Pages

Rabu, 18 November 2009

Menulislah Maka Kau Membuat Sejarah

Seorang teman senyum-senyum sendiri, ketika melihat postingan lama di blognya. Seolah bergumam kata-kata kecil keluar dari mulutnya ketika sampai di kepingan-kepingan kisah yang ditulisnya ke dalam rangkaian kata.

Disinilah apa yang dimaksud oleh pak Hernowo, sebagaimana tercatat dalam buku terbarunya Mengikat Makna Update, aktivitas menulis sebagai kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan menjadi benar adanya.



Dengan kata lain bisa disebut dengan melakukan aktivitas menulis kita sedang membuat sejarah! Ya, sejarah tentang apa yang kita tulis saat ini dan akan di baca di masa yang akan datang. Sejarah yang akan menceritakan kepada mereka yang lahir kemudian.
Sadar atau tidak sadar sebuah sejarah diketahui melalui guratan-guratan apa yang didokumentasikan oleh sang pelakunya. Begitulah buku catatan soe hok gie mampu menggambarkan sejarah dalam masanya yang masih bisa dibaca hingga masa kini. Atau kumpulan catatan harian Anne Frank yang menulis peristiwa ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat temannya di Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II, yang mampu menciptakan sejarah dari apa yang dilihat dan ditulisnya.

Atau kalo kita mau mundur kebelakang, banyak benda-benda bersejarah ketahuan asal-usulnya berdasarkan prasasti yang menjelaskan peninggalan sejarah itu terbuat tahun berapa, zaman kerajaan apa dan dalam situasi apa, dan ini terbawa sampai sekarang dimana dalam setiap pendirian bangun yang penting selalu di buat prasasti yang mendokumentasikan kapan bangunan ini dibuat dan siapa yang meresmikan.
Saking pentingnya aktivitas menulis seorang sejarahwan, Ahmad Mansyur Suryanegara, sampai harus mengingatkan kepada umat islam untuk tidak meninggalkan aktivitas menulis. Dalam bukunya Api Sejarah ia menjelaskan bahwa banyaknya fakta sejarah perjalanan Islam di Indonesia yang hilang akibat banyak peristiwa yang ketika itu tidak tercatat dan terekam dengan baik.

Jadi jangan ragu untuk menulis walaupun itu sebuah buku harian saja. Percayalah berharganya sebuah buku harian bukan pada saat di tuliskan tetapi pada saat kita ingin mengingat moment-moment apa yang ingin kita ulang.
Nah, bila dengan menulis maka kita sedang membuat sejarah maka yang harus menjadi modal adalah kejujuran tentang apa yang kita tuliskan. Lain hal jika anda ingin membuat kisah atau cerita fiksi. Kejujuran isi tulisan menjadi factor penting apa yang akan kita tulis, ini agar tidak tercipta distorsi mereka yang membaca.

Jadi, selamat menulis…. 


0 komentar: