Pages

Kamis, 22 Juli 2010

Syaikh Nawawi al-Bantani

Nama Imam Nawawi tidak asing lagi bagi dunia Islam terutama dalam lingkungan pesantren. Coz banyak karya-karya beliau yang dijadikan rujukan, bahkan bahan utama dalam pengajaran di pesantren. Apalagi karyanya yang berjudul Riyadush Shalihin.


Bicara Imam Nawawi, ternyata Indonesia punya juga lho ulama yang bernama Nawawi. Ia adalah Syaikh Nawawi al-Bantani. Meski tidak memiliki hubungan darah karena yang satu di Timur Tengah dan yang satu di Indonesia, namun Syaikh Nawawi termasuk ulama besar di jamannya.


Terlahir dengan nama Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanarial-Bantani-al-Jawi. Ia lahir di penghujung abad ke-18, tepatnya pada tahun 1230 Hijrah/1814 Masehi, di Banten, Jawa Barat. Sejak kecil ia telah diarahkan oleh orangtuanya, KH Umar bin Arabi untuk menjadi seorang ulama. Sejak kecil Nawawi benar-benar berada langsung dibawah pengawasan sang ayah. Baru ketika menjelang dewasa sang ayah menyerahkan Nawawi kepada KH. Sahal, seorang ulama terkenal di banten untuk dididik.


Pada usia 15 tahun Nawawi berangkat menuju Mekkah. Niat awalnya ialah untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, setelah musim haji usai ia berubah pikiran. Disana ia melihat seuatu yang ia idam-idamkan. Begitu banyak majelis ilmu dengan ulama-ulama yang terkenal. Maka ia memutuskan untuk bertahan dulu di Mekkah untuk menimba ilmu, baru setelah itu kembali ke tanah air.


Dan perjalanan menuntut ilmupun dimulai. Ia belajar dengan ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan yang lainnya. Oh ya, patut diketahui, dulu tersebut nama Syekh Ahmad Khatib Sambas. Beliau merupakan salah satu ulama Indonesia menjadi imam di Masjidil Haram. Dan beliau ini merupakan salah satu guru dari Nawawi di Mekkah.


Kurang lebih tiga tahun Nawawi menuntut ilmu di Mekkah. Berbagai dispilin ilmu mengenai keislaman ia pelajari. Setelah merasa bekal ilmunya cukup ia memutuskan untuk kembali ke tanah air. Hasratnya sudah tidak sabar untuk menularkan apa yang didapatnya di Mekkah pada kampung halamannya.


Sesampainya di tanah air ia langsung mengajar di pondok pesantren yang didirikan oleh sang ayah. Tetapi, ketika itu ia merasa kondisi di tanah air kurang mendukung dalam proses pengembangan ilmunya. Sebagaimana kita ketahui, saat itu Belanda sedang kencang-kencangnya mencengkeram Indonesia. Maka beliau pun memutuskan untuk kembali merantau ke tanah suci.


Di sana ia kembali berguru kepada ulama terkenal baik yang dari tanah air maupun yang dari luar. Karena kecerdasan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu menjadikan ia murid yang terpandang di Masjidil haram. Makanya tidak salah ketika syeikh Ahmad Khatib Sambas telah uzur dalam tugasnya sebagai imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk sebagai penggantinya. Sejak saat itu, ia resmi menjadi imam Masjidil Haram dengan panggilan Syeikh Nawawi al-Jawi.


Selain menjadi imam Masjidil Haram, beliau juga membuka halaqoh-halaqoh pengajian. Ia juga sempat belajar di Mesir. Lalu pernah berdialog langsung dengan Syeikh Muhammad Abduh, bahkan juga pernah berceramah di Al-Azhar, Kairo.


Karena kecerdasannya, dalam waktu tidak lama ia telah memiliki begitu banyak murid. Sejumlah nama seperti KH Kholil Madura, KH Asnawi Kudus, KH Tubagus Bakri, KH Arsyad Thawil dan KH Hasyim Asyari dari Jombang. Di kemudian hari nama-nama ini menjadi ulama-ulama yang terkenal di tanah air.


Sebagaimana ulama pada umumnya, Syeikh Nawawi juga memilki pemikiran dan pandangan yang khas. Beliau juga dikenal sangat konsisten dan mempunyai komitmen yang tinggi bagi perjuangan umat Islam. Meski demikian, dalam menghadapi belanda, ia mempunyai cara tersendiri. Ia tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapinya. Tetapi bukan berarti beliau tidak melawan. Dalam setiap kesempatan beliau selalu berpendapat untuk tidak melakukan kerjasama dalam bidang apapun dengan pihak kolonial. Syeikh Nawawi memang lebih suka memberikan perhatian dan berkhidmat kepada dunia ilmu dan pendidikan.


Sebagai seorang ulama, Syeikh Nawawi juga seorang pemikir. Bahkan kontribusinya cukup besar bagi perkembangan Islam di Indonesia. Beberapa karyanya hingga kini masih menjadi rujukan yang sangat penting dalam dunia pesantren. Maka, dalam kacamata Prof DR Azyumardi Azra, beliau merupakan bagian dari peta intelektualisme Indonesia.


Banyak karya yang sudah dibuatnya. Mau tau? Berikut yang pernah tercatat sejarah:

  1. Targhibul Musytaqin, selesai Jumaat, 13 Jamadilakhir 1284 Hijrah/1867 Masehi. Cetakan awal Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah.
  2. Fat-hus Shamadil `Alim, selesai awal Jamadilawal 1286 Hijrah/1869 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Daril Kutubil Arabiyah al-Kubra, Mesir 1328 Hijrah.
  3. Syarah Miraqil `Ubudiyah, selesai 13 Zulkaedah 1289 Hijrah/1872 Masehi. Cetakan pertama Mathba'ah al-Azhariyah al-Mashriyah, Mesir 1308 Hijrah.
  4. Madarijus Su'ud ila Iktisa'il Burud, mulai menulis 18 Rabiulawal 1293 Hijrah/1876 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, akhir Zulkaedah 1327 Hijrah.
  5. Hidayatul Azkiya' ila Thariqil Auliya', mulai menulis 22 Rabiulakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi, selesai 13 Jamadilakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi. Diterbitkan oleh Mathba'ah Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan, Surabaya, tanpa menyebut tahun penerbitan.
  6. Fat-hul Majid fi Syarhi Durril Farid, selesai 7 Ramadan 1294 Hijrah/1877 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1304 Hijrah.
  7. Bughyatul `Awam fi Syarhi Maulidi Saiyidil Anam, selesai 17 Safar 1294 Hijrah/1877 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah al-Jadidah al-'Amirah, Mesir, 1297 Hijrah.
  8. Syarah Tijanud Darari, selesai 7 Rabiulawal 1297 Hijrah/1879 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah `Abdul Hamid Ahmad Hanafi, Mesir, 1369 Masehi.
  9. Syarah Mishbahu Zhulmi `alan Nahjil Atammi, selesai Jamadilawal 1305 Hijrah/1887 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1314 Hijrah atas biaya saudara kandung pengarang, iaitu Syeikh Abdullah al-Bantani.
  10. Nasha-ihul `Ibad, selesai 21 Safar 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1323 Hijrah.
  11. Al-Futuhatul Madaniyah fisy Syu'bil Imaniyah, tanpa tarikh. Dicetak di bahagian tepi kitab nombor 10, oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1323 Hijrah.
  12. Hilyatus Shibyan Syarhu Fat-hir Rahman fi Tajwidil Quran, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1332 Hijrah.
  13. Qatrul Ghaits fi Syarhi Masaili Abil Laits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1321 Hijrah.
  14. Mirqatu Su'udi Tashdiq Syarhu Sulamit Taufiq, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah 1304 Hijrah.
  15. Ats-Tsimarul Yani'ah fir Riyadhil Badi'ah, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Bahiyah, Mesir, Syaaban 1299 Hijrah. Dicetak juga oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, 1342 Hijrah.
  16. Tanqihul Qaulil Hatsits fi Syarhi Lubabil Hadits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, Mesir, tanpa tarikh.
  17. Bahjatul Wasail bi Syarhi Masail, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Haramain, Singapura-Jeddah, tanpa tarikh.
  18. Fat-hul Mujib Syarhu Manasik al- 'Allamah al-Khatib, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah at-Taraqqil Majidiyah, Mekah, 1328 Hijrah.
  19. Nihayatuz Zain Irsyadil Mubtadi-in, tanpa tarikh. Diterbitkan oleh Syarikat al-Ma'arif, Bandung, Indonesia, tanpa tarikh.
  20. Al-Fushushul Yaqutiyah `alar Raudhatil Bahiyah fi Abwabit Tashrifiyah, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Bahiyah, Mesir, awal Syaaban 1299 Hijrah.


Syeikh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah pada 25 syawal 1314H/ 1879 M. Hingga saat ini, haul (peringatan kematian) diperingati setiap tahunnya dan dihadiri oleh puluhan ribu orang.

0 komentar: