Pages

Sabtu, 28 November 2009

Kalimat pertama yang menggebrak

Jefrey Lang, seorang pakar matematika yang akhirnya memeluk islam, terkaget saat membaca ayat kedua surah Al-Baqarah yang berarti, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”dia bertanya kitab apa ini yang begitu yakin dan pede memberikan garansi?
Dari pertanyaan awalnya itu ia semakin penasaran dengan Al-Qur’an hingga akhirnya keraguan yang timbul diawal berubah menjadi sebuah ketakjuban yang dilanjutkan dengan keimanan hingga ia menjadi seorang muslim.
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang dibuka dengan kalimat-kalimat yang menggebrak lalu dianjutkan dengan jawaban-jawaban yang juga menakjubkan hingga sang pembacanya semakin asyik dan tenggelam dalam setiap maknanya.

Ini juga yang harus di perhatikan oleh para penulis. Seorang penulis harus mampu membuka tulisannya dengan kalimat pembuka dengan tulisan yang aktif dan merangsang. Hindari memulai tulisan dengan kata-kata yang mengambang dan stagnan, sebab itu akan membuat kita kesulitan untuk meneruskan apa yang akan kita tulis selanjutnya.

Ya, ibarat sebuah pandangan pertama yang menggoda begitu juga dengan kalimat atau paragraph pembuka bila kita membukanya dengan lincah, aktif dan selalu membuat pembaca tergerakkan dan terbangun imajinasinya maka ia akan selalu membaca karya tulis kita sampai dengan kalimat terakhir.

Al-Qur’an telah memberi contoh pada kita. Banyak surat Al-Qur’an yang dibuka dengan kalimat-kalimat yang membuat sang pembaca menjadi pembaca yang aktif. Seperti pada surah Al-Ghasiyah yang dibuka dengan kalimat, “sudah datangkah kepadamu berita hari pembalasan?” walau dibuka dengan kalimat Tanya tetapi ini bukan untuk dijawab dengan kata-kata, tapi mengajak kita berpikir mendalam atau merenung secara sungguh-sungguh yang ujung-ujungnya kita akan mencari tahu akan kelanjutan surah tersebut.

Maka, hayo mulai nulis dan buka tulisan dengan kalimat yang menggugah……


Seputar Judul

Apa sih arti judul bagi sebuah buku? Kira-kira itu sebuah pertanyaan dari seorang kawan saat diskusi seputar penulisan. Inilah keunikan dari proses membuat sebuah buku. Judul walaupun kesannya gampang dan sepele dibandingkan isi bukunya terkadang membuat seorang penulis garuk-garuk kepala untuk menemukannya.

Kumpulan kata, biasanya terdiri dari 3 suku kata, yang membentuk kalimat dan ditaruh di cover sebuah buku. Itulah judul bila kita deskripsikan. Namun, walau kecil dan ringkas kalimatnya Judul dalam sebuah buku memiliki peran penting yang akan membuat kesan pertama seorang pembaca akan buku tersebut.

Bagi banyak penulis membuat sebuah judul yang akan memikat seorang pembaca dalam pandangan pertamanya adalah peristiwa yang sangat menakjubkan. Walau banyak juga penulis yang tidak terlalu mau ambil pusing bukunya akan di beri judul apa. Namun, bagi saya penemuan sebuah judul adalah proses yang sangat menegangkan.

Sebuah buku yang berisi, berkelas dan berkarakter harus memiliki judul yang mengikat keseluruhan akan isi buku tersebut. Setidaknya 3 suku kata yang ada di depan cover itu harus bisa membuat seorang pembaca bertanya dan menggali apa makna isi buku tersebut, sehingga ketika judul saja telah membuat penasaran yang melihatnya otomatis sang pembaca akan penasaran dengan isi buku tersebut. Dalam banyak kasus ujung-ujungnya sang pembaca akan langsung membeli buku tersebut.

Seperti pengalaman saya tatkala melihat buku wartawan senior Rosihan Anwar yang berjudul Sejarah Kecil Indonesia. Dari judulnya saja buku ini sudah membuat kita penasaran, banyak sejumlah kalimat Tanya yang terungkap semisal, “Lah, apa tuh sejarah kecil Indonesia?” atau “Bila ada sejarah kecil lalu sejarah besarnya apa?” dan macam-macam pertanyaan menelisik lainnya.

Lalu juga buku terbaru karya sejawaran Ahmad Mansyur Suryanegara, yang berjudul Api Sejarah. Hanya dengan 2 suku kata judul buku ini telah mampu menggambarkan tentang fakta-fakata sejarah seputar kontribusi kaum ulama dan santri dalam menegakkan kemerdekaan di Indonesia.

Jadi, sebuah judul tidak bisa dibuat asal-asalan, sebuah judul harus mewakili karakter baik itu buku maupun sang penulisnya juga. Sebuah judul yang baik harus bisa membawa daya imajinasi serta menggerakkan sang pembaca.

Jadi walau hanya terdiri dari 3 suku kata judul itu sangat penting untuk dicermati. So, selamat menemukan judul yang pas dengan karakter diri dan tulisan anda.


Kamis, 19 November 2009

Di Budak Teknologi

“ aduh, maaf gw lagi gak bisa nulis lagi nih, coz laptop gw lagi bermasalah, jadi susah deh menuangkan ide-ide segar” kata seorang kawan beberapa hari yang lalu

Kata serupa saya dengar dari seorang wartawan yang suka mangkal di tempat saya bekerja, “gak enak nih communicator rusak jadi gak semangat nulis berita”

Dua kejadian diatas membuat saya tersadar bahwa teknologi di bebarapa kalangan atau orang sudah bergeser fungsinya, yang tadinya hanya sebagai alat pembantu manusia menjadi sesuatu yang harus ada. Saya yakin anda bisa membedakan antara alat bantu dengan alat yang harus ada. Jadi soal ini tidak usah dijelaskan lagi ya.

Cak Nun pernah menyingsung kondisi yang demikian dengan bahasa diperbudak teknologi. Ya, teknologi telah membuat kita sangat bergantungan. Bahkan bagi banyak orang teknologi udah ibarat nyawa. Jadi tidak heran bila banyak orang yang berteriak-teriak saat listrik mati. Ada yang mengeluhkan panas karena AC jadi mati, atau ada juga yang terganggu aktivitas dunia mayanya.

Dengan kecanggihan fungsinya, teknologi telah menjelma menjadi ‘monster’ baru dalam kehidupan manusia. Hidup terasa hampa dan tak bermakna ketika produk teknologi tidak dimiliki. Sehingga tidak salah banyak orang yang mati-matian memiliki gadget terbaru. Di tempat saya ada seorang penjual martabak kaki lima yang bela-belain punya HP model terbaru yang berharga 3 juta-an, yang dibeli dengan system kredit perhari seharga lima ribu rupiah, bayangin aja berapa belas bulan dia harus mencicil itu HP.

Nah, kembali ke masalah tulis-menulis, dua kisah yang pengantar diatas menyadarkan saya, bahwa aktivitas menulis tidaklah harus terganggu karena ketiadaan sarana yang selama ini menemani kita. Laptop dan Communicator atau teknologi semacamnya bukanlah patokan produktivitas apa yng kita hasilkan. Harus diingat yang pertama kali menemani kita merangkai kata adalah alat yang sederhana (entah itu buku ataupun tembok rumah)

Kita harus kembali membiasakan untuk selalu bisa berkarya dan menuliskan ide-ide kita dalam segala situasi dan kondisi. Ingat, sebuah ide segar tidak datang dua kali, biasanya akan mudah lepas begitu kita terlewat momentumnya. Sebuah ide bagi seorang perkarya ibarat kita melihat luncuran bintang diatas langit, sangat cepat lewatnya, hingga jika kita tidak fokus akan tidak tersadar dengan apa yang kita lewat.

Jadi, sebelum ide-ide segar anda terlewat, hayo tuangkan apa yang akan anda tulis. Ingat pake ape aje.....

Rabu, 18 November 2009

Menulislah Maka Kau Membuat Sejarah

Seorang teman senyum-senyum sendiri, ketika melihat postingan lama di blognya. Seolah bergumam kata-kata kecil keluar dari mulutnya ketika sampai di kepingan-kepingan kisah yang ditulisnya ke dalam rangkaian kata.

Disinilah apa yang dimaksud oleh pak Hernowo, sebagaimana tercatat dalam buku terbarunya Mengikat Makna Update, aktivitas menulis sebagai kegiatan merekam, menyimpan dan mendokumentasikan menjadi benar adanya.



Dengan kata lain bisa disebut dengan melakukan aktivitas menulis kita sedang membuat sejarah! Ya, sejarah tentang apa yang kita tulis saat ini dan akan di baca di masa yang akan datang. Sejarah yang akan menceritakan kepada mereka yang lahir kemudian.
Sadar atau tidak sadar sebuah sejarah diketahui melalui guratan-guratan apa yang didokumentasikan oleh sang pelakunya. Begitulah buku catatan soe hok gie mampu menggambarkan sejarah dalam masanya yang masih bisa dibaca hingga masa kini. Atau kumpulan catatan harian Anne Frank yang menulis peristiwa ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat temannya di Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II, yang mampu menciptakan sejarah dari apa yang dilihat dan ditulisnya.

Atau kalo kita mau mundur kebelakang, banyak benda-benda bersejarah ketahuan asal-usulnya berdasarkan prasasti yang menjelaskan peninggalan sejarah itu terbuat tahun berapa, zaman kerajaan apa dan dalam situasi apa, dan ini terbawa sampai sekarang dimana dalam setiap pendirian bangun yang penting selalu di buat prasasti yang mendokumentasikan kapan bangunan ini dibuat dan siapa yang meresmikan.
Saking pentingnya aktivitas menulis seorang sejarahwan, Ahmad Mansyur Suryanegara, sampai harus mengingatkan kepada umat islam untuk tidak meninggalkan aktivitas menulis. Dalam bukunya Api Sejarah ia menjelaskan bahwa banyaknya fakta sejarah perjalanan Islam di Indonesia yang hilang akibat banyak peristiwa yang ketika itu tidak tercatat dan terekam dengan baik.

Jadi jangan ragu untuk menulis walaupun itu sebuah buku harian saja. Percayalah berharganya sebuah buku harian bukan pada saat di tuliskan tetapi pada saat kita ingin mengingat moment-moment apa yang ingin kita ulang.
Nah, bila dengan menulis maka kita sedang membuat sejarah maka yang harus menjadi modal adalah kejujuran tentang apa yang kita tuliskan. Lain hal jika anda ingin membuat kisah atau cerita fiksi. Kejujuran isi tulisan menjadi factor penting apa yang akan kita tulis, ini agar tidak tercipta distorsi mereka yang membaca.

Jadi, selamat menulis…. 


Senin, 02 November 2009

Mens Sana In Corpore Sano

Masih ingat dengan pepatah romawi, Men sana in corpore sano? Pastinya kita masih ingat. Di Sekolah Dasar dulu dalam mata pelajaran Penjaskes pepatah ini sering keluar dalam soal-soal ulangan. Pepatah ini berarti dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Namun, benarkah pepatah ini masih relevan pada saat ini? Terlebih kalau kita kaitkan dengan dunia olahraga atau mereka yang sering melakukan olahraga. Sejatinya bila merujuk pepatah ini, mereka yang gemar berolahraga pastinya selaih memiliki tubuh yang kuat dan sehat juga memiliki sikap jiwa dan mental yang sehat pula.



Sayangnya, dalam pengamatan dan dunia nyata, pepatah ini sudah sangat tidak relevan. Banyak orang yang berolahraga, karenanya ia berbadan sehat dan kuat tetapi sayangnya memiliki sikap jiwa yang rusak, busuk, amoral dan lainnya.

Betapa tidak dalam dunia olahrga kini hal-hal seperti doping, pemalsuan umur, suap-menyuap dan segala sifat buruk lainnya sudah sangat susah dipisahkan. Sifat-sifat itu sudah melebur hingga bisa dibilang hal yang biasa dan lumrah. Di dalam negeri saja, kericuhan antar pemain sepakbola, yang seharusnya mereka bisa menerima apapun hasil yang didapat, telah menjadi hal lumrah yang kadang dicari oleh penonton itu sendiri. Wasit sudah tidak mendapat tempat sebagai sang pengadil. Mereka dilecehkan. Sebaliknya terkadang wasit juga menjadi satu bagian dari konspirasi pertandingan. Bukti bahwa insan-insan olahraga telah kehilangan jiwa yang sehat.

Yang parah adalah ketika sarana-sarana olahraga dijadikan tempat oleh para pejabat, politisi maupun mereka yang memegang kekuasaan sebagai tempat meloby dan menciptakan kebijakan-kebijakan aneh. Sudah tidak asing kalau para pejabat bermain tenis dan golf, maka besoknya ada kebijakan-kebijakan aneh.

Sportivitas kini telah hilang berganti dengan teror, intrik dan segala macam taktik curang lainnya. Hasil sudah menjadi tujuan semata tanpa mau melihat prosesnya. Etika fair play telah memudar dan hilang. Inilah efek dimana sang pemenang akan dipuja sedang mereka yang kalah (walau telah berusaha) selalu dianggap sebagai pecundang.

Inilah dunia era modern dimana kesuksesan dan kemenangan telah menjadi berhala baru. Padahal agama manapun menolak kemenangan sebagai berhala. Disaat inilah apa yang pernah dikatakan Pieree de Coubertin, tokoh dalam Olimpiade 1896, “Yang paling penting dalam Olympiade bukanlah untuk menang. Melainkan untuk mengambil bagian” patut untuk kembali direnungkan.