Pages

Selasa, 21 April 2009

Takut itu Wajar!

Semua orang pasti memilik rasa takut. Siapapun dia pasti pernah mengalami ketakutan itu. Ini memang wajar dan merupakan fithrah dari seorang manusia. Tetapi bagaimana manusia merespon rasa takut itu yang berbeda. Banyak orang yang dengan rasa takutnya itu malah menghindar dan selalu merasa gamang dalam hidupnya. Tetapi, banyak orang dan tokoh besar pula yang terbentuk akibat rasa takut yang dimilikinya.


Ambil contoh Umar Ibnu Khottab. Sebagai manifestasi rasa tanggung jawab dalam memimpin dan rasa takutnya kepada Alah SWT hampir setiap malam dia ngeluyur ke tengah-tengah kampung, keluar masuk lorong untuk melakukan check on the spot untuk mengetahui langsung apa yang terjadi pada rakyatnya. Kalau-kalau ada yang kelaparan; ada yang sakit atau kena mausibah-musibah lain. Ketika berhenti sejenak disebuah rumah kecil milik seorang janda miskin dia mendengar sebuah dialog antara ibu dengan anak prempuanya. Sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang akan dijual besok dengan air karena sedikit sekali hasil perahan yang diperoleh tadi siang. Menurut sang ibu kalau tidak dicmpur bakal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan untuk hari ini. Sang anak gadis tidak setuju dengan pendapat orang tuanya dengan alasan, Khalifah melarang keras kita berbuat demikian. Sang ibu megnemukakan alasan bahwa, " Kan Khalifah tidak juga mengetahui pebuatan kita ini".

Sang anak dengan penuh keseriusan mencoba meyakinkan orang tuanya bahwa, "Khalifah Umar memang tidak mengetahui tapi Tuhan Yang Maha Kuasa pasti mengetahuinya. Saya minta dengan sangat jangan sampai ibu berbuat demikian".

Peristiwa itu terjadi menjelang subuh. Umar Ibnu Khattab menuju mesjid sambil menangis haru. Usai shalat Subuh anaknya yang bernama Ashim diperintahkan menyelidiki rumah orang tua miskin yang mempunyai seorang gadis itu. Setelah Ashim kembali menceritakan segala sesuatu tentang keluarga itu, Umar Ibnu Khottab memerintahkan anaknya yang memang sudah berkeinginan untuk nikah agar menikahi gadis miskin tapi suci itu. Mudah-mudahan dari hasil pernikahan itu, kata Umar Ibnu Khottab, lahir seorang pemimpin Arab.

Ternyata kemudian memang terbukti do'a dan harapan itu. Dari hasil penikahan itu lahirlah seorang perempuan yang bernama Laila yang akhirnya dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Umar bin Abdul Aziz yang kelak menjadi khalifah mewarisi kepemimpinan kakeknya, Umar Ibnu Khottab.

Umar bin Abdul Aziz dikenal sangat berwibawa serta jujur dan adil didalam menjalankan mekanisme pemerintahannya. Digambarkan sebagai seorang yang dikepalanya terdapat akal bijak, didadanya terdapat hati pahlawan, dimulutnya terdapat lidah sastrawan. Kelak dia menguasai negeri-negeri Maroko, Aljazair, Tunisia, Tripoli, Mesir, Hijaz, Najed, Yaman, Suriah, Palestina, Yordania, Libanon, Iraq, Armenia, Afghanistan, Bukhar sampai Samarkand.

Kendati dia tetap tinggal di sebuah rumah kecil yang tidak lebih bagus dari rumah penduduk pada umumnya. Sehingga utusan-utusan negara-negara lain yang ingin menemuinya pusing mencari rumahnya, karena jauh diluar bayangannya kalau rumahnya sejelek itu.

Ini adalah buah dari rasa takut yang dimiliki oleh perempuan miskin disudut kota yang menarik hati Khalaifah Umar Ibnu Khattab untuk menikahkan dengan putranya. Lalu melahirkan seorang Laila yang tumbuh dalam iman dan taqwa kepada Allah SWT. Gadis suci dan cantik itu kemudian dipersunting oleh seorang yang tepandang di Madinah karena iman dan taqwanya pula, Abdul Aziz bin Marwan.

Satu lagi cerita yang menggambarkan buah dari rasa takut melakukan perbuatan dosa. Seorang anak yang memungut buah delima yang ranum dari sungai. Setelah dimakan lalu timbul penyesalan. Dia sangat menyesal memakan buah itu tanpa izin kepada pemiliknya. Padahal buah-buahan yang gugur yang dialirkan oleh sungai lazimnya tidak ada lagi sangkut pautnya dengan yang punya. Namun karena anak ini seorang yang wara' , sangat takut melakukan dosa. Dia menelusuri sungai itu kearah hulu sampai dia menemukan sebuah kebun delima. Dicarinya pemilik kebun itu. Dengan sangat agar dia dapat dimaafkan karena telanjur memakan buah delima yang didapati terapung di sungai. Dalam hati pemilik kebun itu, ini tentu bukan anak sembarangan. Si pemilik kebun itu mengetes anak ini. "Tidak mungkin saya maafkan, kecuali kalau kau mau menikahi anak gadisku". "Tapi saya belum ingin nikah, Pak". Jawabnya. "Ya, terserah, tapi saya tidak memaafkanmu". "Baiklah Kalau begitu, saya siap menikahi anak Bapak". " Tapi perlu kamu ketehui" –- kata orang tua itu– "Bahwa anak gadis saya itu buta, bisu, tuli dan lumpuh".

Setelah berfikir sejenak, dalam hatinya secara manusiawi berkata, "Mau diapakan perempuan seperti itu. Tidak dapat diajak berkomunikasi". Tapi demi keselamatannya dari kungkungan dosa yang membahayakan kehidupannya kelak diakhirat dia terima ajakan itu. Diapun dinikahkan langsung oleh orang tua itu setelah memanggil saksi.
Setelah nikah dia sendiri disuruh mendatangi isrinya di kamar. Alangkah kagetnya, karena yang ditemui di kamar adalah seorang perempuan cantik. Mungkin perempuan itu penjaga gadis cacat itu, pikirnya. Dia kembali menemui mertuanya. "Tidak ada di kamar perempuan seperti yang Bapak maksud itu. Di kamar tidak ada orang yang buta, bisu, tuli dan lumpuh.

Sang mertua menjelaskan," Itulah yang Bapak maksud, nak!. Yang saya katakan buta karena tidak suka melihat yang jelek-jelek yang dapat mendatangkan dosa; yang Bapak maksudkan dengan bisu karena tidak suka ngomong yang mendatangkan dosa; yang saya maksudkan dengan tuli karena dia sangat tidak senang mendengar suara-suara yang mendatangkan dosa; yang saya maksud dengan lumpuh karena dia tidak suka kemana-mana, lagi-lagi kaarena takut terlibat dalam perbuatan dosa. Makanya ketika kamu datang melaporkan perbautanmu meminta dimaafkan atas perbuatanmu memakan buah delima yang hanyut di sungai, langsung saya tangkap kamu, karena orang baik-baiklah yang mau melakukan itu. Saya tidak ingin menikahkan anak saya dengan sembarang orang".
Hasil pertemuan kedua orang "takut berbuat dosa" itu, lahirlah seorang ulama besar, yang kita kenal dengan Imam Syafi'i, yang mazhabnya paling banyak pengikutnya di seluruh dunia. Ulama yang sejak umur 7 tahun sudah menghafal Al-Qur'an 30 juz.

Kisah-kisah diatas mengajarkan kepada kita bagaimana mengelola rasa takut. Jadi rasa takut itu untuk dihadapi bukan untuk dihindari. Rasa taku itu seharusnya memancing kita untuk berbuat lebih kreatif..


Rabu, 01 April 2009

Bohong

Entah untuk yang keberapa kali saya memutar film Shattered glass. Dan serasa tak ada bosannya kali inipun saya kembali menontonnya. Film ini memang bukan film action yang selalu menampilkan ketegangan dalam setiap adegannya. Film ini juga bukan film drama romantis yang akan membuat penontonnya menitikkan air mata. Jadi, bagi kedua penggemar film tersebut kayaknya dijamin gak bakalan betah duduk berlama-lama.



Film ini hanya sebuah film drama yang mengisahkan tentang seorang wartawan muda berbakat bernama Stephen Glass. Ia seorang wartawan di tabloid terkemuka di Amerika Serikat The New Republic. Tabloid ini walau tidak bertiras besar layaknya the Washington postatau he New York Times. Namun, tabloid ini menjadi kepercayaan sebagai tabloid yang boleh masuk ke dalam pesawat kepresidenan AS. Air Force One.

Stephen Glass dikisahkan sebagai seorang wartawan muda yang memiliki bakat cemerlang. Hal ini terlihat bagaimana dengan kemudaan usianya tersebut ia mampu menembus sebagai seorang wartawan dalam The New Republic. Banyak artikel yang ditulisnya mampu membuat pembacanya terhenyak. Ya, Stephen Glass mampu melihat celah-celah yang tidak dilihat oleh wartawan lain untuk kemudian ditulis sebagai sebuah artikel yang bagus.

Tetapi siapa yang sangka, ternyata banyak artikel yang dibuatnya merupakan saduran dari karya sebelumnya bahkan tak jarang artikel tersebut hanya lahir melalui rekaannya saja atau dengan kata lain itu karya fiksi. Sesuatu yang sangat tabu bagi wartawan dimana saja, yang harus selalu menyandarkan berita yang dibuatnya berdasar sebuah fakta. Walau memang ada investigasi yang dilakukannya tetapi apa yang kemudian ditulisnya sangat jauh dengan fakta yang ada.

Awalnya ia bisa menutupi hal tersebut dari rekan-rekannya apalagi pembacanya. Tetapi layaknya pepatah, “sepandai-pandai tupai melompat maka akan jatuh juga”. Maka begitulah Stephen Glass. Ketika ia menurunkan artikel tentang dunia Hacker. Seorang wartawan dari majalah computer terkemuka curiga dengan apa yang ditulis oleh wartawan muda tersebut. Ia merasa ada yang ganjil dengan data-data dan fakta yang dipaparkan oleh Glass.

Maka iapun melakukan investigasi untuk melihat apakah cerita yang diungkapkan oleh Stephen Glass tersebut benar-benar sesuatu yang nyata. Ternyata apa yang dicurigainya benar. Kisah dalam artikel itu seratus persen fiktif, semua kisah dalam tulisan tersebut hanyalah merupakan khayalan Glass semata. Maka jatuh dan hancurlah karier Stephen Glass. Ia harus rela melepaskan kariernya di The New Republic.

Ya, seorang wartawan muda yang potensial harus merelakan kariernya yang sedang menanjak akibat suatu sifat yang selalu melekati manusia bohong. Suatu sifat yang seharusnya kita lawan dan enyahkan jauh-jauh tetapi banyak mereka yang menyukainya. Bahkan tak jarang dunia usaha sekarang memakainya untuk menaikkan angka penjualan produksi mereka.

Saat menyaksikan film ini, saya langsung teringat dengan pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw. Suatu ketika, Safwan bin Sulaim bertanya kepada Rasulullah saw, “Adakah seorang mukmin itu penakut?” beliau menjawab, “ya” kemudian ditanyakan lagi, “Adakah seorang mukmin itu bakhil?” beliau menjawab, “ya” lalu, Safwan kembali bertanya, “Adakah seorang mukmin itu pembohong?” dengan tegas Rasulullah saw menjawab, “tidak”

Ya, terkadang ada kalanya seorang mukmin itu menjadi penakut. Begitu pula adakalanya seorang mukmin itu menjadi penakut. Tetapi, Rasulullah saw menggaransi bahwa seorang mukmin itu tidak boleh menjadi seorang pembohong. Apapun kondisi dan situasinya.

Begitulah Rasulullah saw mengajarkan kita. Bahkan disaat bercandanya saja pun beliau tidak mentolerir suatu kebohongan boleh dilakukan. Bagaimana dikisahkan suatu ketika seorang perempuan tua bertanya kepadanya, “Ya, Rasulullah, doakan agar aku kelak masuk surga bersamamu” lalu beliau menjawab, “Di surga tidak ada nenek-nenek” mendengar hal ini sang nenek terdiam. Ya, kalo gak ada nenek-nenek disurga maka dimana kelak ia akan berada, mungkin begitu yang ada dibenaknya. Namun, sebelum sang nenek menitikkan air matanya, Rasulullah saw menjelaskan bahwa penghuni surga nanti akan menjadi muda. Begitupula dengan sang nenek yang insya Allah akan masuk dalam surga dan kembali menjadi muda. Maka terkembanglah senyum dari muka sang nenek.

Begitu pula dalam kondisi perang sekalipun. Kondisi yang biasanya bohong dan tipu daya dijadikan taktik dan strategi. Namun, Rasulullah saw memperintahkan para sahabat dan pasukan muslimnya untuk selalu memegang kejujuran yang dengannya pertolongan Allah swt akan selalu hadir. Sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh George W. Bush. Dengan kebohongan ia menjustifikasi tindakannya untuk melakukan penyerangan terhadap Irak dan Afghanistan.

Tetapi apa yang terjadi hari ini begitu ironis dengan apa yang digariskan oleh Rasulullah saw. Mayoritas muslim telah menjadikan kebohongan itu bukan sesuatu yang tabu lagi. Kebohongan kini seakan-akan suatu sifat yang wajar. Bahkan tak jarang ada yang menjadikan sifat ini untuk mencari penghasilan hidupnya. Seorang kawan pernah bercerita bahwa teman satu kantornya yang mencapai sukses bercerita kepadanya, kalo mau berhasil dan sukses seperti dirinya maka sifat munafik harus melekat pada diri anda. Ada seorang suami yang tanpa malu-malu berselingkuh dengan wanita lain begitu juga dengan sang istri yang berselingkuh dengan pria lain.

Ya, bohong kini telah menjadi budaya yang tidak aneh dan tidak asing lagi. Ia telah berubah dari sesuatu yang tabu menjadi sesuatu yang seakan-akan menjadi baik. Semua orang melegalkannya. Mulai dari lingkungan negara, kantor, masyarakat hingga di lingkuangan terkecil keluargapun kebohongan dianggap biasa.

Bahkan kini kebohongan pun dilegalkan dengan adanya April mop. Suatu budaya boleh berbohong dan seakan-akan bohong itu suatu kewajiban diawal bulan April. Dan budaya itupun kini coba diadopsi oleh kaum muslim. Seakan-akan mereka berkata gak apa dong kalo dalam satu hari kita boleh berbohong. Naudzubillahimindzalik