Dalam pertandingan normal posisi ini biasanya jarang di jadikan pembahasan tetapi ketika babak adu penalty semua perhatian akan menuju ke sati sisi ini. Yap, itu adalah peran sang penjaga gawang. Bila dalam pertandingan normal penjaga gawang selalu kalah pamornya dari posisi lain seperti striker atau gelandang. Namun saat adu penalty penjaga gawang biasanya sering menjadi factor penentu kemenangan sebuah tim.

Banyak nama yang besar dan terkenal setelah melalui babak adu penalty sebut saja nama penjaga gawang Argentina di Piala Dunia 1990 Sergio Goycochea (moga-moga benar ejaannya, habis udah lama bangat … heheheh) awalanya tidak ada yang mengenal nama ini, dia hanyalah kiper pengganti dari penjaga gawang utama Argentina yang cedera dalam salah satu pertandingan. Namun kehebatannya dalam menghadang tendangan penalty mulai melejitkan namanya.

Dalam moment adu penalty pula Tim Howard kiper nasional AS dan pilar di klub Inggris Everton menjadi bahan perbincangan. Aksinya menahan tendangan-tendangan pemain Manchester United dalam babak semifinal piala FA berhasil meloloskan Everton ke final piala FA.

Begitu juga dengan Jerzy Dudek yang akan selalu diingat oleh fans Liverpool karena aksi gemilangnya dalam drama adu penalty saat mengalahkan AC Milan dalam final liga champion 2005.Bahkan sebelum drama adu penalti, Dudek juga berhasil menggagalkan tendangan Andriy Shevchenko yang bisa menjadi neraka bagi The Reds di perpanjangan waktu.

Lalu siapa yang mengenal nama Hendra Prasetya? Sebelum ini kita memang belum mengenalnya namun dalam pertandingan Playoff Indonesia Super League ketika Persebaya berhadapan dengan PSMS Medan, seluruh penggemar bola mulai mengenalnya. Dia adalah penjaga gawang Persebaya Surabaya yang sukses menggagalkan tendangan dua pilar PSMS, Zada dan oktaviani, hingga akhirnya mengantarkan Persebaya memasuiki kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Saya yakin selama ini public sepakbola Indonesia bila menyebut Persebaya akan selalu tertuju ke nama-nama seperti Anang Ma’ruf, Mat Halil, M. Taufik, Jairon Feliciano atau pemain muda Andik. Jarang kita akan menyebut nama Hendra. Namun aksinya semalam saya yakin akan membuat public sepakbola Indonesia terlebih Bonek ( Fans berat Persebaya) akan lebih mengingatnya. Maka bias jadi ditengah ketidakpercayaan pemain PSMS harus kalah lewat babak adu penalty Hendra akan bersyukur dengan adanya babk tersebut.