Pages

Kamis, 19 November 2009

Di Budak Teknologi

“ aduh, maaf gw lagi gak bisa nulis lagi nih, coz laptop gw lagi bermasalah, jadi susah deh menuangkan ide-ide segar” kata seorang kawan beberapa hari yang lalu

Kata serupa saya dengar dari seorang wartawan yang suka mangkal di tempat saya bekerja, “gak enak nih communicator rusak jadi gak semangat nulis berita”

Dua kejadian diatas membuat saya tersadar bahwa teknologi di bebarapa kalangan atau orang sudah bergeser fungsinya, yang tadinya hanya sebagai alat pembantu manusia menjadi sesuatu yang harus ada. Saya yakin anda bisa membedakan antara alat bantu dengan alat yang harus ada. Jadi soal ini tidak usah dijelaskan lagi ya.

Cak Nun pernah menyingsung kondisi yang demikian dengan bahasa diperbudak teknologi. Ya, teknologi telah membuat kita sangat bergantungan. Bahkan bagi banyak orang teknologi udah ibarat nyawa. Jadi tidak heran bila banyak orang yang berteriak-teriak saat listrik mati. Ada yang mengeluhkan panas karena AC jadi mati, atau ada juga yang terganggu aktivitas dunia mayanya.

Dengan kecanggihan fungsinya, teknologi telah menjelma menjadi ‘monster’ baru dalam kehidupan manusia. Hidup terasa hampa dan tak bermakna ketika produk teknologi tidak dimiliki. Sehingga tidak salah banyak orang yang mati-matian memiliki gadget terbaru. Di tempat saya ada seorang penjual martabak kaki lima yang bela-belain punya HP model terbaru yang berharga 3 juta-an, yang dibeli dengan system kredit perhari seharga lima ribu rupiah, bayangin aja berapa belas bulan dia harus mencicil itu HP.

Nah, kembali ke masalah tulis-menulis, dua kisah yang pengantar diatas menyadarkan saya, bahwa aktivitas menulis tidaklah harus terganggu karena ketiadaan sarana yang selama ini menemani kita. Laptop dan Communicator atau teknologi semacamnya bukanlah patokan produktivitas apa yng kita hasilkan. Harus diingat yang pertama kali menemani kita merangkai kata adalah alat yang sederhana (entah itu buku ataupun tembok rumah)

Kita harus kembali membiasakan untuk selalu bisa berkarya dan menuliskan ide-ide kita dalam segala situasi dan kondisi. Ingat, sebuah ide segar tidak datang dua kali, biasanya akan mudah lepas begitu kita terlewat momentumnya. Sebuah ide bagi seorang perkarya ibarat kita melihat luncuran bintang diatas langit, sangat cepat lewatnya, hingga jika kita tidak fokus akan tidak tersadar dengan apa yang kita lewat.

Jadi, sebelum ide-ide segar anda terlewat, hayo tuangkan apa yang akan anda tulis. Ingat pake ape aje.....

1 komentar:

penakayu mengatakan...

wah gimana kalo nggak nulis karena diperbudak cinta ha ha