Pages

Rabu, 27 Mei 2009

Berubah itu mudah kok

Salah satu pandangan yang menyebabkan orang sulit atau tidak bisa berubah dari kebiasaan lamanya bahwa kebiasaan itu susah atau sulit untuk diubah. Bahkan ada yang bilang ini sudah takdir hidupnya. Makanya banyak orang yang terpuruk sering beranggapan bahwa kepurukannya itu tak lebih disebabkan oleh jalan hidup dari yang Maha Kuasa. Tetapi benar gak sih pendapat itu? Asli guys sesungguhnya pendapat itu gak benar. Sejatinya kebiasaan itu bisa kok untuk dirubah. Buktinya aja bagaimana sistem politik orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun bisa untuk dirubah.
Dan ngomong-ngomong soal takdir, ternyata itu gak bisa dilepaskan dari yang namanya hukum sunatullah atau yang lebih akrab dengan nama hukum sebab akibat. Jadi kalo kita mau pintar ya belajar kalo kita ingin kaya ya harus bekerja, menabung dan tidak foya-foya begitu juga kalo kita mau masuk surga ya harus rajin beribadah dan terus mempertahankan ketakwaan kepada Allah swt. Jadi gak benar tuh dengan pendapat kalo yang namanya takdir itu gak bisa diubah.




Padahal sebagaimana yang kita tahu manusia ketika dihadirkan ke dalam dunia ini dalam keadaan fitrahnya. Gak ada satupun pesanan atau perintah nih orang mo jadi orang jahat ataupun orang baik. Yang ngebentuk seseorang itu jadi baik or jahat banyak faktornya, bisa faktor eksternal seperti lingkungan permainan, ortu dan hal-hal yang ia dapatkan dari situasi dan kondisi pada saat itu bisa juga karena memang faktor internal yang datang dari dirinya sendiri.
Jadi, sesulit dan semelekat apapun kebiasaan itu seseungguhnya hal itu bisa kok diubah. Banyak bukti tentang hal itu. Misalnya, hadits yang mengisahkan tentang seorang yang telah membunuh seratus orang yang pada akhirnya dia bisa bertobat., hingga malaikat menempatkannya di surga. Jadi dengan kata lain sesuatu yang berat dan sulit itu bisa dilakukan bila kita mo usaha dan bekerja keras mewujudkannya.
Makanya Allah swt memberi manusia itu akal yang dengan seharusnya digunakan untuk berpikir atau memikirkan apakah yang dilakukannya itu benar atau nggak. Itulah sejatinya fungsi dari akal, tetapi sekarang akal itu kebanyakan digunakan untuk melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan mau itu benar atau kagak.
Maka yang pertama bila kita ingin berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain ialah betulkan paradigma kita dulu. Paradigma ialah cara pandang kita terhadap sesuatu. Bila cara pandang kita salah maka salah pula dalam menghadapinya. Paradigma bahwa sesulit apapun merubah kebiasaan dalam diri kita disana tetap ada peluang untuk dirubah. Orang bijak berkata, “Tidak ada sesuatupun yang sulit selama masih ada kemauan”

Sadarilah kesalahanmu
Ok, bila sekarang kita telah sepakat bahwa kesalahan atau kebiasaan yang kita lakukan selama ini itu bisa berubah. Maka, langkah selanjutnya adalah menyadari kesalahan yang telah kita lakukan. Misalnya jika selama ini kita menjadi perokok lalu ingin berhenti merokok maka kita harus sadari bahwa merokok itu gak baik dan hanya membuang biaya serta dapat menimbulkan penyakit di kemudian hari.
Karena gimana kita mo tahu kalo kebiasaan yang kita lakukan itu gak baik tanpa kita sadari terlebih dahulu ketidak baikan dari kebiasaan itu. Hal inilah yang kebanyakan orang lupa, jadi alih-alih dia mau ngerubah kebiasaannya yang ada hanya mempertahankannya dengan sejumlah dalil untuk dijadikan pembenaran.
Seperti seorang kawan yang mau berhenti dari kebiasaannya ngerokok. Berulang kali ia menyatakan hal tersebut kepada saya tetapi ketika diberi tahu bahwa rokok itu adalah sumber berbagai penyakit seperti paru-paru dan jantung ia malah menampik. Nah, kalo sudah begini jelas akan susah untuk kesananya.
Ya, menyadari kesalahan yang kita miliki memang tidak semudah menyadari bila kesalahan itu ada pada diri orang lain. Kita akan berhadapan dengan yang namanya ego. Disana akan ada selalu ada pembenaran-pembenaran atas apa yang kita lakukan. Terlebih bila lingkungan telah melegalisasi kesalahan yang kita lakukan seakan-akan itu adalah kebenaran.
Maka salah satu agar kita tahu dan sadar bahwa perbuatan kita gak baik itu ialah dengan cara keluar dari lingkungan lama kita. banyak kok caranya kita bisa bergaul ama orang yang baik, dan yang selalu berpikiran positif. Selain itu bisa juga lewat sarana membaca dan banyal belajar. Dengan begini kita akan dapat atau terbiasa untuk selalu melihat sesuatu dari dua sisi yang berbeda, agar kita dapat dengan mudah melakukan pertimbangan-pertimbangan. Sebab sangat sulit melakukan penilaian bila tidak ada dua hal yang berbeda untuk saling dinilai.

Saatnya membuat keputusan
Nah, sekarang adalah saatnya membuat keputusan setelah kita menyadari kesalahan dari kebiasaan kita maka sekaranglah saatnya yang tepat untuk membuat keputusan untuk beralih dari yang jelek ke yang baik. Membuat keputusan ini bukanlah perkara yang mudah dan juga tidak susah jadi bisa disebut susah-susah gampang lah.
Sebab ini berhubungan dengan yang namanya waktu. Waktu itu sifatnya dinamis dan cepat sekali dalam bergeraknya. Maka kita harus tepat dalam membuat keputusan. Jangan ada kata-kata, “entar aja ya kalo udah tua”, “tenang tar kalo udah saatnya gw juga bisa kok berubah” asli deh kata-kata ini sebetulnya adalah kata-kata pecundang yang merasa jago padahal dia gak ada apa-apanya.
Jadi buatlah keputusan saat ini juga. Jangan ditunda-tunda lagi. Tentunya kalian masih ingatkan dengan ungkapan, “kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya” makanya selagi ada kesempatan yang pertama maka langsung ambil keputusan untuk berubah.
Itulah yang dilakukan oleh Abu Dzar al-Ghifari ketika ia mendengar bahwa telah hadir seorang Rasul terakhir di kota Mekkah. Ia berinisiatif untuk berangkat kesana tanpa perlu menunda-nunda waktu lagi. Apalagi berpikiran nanti aja kalo sang Rasul hadir ke kotanya baru ia akan bertobat.
Imam Hasan al- Basri mengatakan, “Jauhilah sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan besok. Kalau esok engkau beruntung, maka keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau esok engkau mengalami kerugian, engkau takkan menyesal, karena hari ini engkau telah beramal”. Selain itu kita juga jangan melupakan Allah swt. Marilah berdo’a agar keputusan yang kita buat itu menjadi berkah serta tidak hanya sementara.
Memang memulai sesuatu yang baru itu akan berat diawalnya tetapi percayalah apabila kita menjalaninya semua itu akan menjadi sesuatu yang mudah dan enak untuk dirasakan. Ibarat kita mengayuh sepeda maka akan ada tenaga ekstra pada kayuhan pertama, tetapi pada kayuhan selanjutnya kita hanya memerlukan tenaga yang sedikit.
Maka hilangkan keragu-raguan. Jangan biarkan sikap ragu-ragu malah menghambat langkah dan perjalanan kita. mantapkan tekad sejak langkah pertama dan langkah selanjutnya menjadi terserah anda.

Slow but sure
Untuk merubah suatu kebiasaan maka langkah yang terbaik ialah merubahnya dengan cara perlahan tetapi pasti. Jangan memulai perubahan dengan sesuatu yang drastis, karena itu akan membuat diri kita terkejut dan kaget yang malah akan berefek kita untuk kembali kepada kebiasaan lama kita.
Masih ingatkan ketika kita masih kecil dan ingin melaksanakan puasa pertama kita? pastinya kita gak akan mencoba berpuasa seharian penuh, tetapi kita mencobanya dulu dengan seperempat hari, setengat hari, tiga perempat hari baru kita meyelesaikan puass kita seharian penuh. Karena memang tubuh kita butuh adaptasi dengan sesuatu yang baru.
Jadi disini kita tetap harus menghargai apa yang dinamakan dengan proses. Walau memang terkadang ada orang yang bisa melakukan perubahan dengan drastis langsung tetapi yakin deh orang seperti itu langka banget. Jadi coba deh semuanya dengan perlahan tapi pasti. Slow but sure istilah kerennya.

Jangan Hangat-Hangat Tahi Ayam
Selamat akhirnya kamu bisa merubah kebiasaan lamamu dengan kebiasaan baru yang lebih positif. Semoga sekarang kamu menjadi manusia baru dengan visi dan misi baru pula, tetapi kita jangan bangga dan bersenang dulu. Jangan cepat menganggap hal ini sebagai kemenangan yang sudah kita raih karena masih ada ujian selanjutnya. Hah?!!! Yap, ujian selanjutnya adalah bagaimana kita bisa tetap bertahan dengan catatan baru hidup kita ini. Jangan sampai kita hanya dapat berubah dalam waktu yang singkat aja setelah itu kembali kekeadaan semula.
Seperti bunyi pepatah meraih kemenangan itu sulit tetapi lebih sulit lagi mem¬pertahankannya, maka disinilah ujian yang sebenarnya. Jangan kamu anggap setelah kamu bisa berubah gak ada ujian atau godaan lagi, malah disini godaannya semakin banyak agar kita mau kembali ke kebiasaan buruk yang selama ini kita jalani.


Jumat, 08 Mei 2009

Politik tanpa Kritik

Hingar bingar dunia politik kini tengah mewarnai berbagai macam media di Indonesia, baik media cetak maupun elektronik. Ini tidak terlepas dari digelarnya Pemilu 2009. setelah pemilu legislatif selesai, maka kini para partai tengah seibuk menggalang koalisi untuk menuju pemiliah presiden dan wakil presidennya.

Para partai tengah asyik melobi kesana-kemari untuk membangun koalisi. Semua skenario masih bisa terjadi sampai adanya kepastian dalam bentuk deklarasi pasangan capres dan cawapres. Tapi sayang disini ada yang terlupa, seluruh partai siap-siap untuk menjadi penguasa, mereka melupakan satu peran penting yang seharusnya juga ada yang mengisi yaitu peran menjadi OPOSISI


Yap, berbicara mengenai oposisi adalah berbicara barang mahal di dalam jagad politik Indonesia. Oposisi ibarat tidak boleh dan sesuatu yang tidak bermanfaat. Oposisi sering dianggap tidak tepat dengan budaya timur yang santun. Padahal dalam alam demokrasi yang sehat Oposisi merupakan suatu keharusan.

Tidak ada pemerintahan yang benar-benar sempurna walaupun ia dipilih oleh mayoritas orang. Makanya dibutuhkan pembanding yang seharusnya lahir dari partai-partai politik yang memang bermain didalamnya. Memang telah ada oposisi dari luar seperti LSM dan yang lainnya namun, peran itu tidak sekuat ketika Partai politik yang mengambil peran itu. Tetapi sayangnya banyak partai yang belum menyadari hal itu.

Maka itu diharapkan dalam Pemilu 2009 ini bagi partai yang tidak berhasil meloloskan jagonya menjadi pemegang eksekutif, ada yang mengambil peran sebagai oposisi, yang bisa menjadi pembanding pemerintah yang berkuasa. Agar plotik ini menjadi politik yang terbuka akan kritik.

Kamis, 07 Mei 2009

Menyikapi Sejarah

Ada perasaan yang takjub ketika saya menyaksikan film dokumenter tentang pendidikan dasar di Amerika Serikat. Saat itu tentang pelajaran sejarah. Sangat beda pola pelajaran antara disini dan disana. Bila kita lebih dibiasakan teks book dengan apa yang dipelajari. Tetapi siswa disana sudah diajari bagaimana berpikir kritis dan mengeluarkan segala pendapatnya tentang apa yang dipelajari



Ketika mempelajari tentang perang saudara yang terjadi di Amerika. Para siswa dibolehkan membaca dari beragam referensi baik yang sesuai dengan pemerintah maupun yang agak melenceng dari versi pemerintah. Sehingga terjadilah diskusi yang baik dari berbagai sudut pandang. Walau tetap diberikan closing statement dari sang guru. Yang disertai dengan apa manfaat dan hikmah kejadian tersebut.
Begitu dinamisnya sistem pelajaran disana. Begitu irinya saya melihat hal itu. Sejak dini anak-anak di Amerika telah diajarkan untuk saling berbeda pendapat tetapi juga tanpa harus memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Sesuatu yang sangat langka disini. Maka bisa jadi karena lebih di paksakan untuk selalu ‘seragam’ kita agak kurang bijak bila ada seseorang yang berbeda pemahamannya kepada kita.
Saya coba membandingkan ketika saya mempelajari sejarah di sekolah dasar dulu. Saya dan kawan-kawan diajarkan untuk seragam. Ini terlihat dari ditekankannya siswa dengan satu buku yang sama. Jadi bagaimana mau berdiskusi kalo kami semua ketika itu telah bersepakat dengan suatu peristiwa. Hal ini diperparah dengan tidak diberikannya masukan atau pendapat oleh sang guru. Jadi jangan heran bila sampai saat ini kita masih susah untuk menerima adanya perbedaan di sekitar kita (tentunya perbedaan yang positif).
Bagi saya ini mungkin salah satu faktor mengapa Amerika bisa maju dengan cepat dan pesat. Karena mereka menghormati sejarahnya. Beda dengan kita yang hanya menjadikan sejarah sebagai hafalan saja, tanpa mau menelaah lebih jauh mengapa suatu hal itu bisa berhasil atau bisa gagal. Karena memang dengan belajar dari masa lalunya manusia itu bisa maju dan berkembang.
Ambil contoh lain Jepang. Bagaimana porak-porandanya negara ini di perang dunia ke dua. Terlebih setelah pihak sekutu membom atom dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki. Maka setelah itu bangsa Jepang menyadari kesalahannya di masa lalu. Lalu mereka menjadikan hal itu sebagai pelajaran berharga. Hasilnya kini bisa kita lihat. Bagaimana maju dan berkembangnya Jepang, bahkan, negara ini termasuk salah satu kekuatan dunia dalam bidang ekonomi untuk saat ini.
Banyak ragam manusia menyikapi sejarah. Ada yang acuh gak acuh seakan bagi mereka sejarah itu sesuatu yang tidak layak untuk ditengok lagi. Mereka selalu berbicara soal hari esok tetapi tak pernah memperhatikan hari-hari sebelumnya. Padahal apa yang kita lakukan hari ini merupakan perjuangan di hari lalu. Sedang kejadian esok hari adalah buah dari yang kita lakukan pada hari ini. (maaf) saya melihat ini pada bangsa kita. Bangsa ini seperti telah melupakan sejarah masa lalunya. Dan, bisa kita saksikan akibatnya pada masa ini.
Ada juga manusia yang selalu tenggelam dalam sejarah. Ia selalu menjadikan sejarah masa lalu sebagai patokan dan kebanggaan tetapi gak ada kemauan untuk kembali membangkitkan apa yang telah dicapai pada masa lalu. Inilah mungkin yang saat ini menghinggapi mayoritas umat Islam. Kita lebih suka membicarakan kegemilangan masa-masa awal Islam tetapi, kita gak mau atau serasa enggan untuk kembali menggunakannya di masa sekarang.
Ada juga manusia yang masa lalunya selalu menghantui perjalanan kehidupannya. Ia selalu dipenuhi dengan keputusasaan dengan hidupnya yang diakibatkan oleh suatu peristiwa yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Seperti seorang teman yang sehabis di PHK oleh pacarnya, selalu saja teringat dengannya. Hingga hidupnya seakan-akan berakhir disitu. Ia tidak mau menyadari betapa penting dan masih panjang hidupnya.
Tetapi ada juga manusia yang terpacu untuk bangkit dan berusaha merubah takdirnya setelah melihat sejarah masa lalunya. ia tidak mau masa lalunya malahan menjadikan ia seolah terpenjara. Sebaliknya, ia menjadikan masa lalunya sebagai lecutan dan pemotivasi untuk bertindak lebih baik di hari selanjutnya. Ia serasa tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk dua kali. Inilah sikap manusia-manusia besar. Siapa yang tidak mengenal Einstein. Dahulu ia dianggap bodoh. Tetapi setelah ia menemukan tentang teori atom julukan itu sirna dari dirinya.
Ya, sejarah itu bukan untuk dilupakan. Sebaliknya, sejarah harus dijadikan sebuah pelajaran untuk menciptakan loncatan kedepan.

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskna segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

Maka bagi siapa saja yang menganggap sejarah itu hanya masa lalu yang tidak layak diingat. Masa yang sudah hilang dan tidak boleh dibicarakan lagi. Atau masa yang hanya membawa seseorang kepada masa lalu yang gak pantas untuk dikenang. Mari simak apa yang dikatakan oleh tokoh Furqan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih-nya kang Abik.

“Sejarahlah yang memberitahu kepada kita siapa sebenarnya kedua orangtua kita. Siapa nama kakek nenek kita. Sejarah jugalah yang memberitahu kepada kita tempat dan tanggal lahir kita. Sejarah juga yang akan memberitahukan kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dahulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan memberitahukan kepada mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat kita dan orang-orang dahulu. Orang yang tidak memperhatika sejarah masa lalu sangat memungkinkan jatuh kedalam lubang yang sama dua kali, bahkan mungkin berkali-kali. Dan itu sungguh suatu kecelakaan yang pasti sangat menggelikan.”

Ya, begitulah sesungguhnya sejarah. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi sejarah itu.


Minggu, 03 Mei 2009

Belajar dari Lance Armstrong

Live Strong!
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Lance Armstrong.
Dia seorang atlit balap sepeda yang telah divonis mengidap kanker otak, testis dan paru-paru. Bahkan lebih buruk lagi, Lance, hanya mempunyai 45.99% peluang untuk hidup.



Tapi, Lance Armstrong tak mau mengalah dan menyerah begitu saja . Dia berjuang sekuat tenaga untuk hidup dan mencari kekuatan dalam dirinya untuk melawan vonis dokter itu Setelah sembuh, dia menyertai semula Tour De France dan menjadi juara. Dia membuktikan pada dunia, dia boleh sembuh dari kanker yang membawa maut dan tak membiarkan kanker tersebut membayangi hidupnya.

Bukan menang secara kebetulan dan bukan menang sekali, tapi 7 kali! Semua itu hasil dari mindset, fighting spirit, terus berjuang, fokus, usaha konsisten dan berlatih dengan ekstrem, maksudnya lebih dari latihan atlit biasa. dia berkata knowledge is power.

Lance Armstrong tak perduli apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Hanya ada 2 fokus dalam hidupnya selepas sembuh dari kanker. Pertama, isteri dan anak-anaknya. Kedua, misi pribadinya untuk memenangi Tour De France.

Ada kisah yang menarik dari sepenggal kehidupan Lance Armstrong diatas. Seseorang yang sudah divonis mengidap kanker dan hidupnya tidak lama lagi, tetapi mampu menjadi seorang juara dunia sepeda.

Dia tidak mau menyerah dengan keadaan. Baginya selama dirinya bisa berbuat dan bekerja maka itulah yang akan dilakukannya. Dia tidak mempedulikan kata-kata orang lain yang memvonisnya. Malahan sebaliknya dengan kata-kata itu ia menjadi tertantang untuk membuktikan kualitasnya.

Ya, Lance Armstrong berhasil menjadi seorang pemenang. Tidak hanya pemenang dalam kejuaraan sepeda, tetapi Armstrong juga menjadi pemenang dalam kehidupannya.
Maka marilah kita menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Jangan menjadi seorang pecundang. Seorang pemenang ialah mereka yang selalu menciptakan tantangan dan kreativitas. Bukan mereka yang selalu melontarkan alasan demi alasan. Seorang pemenang ialah mereka yang berhasil menemukan masalahnya lalu memecahkannya. Bukannya seorang yang selalu menjadikan masalah sebagai kambing hitam.
Bisa saja Lance Armstrong mundur dari balapan sepeda dengan alasan penyakit kankernya, tetapi bukan itu yang dilakukannya. Ia malah semakin tertantang untuk terus menantang. Begitu juga ia bisa menjadikan penyakitnya sebagai kambing hitam dalam kegagalan prestasinya, tetapi bukan itu juga yang dilakukannya.
Hal ini pula yang pernah dialami oleh Ubay bin Ka’ab. Akibat kekhilafannya mundur dari perang ia mendapat hukuman dari Rasulullah saw. namun, ia tidak menjadikan hukuman itu sebagai pembenarannya untuk melakukan makar terhadap kepemimpinana Rasulullah saw. tetapi ia menjadikan hukuman itu sebagai bahan introspeksi diri, hingga ia kembali menemukan dirinya.

Jadi, mari kita buktikan bahwa omongan-omongan miring orang lain terhadap kita itu salah. Jangan jadikan omongan-omongan itu menjadikan kita semakin kerdil dan tak berdaya. Tetapi jadikan hal itu sebagai lecutan untuk tersu berprestasi dan berkarya. Dulu Thomas Alva Edison banyak yang menuduh gila karena usahanya dalam membuat lampu pijar, tetapi itu tidak menjadikannya berhenti dan mengaku kalah. Hingga akhirnya dia dapat menemukan bohlam lampu yang masih bias kita nikmati sampai saat ini…

Kebersihan Hati

Ada kisah tentang tingkah laku seorang sahabat yang oleh Nabi Muhammad saw dijamin bakal menjadi penghuni surga yang kekal. Kisahnya demikian.

Rasulullah pada suatu ketika duduk bersama sahabat. Saat itu lewatlah sahabat lain. Sahabat itu tidak menonjol, biasa saja,. Tetapi kepada para sahabat yang lain, Nabi berkata tentang sahabat yang satu ini. “Dia adalah seorang lelaki calon penghuni surga,” kata beliau sambil menunjuk lelaki itu.



Mendengar itu, Abdullah bin Umar menjadi penasaran. Ia berupaya mengetahui rahasia kehidupan orang yang dipastikan oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. “Apa amalan lelaki Anshar ini, dan apa pula kelebihannhya,” kata Abdulah dalam hati.
Untuk menyelidiki orang tersebut, Abdullah bin Umar pun meminta diperbolehkan tinggal selama beberapa hari di rumah sahabat yang dikatakan Nabi calon penghuni surga itu. “Jika tidak keberatan, aku ingin tinggal bersamamu untuk beberapa hari saja,” katanya. “Ada apa dengan kamu?”

“Aku baru saja bertengkar dengan ayahku. Dan aku bersumpah tidak ingin bertemu dengannya selam tiga hari ini,” kata Abdullah berbohong. “Boleh, silahkan kapan saja dan berapa lama pun bisa,” kata sahabat itu dengan ramah.

Selama tiga hari itu, diamatinya tingkah laku dan tindak tanduk sahabat itu dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, setelah beberapa hari tinggal beberapa hari di rumah sahabat itu, Abdullah tidak menyaksikan kelebihan amalan atas sahabat itu. Ia menyaksikan kehidupan bakal penghuni surga itu biasa-biasa saja, amalan shalatnya pun biasa-biasa saja.

Saat hendak pamit, Abdullah terpaksa “membuka kartu” dan bertanya kepada tuan rumah bakal penghuni surga itu. “Saudaraku, sebenarnya aku tidak apa-apa dengan ayahku,” kata Abdullah. “Lalu ada apa kau tidur di rumahku?” tanya lelaki Anshar itu.
“Beberapa hari yang lalu, ketika kami sedang berkumpul dengan Nabi di masjid, beliau mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada orang Anshar calon penghuni surga masuk ke masjid itu. Dan laki-laki Anshar yang disebut-sebut Rasulullah itu adalah kamu.”
“Ah, benarkah begitu?” kata lelaki Anshar itu merendahkan diri. “Benar, Nabi berkata begitu. Cuma kini kami ingin tahu, apa sebenarnya amalan tuan sehingga Rasulullah memastikan tuan akan masuk surga?” tanya Abdullah.
“Oh, jadi selama ini kamu menyelidiki aku ya?”
“Ya,” katanya terus terang.
“Tak ada amalan khusus yang aku amalkan. Beginililah kehidupan saya sehari-hari sebagaimana yang anda saksikan sendiri beberapa hari di sini.” Kata sahabat Anshar itu. Mendengar jawaban itu, Abdullah semakin penasaran. “Tetapi masih ada sesuatu yang anda rahasiakan kepadaku.”
Pada akhirnya orang bakal penghuni surga itu juga ikut ”membuka kartu” dan mengungkapkan apa adanya. “Sesungguhnya yang aku amalkan dari ajaran Nabi adalah biasa saja. Aku berusaha sekuat tenaga tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan sesama kaum Muslimin. Aku berusaha selalu berusaha membersihkan hatiku dengan tidak pernah memiliki sifat iri hati serta menaruh rasa dengki dan hasad kepada orang lain sepanjang hidupku. Apalagi hasad terhadap kenikmatan yang diterima orang lain.
“Hanya itu?” tanya Abdullah. “Ya,” jawabnya.

Mendengar pengakuan jujur lelaki itu, Abdullah bin Umar semakin takjub mendengarnya. Secara lahiriah, amalan lelaki Anshar itu tak terlalu istimewa. Tetai secara rohaniah, amalan itu sungguh luar biasa. Bukankah memang banyak orang yang mampu menunaikan shalat tetapi tak mampu menjaga hatinya dari rasairi, dengki, hasad dan prasangka buruk kepada orang lain.

“Subhanallah, rupanya inilah amalan utama yang telah menjadikan dirimu mendapat kemuliaan di surga,” kata Abdullah di dalam hati sambil berpamitan meninggalkan rumah lelaki itu.

Begitulah rahasia yang ditemukan Abdullah bin Umar pada sahabat itu, sehingga ia mendapat jaminan Rasulullah akan menjadi penghuni surga. Kuncinya tidak iri hati, hasad, dan dengki kepada orang lain.

Amalan shalat sebanyak apapun tidak akan berguna jika di dalam hati orang itu masih terdapat sifat dengki dan iri hati. Orang yang terpuji di sisi Allah adalah orang yang menjalankan shalat dengan ikhlas dan menjauhi sifat dengki dan hasad seperti sahabat itu.

Saat ini begitu banyak orang yang shalat, tetapi efek shalatnya itu tidak terbawa pada kehidupannya diluar shalat. Ia masih suka berbuat aniaya, hasud, dengki dan mudah sekali marah.

Seharusnya shalat yang kita lakukan mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Seharusnya shalat yang kita lakukan memiliki kesan dalam kehidupan kita. seharusnya shalat yang kita lakukan melahirkan pribadi-pribadi unggulan. Begitu juga seharusnya shalat yang kita lakukan dapat melembutkan hati-hati kita.

Bukan salah shalatnya, sehingga kita tidak melakukan shalat lagi. Tetapi kesalahan ada pada kitanya. Sudahkah kita melaksanakan shalat itu dengan kesungguhan dan kepatuhan baik niat dan rukun-rukunnya. Sudahkah kita melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyuan dan thumaninah. Atau jangan-jangan kita menganggap shalat hanya sebagai kewajiban saja yang memberatkan hati kita.

Suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada Bilal, “Wahai Bilai istirahatkan kami dengan shalat”. Istirahat dengan shalat bukan istirahat dari shalat. Begitulah seharusnya kualitas shalat kita. sesungguhnya Rasulullah saw sedang menjak kita untuk beristirahat dari ragam kesibukan yang meletihkan dengan mendirikan shalat.
Sekarang bagaimana hati kita bila melihat kesuksesan tetangga kita, keberhasilannya dan kemakmurannya, dengkikah kita. atau juga bagaimana ketika kita melihat orang susah, senangkah kita?

Sesungguhnya amalan terberat dan tersusah ialah bagaimana menjaga hati kita. karena sifatnya yang mudah untuk berubah. Hati itu ibarat daun yang tertiup angin ia akan mengarah kemana angina berhembus.