Pages

Kamis, 30 Juli 2009

Tantangan dan Problem dalam Liputan Terorisme

Oleh : FARID GABAN

Jurnalisme adalah tentang etika, standar dan prosedur dalam menemukan kebenaran.

Salah satu tulang punggung jurnalisme adalah verifikasi independen terhadap pernyataan atau klaim sumber berita atas suatu fakta atau dugaan.

Informasi intelijen dan polisi dalam kasus terorisme bisa benar dan bisa pula salah. Tapi, informasi ini sulit, dan hampir mustahil, diverifikasi secara independen oleh wartawan/media.

Pernahkah ada verifikasi independen terhadap klaim di bawah ini?

- Ini kerjaan Jemaah Islamiyah.
- Didalangi oleh Noordin M. Top.
- Dilakukan dengan metode bom bunuh diri.
- Dilakukan dengan motif mendirikan negara Islam.



Saya berani mengatakan: tidak pernah ada. (Saya sendiri tidak pernah bisa melakukannya).

Jika sebuah klaim/pernyataan tidak bisa diverifikasi secara independen, yang
tersisa bagi kita hanyalah PERCAYA atau MERAGUKAN.

Sebagai wartawan, saya akan memutuskan percaya atau ragu berdasar pertimbangan logika,
bukti-bukti tak langsung, konteks, analisis motif dan kredibilitas sumber berita.

Ada banyak alasan untuk meragukan klaim polisi.

Di samping ada banyak kejanggalan dalam klaim itu, keraguan bisa bersumber terutama pada rendahnya kredibilitas polisi dan khususnya Detasemen Anti-Teror.

Mereka adalah sumber atas semua KLAIM tentang terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, unit polisi ini terlibat konflik-kepentingan sejak berdirinya. Mereka memperoleh dana besar dan konsultasi polisi/badan rahasia Amerika/Australia untuk kepentingan "war on terror" George Bush.

Ada unsur konflik-kepentingan di tubuh mereka.

Dalam prosedur jurnalistik, ada atau tidaknya konflik-kepentingan merupakan satu kriteria yang paling dipertimbangkan ketika menguji kredibilitas sumber berita.

Makin sering dan makin getol mereka membuat klaim tentang "organisasi hantu", yang tidak bisa diverifikasi secara independen, makin layak kita curiga akan motif mereka sendiri.

Saya akan punya kecurigaan sama seperti ketika mendengar seseorang begitu getol dan sangat bersemangat menuduh temannya membunuh, tapi bukti-bukti yang diajukannya sumir, hanya dia yang tahu, tidak bisa diverifikasi secara independen oleh orang lain.

Makin lantang dia bicara, makin curiga saya akan motif yang disembunyikan.

Selasa, 21 Juli 2009

Dunia mistik yang kita suka ......

Pasca aksi bom di mega kuningan yang begitu menghentak dan mengagetkan serta mengingatkan kita bahwa ancaman teror masih ada disekitar kita di masyrakat timbul berbagai persepsi dan duga-menduga mengapa teror ini kembali terjadi di negeri kita. Dari mulai siapa yang melakukan aksi ini, apa motifnya dan sebagai macamnya. Ada yang mengitkan ini dengan isu sara, ketidakpuasan akan hasil pilpres sampai-sampai ada yang mengaitkan ini dengan hal-hal yang berbau ghaib dan mistik.



(Nah hal terakhir ini yang menarik. Banyak masyarakat yang mengaitkan ini dengan mistik karena Presiden SBY tidak direstui alam. Ini diperkuat lagi dengan ramalan-ramalan orang-orang yang selama ini telah menempel di hati masyarakat. Memang isu presiden dengan isu marahnya alam pernah marak pada periode sebelumnya yaitu 2004.

Yah, dunia mistik dan ghaib memang sangat kuat di hati kita. Banyak hal dan peristiwa yang terlalu gampang kita percayai dan kita nikmati sebagai hal-hal yang mistik. Maka itu tidak heran film-film dengan tema-tema mistik dan ketidakjelasan asal-usulnya sangat laku dan digemari masyarakat kita.

Entah apakah kita memang terlalu takut dengan kejelasan dan kebenaran atau karena kita memang ogah memikirkan fakta karena terlalu malas untuk memeras otak dan mengeluarkannya sebagai sebuah logika. Sehingga kata-kata paranormal menjadi begitu saja kita percaya sebagai landasan kebenaran. Kalo begini kenyataannya maka rasionalitas bisa disebut sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat Indonesia.

Fakta banyaknya iklan-iklan paranormal dari yang mulai menebak makna nama, jodoh, kerjaan hingga apa misteri dibalik tanggal lahir kita membuktikan bahwa dunia ini sangat dekat dengan kita. Tidak hanya orang kecil yang bermain-main dengan dunia ini, orang-orang besar pun juga melakukannya walau dibungkus dengan kata-kata guru spiritual.

Bahkan pada masa kampanye yang lalu, banyak caleg yang seharusnya orang berpendidikan dan berpikir maju terlalu mudah mempercayakan masa depannya kepada praktek perdukunan. Bahkan yang sudah menjabat juga tidak ketinggalan saking takutnya kehilangan kuasa mereka asyik-asyik mendekat bahkan cenderung akrab dengan sang dukun.

Memang, terlalu banyak hal dan peristiwa yang belum terpecahkan di sekeliling kita, tapi terlalu naïf dan sayang sekali apabila kita begitu pasrah mempercayakannya pada paranormal tersebut. Bukankah kita dikasih kelebihan oleh sang pencipta berupa akal yang dengannya harus digunakan secara baik dan maksimal bukan hanya untuk didiamkan saja hingga tidka berguna yang menyebabkan kita tidak menjadi manusia yang bersyukur….


Senin, 13 Juli 2009

Ngomongin Oposisi

pasca pilpres 2009 yang sepertinya kemenangan sudah bisa dipastikan kepada kandidat SBY - Boediono media-meda tidak begitu saja kehabisan berita untuk dijual. Setidaknya ada dua wacana yang sekarang sedang marak yaitu urusan bagi-bagi kursi kabinet, yang konon katanya tiap partai pendukung sudah menyetorkan nama dalam amplop tertutup, dan siapa yang akan 'bertugas' menjadi oposisi.



nah, ngomongin oposisi memang bukan sesuatu yang mudah di negeri ini. oposisi dalam praktik politik Indonesia ibarat barang langka yang saking langkanya udah susah didapatkan gak tahu juga kalo di jalan surabaya sana. karena memang setelah orde baru berkuasa yang namanya oposisi udah gak laku dan kagak dibiarkan hidup dalam ranah politik yang berbeda walaupun hanya sekedar ide akan menjadi sasaran tembak, beruntung kalo hanya ditangkap kalo hilang tanpa arah.

padahal pasca kemerdekaan tokoh-tokoh politik indonesia sudah biasa saling serang dan kritik dalam tataran ide dan wacana. ingat ide dan wacana bukan ranah pribadi. mereka asyik mengkritik satu dan yang lainnya tanpa harus ketakutan kehilangan kemerdekaan pribadi maupun keluarganya. teror-teror sedikit mungkin wajar tapi itu bukan masalah.

sekarang oposisi seperti sesuatu yang dihindarkan. tokoh partai golkar setelah kekalahan kandidatnya langsung berkomentar bahwa parti ini dibangun untuk memiliki peran dalam pemabangunan bangsa. seolah-olah oposisi adalah sampah dan tidak berperan bagi pembangunan bangsa. maka kita sebuat apa Nelson Mandela yang dalam kehidupannya dihabiskan untuk beroposisi lalu Aung san su kyii dai Myanmar yang sampai saat ini harus kehilangan Hak Azazinya karane memperjuangkan sesuatu yang juga bukan untuk dirinya saja.

sekarang tokoh besar lain lagi berkata bahwa beroposisi harus memiliki modal dalam arti rupiah. saya ragu dahulu masyumi yang sering berhadapan dengan partai pemerintah sebagai partai besar dengan modal melimpah.

pemilu 2004 sepertinya kita harus bersyukur bahwa PDI-P berkomitmen untuk beroposisi terhdapa pemerintah. namun sayang bahwa oposisi yang diambil hanya didasari kebencian dan kedengkian yang penting asal beda, tidak ada tawaran solusi yang baik. sampai-sampai sang ketua partai ienggan bertemu dan berjabat tangan dengan SBY. sesuatu yang aneh. padahal menjadi oposisi bukan berarti kita saling membenci apalagi memaki. beroposisi tidak sama dengan memutus tali silaturahim. oposisi adalah tugas mulia ini juga ranah berlomba-lomba meraih kebaikan. ini sebuah tugas bukan pekerjaan 'daripada' atau 'sekedar'....

jadi cukup menark untuk menunggu apakan akan ada yang mengambil jalan beroposisi agar demokrasi ini semakin bermakna dan berwarna....

Minggu, 12 Juli 2009

Pengkhianat

Menyaksikan film Down Fall, yang mengisahkan tentang detik-detik kejatuhan rezim Nazi Jerman saya cukup terharu. Bukan terharu pada kekejaman Hitler terhadap kaum Yahudi. Sebab, walau ada alasan untuk membenci kaum itu, tetap saja apa yang dilakukan oleh Hitler kita tolak.

Walau film ini bersetting perang dunia ke dua. Kita akan sangat sedikit menemukan bunyi dentuman meriam dan pertempuran tentara di medan perang. Walau tetap ada tetapi itu ditaruh oleh sang sutradara hanya sebagai bumbu pemanis dari film tersebut. Sebab, fim ini memang hanya menggambarkan bagaimana emosi Hitler dan sikap pimpinan pasukan elitenya ditengah gempuran sekutu yang sangat dahsyat.




Film ini menggambarkan bagaimana situasi dilingkungan terdekat Adolf Hitler ditengah-tengah gempuran hebat sekutu. Saat itu sekutu sudah dapat mencapai kota Berlin, yang merupakan pusat atau basis kekuasaan pemerintahan Nazi. Pada saat ini eksistensi Nazi sebagai suatu kekuatan benar-benar dipertaruhkan. Ini adalah saat dimana hanya ada dua pilihan kalah atau menang.
Tetapi disaat inilah para pengkhianat muncul. Setidaknya begitu menurut Hitler. Ditengah usaha Hitler mempertahankan kekuasaan dan nama besarnya. Bermunculan orang-orang yang berpikiran pragmatis, untuk menyerahkan kekuasaan kepada sekutu. Dan yang telaknya pemikiran itu muncul dari orang-orang terdekatnya yang selama ini sangat terkenal loyalitasnya. Baik kepada Nazi maupun kepada Hitler sendiri.
Gambaran seperti inilah yang dengan cerdas diangkat dalam film ini. Penonton benar-benar dipaksa untuk sedikit berempati kepada Adolf Hitler yang terlihat depresi dengan situasi yang ada. Ia benar-benar merasa dikhianati oleh mereka yang selama ini ia anggap loyal kepadanya. Disaat ia berusaha untuk bertarung sampai titik penghabisan, bahkan ia menolak opsi keluar dari Berlin. Orang-orang terdekatnya malah bernegoisasi dengan sekutu dan sepakat untuk mengakui kekalahan Nazi, bahkan secara tidak langsung mereka seperti menyerahkan nywa Hitler kepada sekutu.
Maaf, menulis ini bukannya saya berempati dan mendukung apa yang dilakukan oleh Nazi. Sebab, sebagai orang beragama kita tetap harus menolak apa yang telah dilakukan oleh Nazi terhadap komunitas Yahudi. Walau disatu sisi kita juga tidak suka apa yang dilakukan oleh komunitas Yahudi dengan bangsa Palestina dan Islam secara keseluruhan.
Tetapi saya hanya ingin menggambarkan bagaimana pedihnya suatu pengkhianatan. terlebih pengkhianatan itu datangnya dari mereka-mereka yang selama ini telah menjadi kepercayaan dan teman berjuang kita. Episode ini juga kembali mengingatkan saya pada kisah nabi Musa as dan Bani Israel. Betapa sayang dan cintanya nabi Musa kepada kaum ini. Hingga ia rela mengorbankan nyawanya sekalipun. Tetapi apa yang ia dapat setelah menyelamatkan bani Israel dari kekejaman Fir’aun? Apakah kaum ini mau beriman kepada Allah swt? Ternyata tidak. Mereka melakukan pengkhianatan, tidak hanya terhadap Musa as tetapi juga terhadap Allah swt.

“Dan kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu (Bagian utara dari laut merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap penyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (Berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)” Musa menjawab, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’Raaf: 138)

Bodoh, itulah sesungguhnya sifat para pengkianat. Mereka merasa pintar dan pandai. Tetapi sejatinya mereka adalah orang-orang yang bodoh. Karena mereka tidak mau mensyukuri apa yang telah didapatkan. Lihat bagaimana bani Israil baru saja diselamatkan dari kesusahan dan kesedihan. Bukannya bersyukur mereka malah meminta untuk dibuatkan berhala sebagai tandingan Allah swt.
Hal ini semakin terlihat tatkala mereka dijanjikan sebuah tanah yang dijanjikan. Ketika mereka disuruh untuk memasukinya dengan enteng dan gampangnya mereka berkata,

Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada didalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) disini saja” (QS. Al-Ma’idah: 24)

Episode pengkhianatan tidak berhenti sampai disana. Dimasa Rasulullah saw kita mengenal tokoh yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia merupakan tokoh dan figure pengkhianat dalam barisan muslim pasca hijrah ke Madinah. Ia tidak suka dengan kedatangan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Abdullah bin Ubay yang sebelumnya diproyeksikan sebagai pemimpin Madinah harus rela tergantikan oleh Rasulullah saw. yang bila kita mau jujut jelas gak ada tandinggannya dengan Abdullah bin Ubay.

Walau dimulut ia menerima kepemimpinan Rasulullah saw. tetapi di hati ia sangat membencinya. Maka mulailah dirancang langkah-langkah pengkhianatan. Ia melakukan pembelotan terhadap pasukan yang akan berangkat ke perang Uhud yang dengannya ia berharap pasukan muslim kalah dan Rasulullah saw terbunuh maka ia akan langsung menjadi pemimpin di Madinah.

Tetapi betapa kecewanya ia ketika melihat Rasulullah saw. kembali dengan selamat. Walau memang pasukan muslim kalah. Tetapi kekalahan itu bukannya diakibatkan pasukan muslim kalah dalam jumlah personel. Namun, kekalahan itu lebih disebabkan tidak patuhnya pasukan muslim terhadap strategi yang ditetapkan oleh Rasulullah saw.
Selain itu ia juga berkomplot dengan kaum Quraysi dan kaum Yahudi untuk menghabisi Rasulullah saw. ia juga membocorkan strategi kaum muslim kepada musuh-musuhnya. Tetapi sayang sekali lagi rencana-rencana itu tidak berhasil. Malah Abdullah bin Ubay harus meregang di tangan putranya sendiri.

Berhati-hatilah terhadap para pengkhianat. Karena ia tidak terlihat dan bisa jadi ia orang terdekat kita. Layaknya Gamal Abdul Nasser. Ia yang merupakan salah satu kader inti Ikhwanul Muslimin. Tetapi, dia pula yang berusaha menghancurkan gerakan Islam tersebut dari sejarah kebangkitan Islam. Bahkan, ia rela dan tega untuk mengirimkan Sayyid Quthb ke tiang gantungan. Orang yang selama revolusi merupakan sahabat dekatnya

ya, episode para pengkhaianat selalu muncul dalam setiap zaman, namun yang menambah parah adalah ketika para pengkhianat itu memiliki pembenaran sendiri terhadap yang dilakukannya. setelah caesar tewas brutsu dengan lantang berkata,

"Jika ditengah-tengah ini ada saudara, kerabat dan teman caesar maka kepada kalian aku ingin mengatakan bahwa cintaku lebih besar dan tidak kurang dari cintanya. lalu kalau kalian menanyakan kenapa akau membunuh caesar maka akau menjawab, 'bukan karena tak cinta pada caesar, tapi karena cinta pada roma. apa kalian lebih suka caesar hidup sedangkan semua kalian mati sebagai budak, atau caesar mati hingga semua dapat hdup merdeka? aku membunuhnya karena dia gila kekuasaan. ada air mata untuk cintanya,kegembiraan untuk nasib baiknya, dan kematian untuk kegilaannya pada kekuasaan."

itulah kalimat brutus yang diucapkan setelah ia membunuh caesar, orang yang selama ini sangat disayanginya....


Selasa, 07 Juli 2009

Kronologi Lengkap Penangkapan dan Penganiayaan 4 Mahasiswa Indonesia di Mesir

Sumber: http://www.eramuslim.com

Berikut kisah penangkap dan penyiksaan oleh intelejen Mesir yang dituturkan langsung oleh salah satu korban:


Peristiwa terjadi pada hari Sabtu, tanggal 27 juni 2009 lalu, saat itu kami di rumah ada lima orang; saya (Fathurrahman-red), Muhammad Yunus, Arzil, Tasri Sugandi dan Jakfar-teman yang sedang bersilaturahmi ke rumah-. Adapun Ismail-seorang rekan rumah kami yang lain-sedang berlibur bersama teman-teman sedaerahnya asal Tapanuli Selatan ke bukit Sinai.

Sekamir pukul 02.30 dini hari waktu Cairo, rumah kami di datangi 12 orang Mabahist (polisi intelejen Mesir). Lima diantaranya berseragam lengkap dengan senjata laras panjang serta pistol. Sementara tujuh orang lainya berpakaian biasa. Salah seorang diantara mereka membawa linggis dengan panjang lebih kurang satu meter, seorang lain membawa alat penggunting kawat.

Setelah membunyikan bel rumah dengan cara yang tidak sopan sama sekali, akhirnya pintu kami buka dengan perasaan takut dan menegangkan. Ketika masuk salah seorang diantara mereka menanyakan pasport, sementara yang lainya langsung menggeledah rumah mencari sesuatu. Pistol dan senjata laras panjang langsung ditodongkan ke kepala kami.

Setelah lebih kurang 15 menit menggeledah, mereka tidak menemukan sesuatu yang dicari. Saya sempat menangkap pembicaraan salah seorang pimpinan mereka melalui telepon, bahwa, apa yang mereka cari tidak di temukan. Sebagian mabahis dimarahi komandannya dan diminta untuk mencari kembali apa yang mereka inginkan, kata pimpinan mereka "sudah kamu periksa apa-apa yang bisa dijadikan bukti dan bisa diambil?". Tak lama kemudian kami diminta untuk menghidupkan semua komputer yang ada. Kebetulan terdapat tiga komputer di rumah. Komputer pertama di periksa, namun mereka tetap tidak menemukan apa-apa. Ketika hendak memeriksa yang kedua, mereka melihat ada bebarapa poster di dinding kamar. Diantaranya poster Syeikh Ahmad Yasin (pejuang palestina), silsilah Pemimpin Hamas.

Melihat itu ekspresi mereka seketika berubah, dan memerintahkan kami untuk mengambil gambar tersebut. Teman saya sempat diminta untuk melakukan hal itu, namun berhubung dia orangnya kurang gesit, langsung saja tiga pukulan keras dari Mabahits mendarat di punggungnya. Sepuluh menit berlangsung, mereka kembali menggeledah rumah dengan brutal dan mengambil beberapa buku karangan DR.Yusuf Qordhowi dan buku-buku lainya yang mereka anggap berbahaya.

Beberapa saat kemudian kami diperintahkan untuk bersiap-siap dan memakai sandal. Selanjutnya kami digiring ke lantai bawah. Disana kami disuruh membentuk barisan, jarak antara kami dan mobil tahanan saat itu kira-kira sekamir 30 meter. Ketika melangkah menuju mobil, satu persatu bagian belakang kepala kami tiba-tiba dihantam pukulan keras, saya tak tahu maksudnya apa dan hampir saja saya terjatuh, begitu juga dengan ketiga teman saya yang lain.

Ternyata di dalam mobil sudah ada seorang tahanan asal Kazakistan yang menunggu dengan mata di tutup kain. Alhamdulillah secara kebetulan saudara kami Jakfar yang masih berumur 16 tahun dibebaskan, dengan alasan belum cukup umur. Saya sempat berpesan kepada Jakfar untuk segera menghubungi Bang Fajar - seorang aktivis di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir-red) yang tinggalnya tak jauh dari rumah kami.

Tepat ketika azan subuh di kumandangkan, kami tiba didekat masjid Nurul Khitab Awal hay sabi’. Di sana kami diturunkan dan digiring ke sebuah kantor. Saya kemudian minta izin untuk wudhu dan sholat, para mabahits itu semula tidak mengizinkan, namun akhirnya dibolehkan. Sepuluh menit menunggu, akhirnya dua orang anggota polisi berpakaian preman datang, satu-persatu mata kami diikat menggunakan kain sambil membentuk satu barisan.

Selang beberapa saat kami digiring ke sebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Tempatnya sangat kotor dan pengap, disitulah kami tidur sambil duduk dan tidak boleh melonjorkan kaki hingga pukul delapan pagi. Pada jam diatas kami diberi makan berupa roti ‘isy ( makanan pokok orang Mesir yang terbuat dari gandum) serta sedikit manisan dengan mata tetap tertutup kain.

Setelah sarapan pagi, proses introgasi dimulai. Satu-persatu kami dipanggil. Saat itu kami berjumlah sembilan belas orang. Kami berempat; saya (Fathurahman-red) Yunus, Arzil dan Tasri Sugandi, dua orang berkebangsaan Prancis, seorang dari Kanada, lima orang dari Aljazair dan sisanya dari warga Rusia.

Berselang satu jam setelah azan Zuhur, giliran saya di panggil ke ruangan introgasi. Dengan mata tertutup saya dituntun salah seorang polisi ke suatu ruangan. Saat tiba di ruangan introgasi kemaluan saya langsung disetrum. Kemudian penutup mata saya dibuka sedikit, lalu dihadapkan ke sebuah meja, disana terdapat poster Syeikh Ahmad Yasin. Mereka bertanya, ini milik siapa...? saya jawab, "milik Ismail, orangnya sedang liburan ke bukit Sinai".

Seketika itu juga pantat saya disetrum beberapa kali, kemudian baju saya dilepas paksa oleh salah seorang polisi dan penutup mata saya di ganti dengan baju tersebut. Sementara itu celana saya dilepas dan dipaksa duduk di lantai dalam kondisi tanpa pakaian sehelaipun. Kaki saya di selonjorkan sedikit lalu diikat oleh salah satu polisi dengan tali sabut hingga membekaskan luka, sebab, saya selalu meronta menahan sakit saat disetrum. Masih dalam kondisi duduk, tangan saya ditarik kebelakang, kemudian diikat dengan celana yang yang tadinya dilepas paksa.

Saya dibaringkan dengan tangan terikat. Tepat di paha kiri saya di letakkan sebuah kursi. Mata saya yang sudah di tutup menggunakan baju, ditutup lagi dengan tangan oleh salah seorang polisi. Tangannya yang menggenggam kuat agak mengenai hidung, hingga beberapa kali saya menepisnya karena agak mempersulit saya bernafas.

Sesaat kemudian introgasi kembali dimulai dengan bermacam-macam pertanyaan, diantaranya sebagai berikut :

- Dimana kamu sholat, di rumah atau di masjid?, "sebelum sempat menjawab ujung kemaluan saya disetrum, tak ayal lagi saya menjerit sekuat-kuatnya menahan sakit.

- Apakah kamu sholat di awal waktu...? Kalau saya mood dan lagi enak badan ,jawab saya, namun belum sempat saya meneruskan jawaban, kembali kemaluan saya disetrum. Saya berusaha menutupi kemaluan dengan tangan walaupun terikat, namun seketika itu pula beberapa kali setruman mendarat di tangan kanan saya hingga menyebabkan luka.

- Apakah kamu sering hadir ke kuliah...? Saya kuliah pada waktu tertentu, ketika... cress...setruman itu kembali bersarang ke buah kemaluan saya, hingga beberapa kali pertanyaan yang tidak masuk akal dilontarkan, sebanyak itu pula buah kemaluan saya disetrum.

Sesi berikutnya, alat setruman diambil alih oleh polisi yang lain dengan pertayaan- pertanyaan konyol lainnya:

- Apakah kamu main bola bersama Ikhwan (Nama salah satu kelompok oposisi di Mesir)...?, kamu main bola dengan siapa...? Habib, Jaid atau kamal Mesir...?, tidak...! jawab saya. Kembali setruman mendarat, kali ini di bagian paha kiri saya.

- Kamu punya teman orang Mesir ya.? Tidak…!, Bohong kamu…!, setruman tetap dihujamkan ke paha kiri, hingga menyisakan luka parah sampai saat ini.

- Kamu kenal dengan Osama Bin Laden? Tidak…(setruman dialihkan ke perut kiri).

- Gimana kabar jihadnya sekarang? Saya tidak tahu, saya di Mesir ini hanya main bola, jalan- jalan, chating dan lain-lain.

- Kenapa kamu tidak main bola sama orang mesir? mereka main bolanya bagus-bagus dan badan mereka besar-besar, sementara badan saya kecil.

- Kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...! kamu Ikhwanul Muslimin kan...? Tidak…! kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...! Tidak...! kamu Ikhwanul Muslimin kan...? Tidak...! kamu Ikhwanul Muslimin...? Tidak...!

Begitulah setiap kali pertanyaan saya jawab, seketika itu pula mereka memberikan setruman satukali, duakali, tigakali bahkan lebih, tepatnya di paha kiri, perut bagian kiri, serta di kedua puting susu saya. Setelah di setrum berkali-kali seperti itu, saya merasa sudah tidak kuat lagi, sedemikian sakitnya saya sempat memanggil, "Ibu..., Ibu…, Ibu...” hingga beberapa kali.

Setelah penyiksaan berlangsung lebih kurang 15–20 menit, ikatan saya di lepaskan sementara kondisi badan saya sangat lemah, dihantui rasa takut, cemas dan juga trauma. Celana saya dipasangkan kembali tanpa baju. Selanjutnya mereka membuat berita acara kira-kira selama lima menit. Saya di kembalikan ke tempat tahanan awal, saat itu masih di penjara depan Masjid Nurul Khitab, Bersebelahan dengan Universitas Al Azhar putri, di kawasan 7th district. Penjaranya itu terletak di bawah tanah, tepatnya di bawah hadiqah ‘asyir Ramadhan-sebuah taman rekreasi yang berada di tengah kota.

Masih di ruang tahanan saya berdo'a semoga tidak di introgasi untuk kesekian kalinya. Sambil menangis dan merenungi dosa selama ini, saya hanya mampu terkulai lemah. Selang dua puluh menit kemudian, kembali saya dipanggil bersama dua teman satu rumah, Yunus dan Tasri Sugandi. Di introgasi kali ini punggung saya kembali di pukul dengan sebuah papan triplek tipis. Kali ini mereka cuma mencatat data pribadi kami. Sepuluh menit kemudian kami di kembalikan ke ruang tahanan.

Tiga puluh menit selanjutnya saya kembali dipanggil dan diancam akan di setrum seperti sebelumnya jika tidak menjawab dengan jujur. Satu pertanyaan saja yang mereka lontarkan :

- Apa hubungan Osama Bin Laden dan pengaruhnya di indonesai? Sambil setengah menangis saya menjawab, "saya tidak kenal Osama Bin Laden...!"

Detik berikutnya sang polisi tersebut menelpon entah kemana. Yang saya tangkap dari pembicaraannya, si penelepon meminta data dan menyebutkan ciri-ciri tentang saya. Selang beberapa saat, saya kemudian di bawa kembali ke ruang tahanan dengan mata tetap tertutup.

Dua jam berikutnya, kami diberi nasi berpiringkan ‘isy, masakan daging serta sedikit buah anggur merah. Saya makan sekedarnya walaupun sempat di tambahkan nasi. Setalah azan Isya, kami ketiduran namun mendadak dibangunkan dan di paksa makan ‘isy, selai dan keju. Beberapa teman yang satu tahanan kebanyakan mogok makan, namun di paksa menghabiskan dengan alasan biar kuat. Saya sempat terpikir jika dikasih makan banyak seperti ini, berarti persiapan untuk besok agar kuat di introgasi lagi.

Pemindahan dari penjara Nurul Khitob ke penjara Hay Assadis (6th District))

Diperkirakan pukul 11.00 malam waktu Cairo hari itu, kami semua di pindahkan ke penjara Hay Assadis. Saat hendak di pindahkan saya masih tidur, lalu sontak saja dibangunkan. Kami diperintahkan untuk berbaris satu deretan dengan tangan saling memegang pundak teman yang ada di depannya. Kami digiring ke mobil khusus tahanan dengan mata masih dalam keadaan tertutup dari pagi.

Di dalam mobil, penutup mata kami dibuka dan ternyata di sana sudah terdapat salah satu perwira polisi yang menunggu lengkap dengan senjata laras panjang. Lima belas menit perjalanan kami tiba di kantor polisi Hay Assadis, lalu dipaksa turun dengan membuat dua barisan.

Setelah pendataan usai, kami dijebloskan ke sebuah tahanan yang berukaran 3,5 x 4 meter, lalu di isi sembilan belas orang tahanan. Di dalamnya terdapat WC, sebuah lampu penerang 5 watt serta satu lobang udara tanpa jendela, sehingga kami tidak bisa membedakan antara malam dan siang. Selama dalam tahanan ini kami tidak disediakan makanan ataupun minuman, hanya ada air di kamar mandi yang bisa di gunakan untuk bertahan hidup. Selama dua hari dalam tahanan tersebut kami harus beli makanan sendiri melalui polisi penjaga tahanan.

Dengan sisa uang yang kebetulan terdapat dalam kantong kami berusaha membeli makakanan (kami berhutang dengan jaminan ada uang saudara Tasri Sugandi yang disita lebih kurang 700 le). Selama dua hari hanya dua mangkok kusyari (sejenis makan mesir terbuat dari mie) yang kami dapatkan sekedar untuk mengisi perut. Alhamdulillah selama dalam penjara sholat lima waktu selalu kami lakukan berjamaah.

Pada hari rabu tanggal 1 Juli dini hari, tepatnya pukul 02.00 malam waktu Cairo, kami di bebaskan dengan beberapa pesan :

* Jangan belajar dan kumpul-kumpul bersama Ikhwan al -Muslimin.
* Kalian cukup belajar saja selama di Mesir.
* Jika sempat ditangkap kembali kalian akan dipulangkan.

Keluar penjara kami langsung menyetop taksi bersama satu orang lainya yang berkebangsaan Rusia, kebetulan beliau tinggal di Tub Romli, tempat kediaman kami. Tepatnya Pukul 03.00 dini hari waktu Cairo, kami tiba di rumah dengan selamat berkat pertolongan dari Allah SWT serta do'a dari teman-teman semuanya.

Demikianlah kisah penangkapan dan penyiksaan yang kami alami selama berada di penjara, kisah penyiksaan yang dialami rekan saya, Muhammad Yunus belum sempat saya tuturkan di sini. Dan memang tidak semua rekan saya yang ditangkap turut mengalami penyiksaan serupa, hanya saya saja yang mengalami penyiksaan melampaui batas dan melanggar HAM serta tidak manusiawi.

Saya hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas kezholiman yang mereka lakukan kepada kami semua. Doakan kami, agar tetap tabah dan sabar dengan trauma penyiksaan yang sering menghantui. Semoga ada tindak lanjut dari perwakilan pemerintah kita, KBRI di sini terhadap kasus yang kami alami, sehingga mahasiswa kita khususnya di Mesir tidak lagi ditindas dan dilecehkan.

NB : Kisah ini disampaikan langsung oleh saudara Fathurrahman dan Muhammad Yunus (mahasiswa tingkat akhir) serta Arzil dan Tasri Sugandi (Mahasiswa baru yang datang dari tanah air pada tanggal 5 Mei 2009). Penulis menyaksikan dan melihat langsung kondisi korban di tempat kediaman mereka di kawasan Tub Romli, bersama beberapa anggota KSMR (Kelompok Study Mahasiswa Riau) dan beberapa orang KPTS (Keluarga Pelajar Tapanuli Selatan) yang hari itu turut datang menjenguk. Wasallam. Cairo, 2 Juli 2009.

Kamis, 02 Juli 2009

tuhan Sembilan Senti

Oleh: Taufiq Ismail


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,



Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di
bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Jacko dan hakikat kematian

beragam sikap dan komentar yang bermunculan menanggapi berita kematian sang superstar Michael Jackson. ada yang gak percaya dengan alasan belum melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, ya kalo mau lihat pesen dah tiket ke LA dan liat tuh acara pemakaman sang bintang. juga ada yang shock karena dalam waktu dekat sang mega bintang dijadwalkan akan mengadakan tur ke 50 kota di Amerika Serikat.ada juga yang terus asyik berpolemik seputar hal apa yang menyebabkan sang megabintang menemui ajalnya.



namun yang pasti artikel ini tidak akan membahas tentang apa yang disebutkan diatas. kisah kematian michael Jackson hanya dijadikan sebgai pengantar untuk memasuki tema seputar kematian. tema yang pastinya akan sangat jarang dibicarakan orang banyak.sebab memang naluri manusia itu ingin hidup selama-lamanya dia bisa hidup. bahkan ada yang rela membuat ramuan untuk memperpanjang usia. loh jangankan berbicara kematian berbicara usia tua aja manusia enggan.

tapi mau gak mau, sadar gak sadar, rela gak rela, yang namanya manusia pasti akan mati. bahkan manusia besar pemimpin manusia Rasulullah saw, harus bertemu dengan yang namanya kematian. tentang hal ini Al-Qur'an telah menegasakan,

"Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" (QS. Ali Imran: 185)

jadi yang namanya kematian adalah sebuah fakta. kematian juga satu paket dengan yang namanya kehidupan. jadi, siapapun anda, dimanapun anda yang namanya kematian akan menghampiri anda.

jika kita telah sepakat bahwa kemtian adalah sebuah kepastian, maka pertanyaan besarnya adalah apakah kematian itu adalah akhir perjalanan manusia, selesai sampai disini? soal ini yang memang selalu menjadi perdebatan setiap orang. namun sebagai seorang muslim pastinya kita diwajibkan untuk mengimani apa yang dinamakan dengan hari akhirat atau hari pembalasan. jadi bagi kita yang terlahir sebagai seorang muslim harus yakin bahwa kematian bukanlah akhir periode kehidupan manusia, malah ini merupakan awal untuk periode selanjutnya.

dalam bukunya wawasan Al-Qur'an Prof. Quraish Sihab menuliskan, "agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah kematian. kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan"

namun begitu masih banyak orang yang meragukan akan adanya hari akhirat. bahkan Al-Qur'an telah mengisahkan hal yang demikian kepada kita,

"Mereka berkata: 'Ia (hidup ini) tidak lain kecuali kehidupan kita di dunia (saja) dan kita tidak akan dibangkitkan" (Qs. Al-An'Am: 29)

bahkan dalam ayat lainnya ada penolakan yang lebih tegas,

"Mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati" (QS. Al-Nahl : 29) tetapi semua itu dibantah dengan telak oleh Allah swt, "Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalain kami terhadap hari kiamat"; sambil mereka memikul dosa-dosa mereka di atasa punggung mereka. sungguh amat buruk apa yang mereka pikul itu" (QS: Al-An'Am:31)

jadi dengan kata lain setelah kematian, kehidupan manusia belum berakhir ada masa pengadilan yang akan menentukan posisi kita selanjutnya mau di neraka atau surga maka pertanyaan yang muncul adalah sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk fase yang berat ini? ini yang sekarang harus kita jawab. rumusnya gampang dan sederhana bila kita mau hidup enak dan masuk ke dalam surga di kehidupan setelah kematian maka Taqwa dan meninggalkan maksiat kepada-Nya harus dilaksanakan oiya jangan lupa bertaubat dari segala dosa-dosa yang kita lakukan. begitu pula ketika kita mau merasakan kepedihan di dalam neraka nanti maka terus dan rajinlah bermaksiat kepada-Nya. jadi sekarang bolanya ada di diri kita sendiri. maka segera ambil pilihan mana yang kita suka......

Rabu, 01 Juli 2009

Drama Adu Penalty Moment Bagi Kiper Unjuk Diri…

Bagi penggemar sepakbola pasti sudah familiar dengan istilah Adu Penalty, dulu kita mengenalnya dengan nama tos-tosan. Agak aneh emang, sebab yang namanya to situ biasanya memakai tangan bukan dengan cara menendang bola, tapi kadung udah membudaya ya udah itu tidak harus menjadi persoalan.

Adu Penalty terjadi bila dalam babak normal 2 x 45 menit hasil pertandingan masih imbang kemudian dilanjutkan dengan babak pertambahan waktu 2 x 15 menit masih juga belum ada pemenang maka babak adu penalty harus dilakukan untuk dicari pemenang. Awalnya masing-masing tim menyiapkan 5 algojo penendang plus kiper yang bertugas menjaga gawang. Bila kelima penendang dari masing-masing kesebelasan sudah melaksanakan tugas tetapi hasil masih juga sama, maka dilanjutkan dengan penendangn tambahan hingga terjadi selisih angka.



Adu penalty sebenarnya sangat dihindari oleh setiap tim yang bertanding, sebab disini strategi dan taktik sudah tidak berlaku lagi. Dalam beberapa moment keajaiban atau dewi fortuna lebih banyak menjadi factor penentu kemenangan. Makanya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia sempat membahas untuk menghapus system ini dari pertandingan sepakbola.

Tapi dalam babak adu penalty ada satu posisi yang akan menjadi obrolan dan perbincangan. Dalam pertandingan normal posisi ini biasanya jarang di jadikan pembahasan tetapi ketika babak adu penalty semua perhatian akan menuju ke sati sisi ini. Yap, itu adalah peran sang penjaga gawang. Bila dalam pertandingan normal penjaga gawang selalu kalah pamornya dari posisi lain seperti striker atau gelandang. Namun saat adu penalty penjaga gawang biasanya sering menjadi factor penentu kemenangan sebuah tim.

Banyak nama yang besar dan terkenal setelah melalui babak adu penalty sebut saja nama penjaga gawang Argentina di Piala Dunia 1990 Sergio Goycochea (moga-moga benar ejaannya, habis udah lama bangat … heheheh) awalanya tidak ada yang mengenal nama ini, dia hanyalah kiper pengganti dari penjaga gawang utama Argentina yang cedera dalam salah satu pertandingan. Namun kehebatannya dalam menghadang tendangan penalty mulai melejitkan namanya.

Dalam moment adu penalty pula Tim Howard kiper nasional AS dan pilar di klub Inggris Everton menjadi bahan perbincangan. Aksinya menahan tendangan-tendangan pemain Manchester United dalam babak semifinal piala FA berhasil meloloskan Everton ke final piala FA.

Begitu juga dengan Jerzy Dudek yang akan selalu diingat oleh fans Liverpool karena aksi gemilangnya dalam drama adu penalty saat mengalahkan AC Milan dalam final liga champion 2005.Bahkan sebelum drama adu penalti, Dudek juga berhasil menggagalkan tendangan Andriy Shevchenko yang bisa menjadi neraka bagi The Reds di perpanjangan waktu.

Lalu siapa yang mengenal nama Hendra Prasetya? Sebelum ini kita memang belum mengenalnya namun dalam pertandingan Playoff Indonesia Super League ketika Persebaya berhadapan dengan PSMS Medan, seluruh penggemar bola mulai mengenalnya. Dia adalah penjaga gawang Persebaya Surabaya yang sukses menggagalkan tendangan dua pilar PSMS, Zada dan oktaviani, hingga akhirnya mengantarkan Persebaya memasuiki kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Saya yakin selama ini public sepakbola Indonesia bila menyebut Persebaya akan selalu tertuju ke nama-nama seperti Anang Ma’ruf, Mat Halil, M. Taufik, Jairon Feliciano atau pemain muda Andik. Jarang kita akan menyebut nama Hendra. Namun aksinya semalam saya yakin akan membuat public sepakbola Indonesia terlebih Bonek ( Fans berat Persebaya) akan lebih mengingatnya. Maka bias jadi ditengah ketidakpercayaan pemain PSMS harus kalah lewat babak adu penalty Hendra akan bersyukur dengan adanya babk tersebut.