Pages

Rabu, 30 April 2008

Dewi Persik, Kebudayaan, Kekuasaan

Lagi-lagi Dewi Persik mendapatkan pencekalan. Setelah sebelumnya Tangerang, Depok, Bandung dan Sukabumi, kini kabar pencekalan datang dari Balikpapan. Kali ini bukan si ratu dangdut aja yang kena cekal melainkan juga Julia Peres dan Trio Macan. Alasan pencekalan mereka serupa, yaitu mereka dianggap telah merusak Budaya timur dengan aksi panggung yang ditampilkan. Jelas pencekalan ini mendapatkan pro-kontra dari berbagai eleman masyrakat. Yang kontra jelas-jelas menyatakan bahwa tidak layak di era Reformasi ini suatu kesenian dicekal, itu juga dengan definisi yang tidak jelas. Sedang yang pro jelas menyatakan bahwa apa yang dipertunjukkan oleh mereka tidak masuk dalam ruang lingkup seni melainkan pronografi dan pornoaksi.

Dari sini timbul pertanyaan sejauhmana hubungan kekuasaan dengan kebudayaan? Dalam bukunya Benturan Antar Peradaban, Samuel Huntington, menyatakan bahwa penyebaran kebudayaan didunia merefleksikan penyebaran kekuasaan. Dalam sejarah, perluasan kekuatan suatu peradaban biasanya terjadi secara simultan dengan berkembangnya kebudayaan.

Lihat saja, bagaimana kekuatan barat, dalam bentuk kolonialisme Eropa abad XIX dan hegemoni Amerika pada abad XX, mampu menyebarkan kebudayaan barat di seluruh penjuru dunia. kemudian satu contoh lagi bagaimana ideologi Komunis bisa berkemabang saat Uni Sovyet masih berdiri. Tetapi, ketika sekarang Uni Sovyet hancur maka begitu juga dengan ideologi dan budaya Komunis.

Dari teori yang singkat diatas, kalo mau yang banyak baca aja bukunya Samuel Huntingto, maka kita bisa memahami apa yang dilakukan oleh para penguasa daerah yang melakukan pencekalan tersebut. Mereka tidak salah, karena memang secara kasat mata kita bisa lihat itu pornoaksi atau seni. Yang salah justru mereka yang asyik mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya tersebut.

Senin, 28 April 2008

Rasisme di Tengah Kita

“Ah gw gak bakalan menonton kalo film James Bond terbaru dibintangi oleh seorang kulithitam” ujar seorang teman, ketika di tanya alasannya dengan enteng dia menjawab, “Habis gw gaksuka aja sih ama orang kulit hitam, gak asyik aja dilihatnya”. Sadar gak sadar pastinya kita akrabdengan kalimat-kalimat seperti ini ya.

Ya ternyata sikap berbau atau menyerempet-nyerempet Rasisme itu banyak loh disekitar kita. misalnya aja dalam iklan pemutih kulit. Saya melihatnya ini ada sifat-sifat rasis dan melanggarKok bisa? Ya bisa dong bagaimana kalo diperhatikan bahwa orang yang cantik dan bisaditerima dikalangan orang banyak ialah mereka yang berkulit putih sedang yang berkulit gelapakan susah diterima oleh seseorang. HAM ya.

Lalu saya terbayang bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tinggal di Irian Jaya sanaatau mereka-mereka yang menetap di Afrika. Apakah mereka akan sulit diterima oleh manusiakan, bukan mau mereka berkulit hitam semua itu telah menjadi kehendak Allah swt. makanyasekarang coba deh kamu pikirin bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang berkulit hitamtersebut. Jangan sampai kita menjadi seperti apa yang teman saya katakan ‘klu klux lan yang halus’

Klu klux lan ini ialah sebuah gerakan masyarakat di Amerika sana yang sangat eksis padasekitar tahun 70-an. Misi dari gerakan ini ialah untuk membersihkan orang-orang yang berkulithitam dari wilayah mereka. Dalam mencapai tujuannya mereka itu sangat kejam dan gaksungkan-sungkan untuk menghabisi nyawa sang korbannya.

Lagipula gak jaminan kok bahwa hanya mereka yang berkulit putih aja yang akan diterima olehmasyrakat luas sedang mereka yang berkulit gelap gakakan diterima oleh masyrakat. Buktinya, bagaimana seorang Kofi Annan bisa menjabat sebagai ketua PBB yang membawahinegara-negara di dunia atau kamu bisa sebut nama Ronaldinho walau berkulit hitam tetapi janganberapa banyak orang yang sangat menyukainya. Atau kalo kita melihat para sahabatRasulullah saw. Seperti Bilal bin Rabah yang berkulit hitam dan seorang budak lagi tetapi, iamemiliki kedudukan yang sangat hebat dimata Allah swt. Bahkan diriwayatkan telapak kakinyaberada di depan Rasulullah saw di surga nanti. Tanya

Dalam kisah yang lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw menanyakan kabarseorang wanita berkulit hitam yang bertugas sebagai pembersih lantai masjid. Ya, Rasulullahmenanyakannya karena sudah beberapa hari ini beliau tidak melihat kehadiran sang wanitatersebut di masjidnya. Lalu beliau mendapatkan jawaban bahwa sang wanita telah meninggaldunia beberapa hari yang lalu.

Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. Terkaget lalu berkata, “Mengapa kalian diam saja dantidak menyampaikan berita kematiannya kepadaku? Sekarang antarkan aku ke makamnya”

Lalu para sahabat menunjukkan makam sang wanita tersebut. Di depan makam sang wanitatersebut Rasulullah saw. Langsung saja melaksanakan shalat ghaib bagi jenazah wanita berkulithitam tersebut.

Kisah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada perbedaan antara hitam danputihnya kulit seseorang. Begitu juga soal status sosialnya. Coba, bagaimana Rasulullahmemberikan penghargaan yang sangat kepada wanita berkulit hitam tersebut.

Makanya bukan hitam dan putih yang akan menepatkan seseorang disurga nanti tetapi lebihpada sejauhmana ketakwaannya kepada Allah swt. Lah kok jadi panjang lebar membahas ini ya? Ok, anggap ini aja sebaga intermezzo bagi kalian semua.

Nah, Bagi kamu-kamu yang suka menonton film, cobalah luangkan sedikit untuk menontonCrash, kalo bagi yang gak suka nonton ya udah coba aja dipaksa-paksain (hehehe maksa nihini dibintangi oleh Sandra Bullock yang kita kenal sebagai pemeran utama film Speed yang penuh ketegangan dan Matt Dillon. Namun begitu film ini adalah film drama yang mencobauntuk menggambarkan realitas kehidupan di negara Amerika Serikat, negara yang selama inimendeklarasikan sebagai negara impian bagi jutaan manusia. Dimana disini kebebasan, keadilan, kemakmuran dan segalanya bisa dirasakan. film ye). film

Paul Haggis sebagai seorang sutradara sangat cerdik dan cerdas mengangkat temarasisme sebagai suatu tontonan yang mengasikkan dan bermakna. Setidaknya insan film dalamnegeri harus banyak belajar darinya. Bahwa tema sosial seperti ini bisa dijadikan tontonanmenarik, jadi gak hanya bergelut pada tema horror dan takhayul semata. Terbukti film ini mampumemenangkan piala oscar mengalahkan film Brokeback Mountain yang mengangkat tentang temaHomoseksual.

Film ini ingin menggambarkan kepada kita bahwa masalah rasisme adalah sebuahpekerjaan rumah besar bagi manusia di abad modern ini. Walau mengambil setting tentangkehidupan di Amerika Serikat. Tetapi, kita harus jujur bahwa masalah ini tidak hanya menjadimasalah negara adidaya itu saja. Namun, ini adalah masalah bagi mayoritas umat manusia.

Dalam film ini kita benar-benar dituntut menggunakan hati nurani untuk merasakan jeritanhati mereka yang selalu dipandang rendah oleh masyarakat. Bagaimana dikisahkan (dalam film ini) seorang pria berkulit hitam harus rela dan pasrah melihat sang istri didepan mata dankepalanya sendiri digerayangi tubuhnya oleh polisi pria kulit putih. Atau bagaimana seseorangseenaknya saja menabrak seorang pria lalu meninggalkannya hanya karena ia seorangAtau ketika seorang berkebangsaan Iran harus menerima ledekan-ledekan yang menyinggung agama dan kehormatannya. Bila anda tidak dapat merasakan kegetiran dalam film ini. Maka coba tutup mata anda dan bayangkan hal diatas terjadi pada diri anda, saudara anda, anak anda. Saya yakin dengan begitu anda dapat merasakan kegetiran yang mereka hadapi. yang china.

Di luar film tersebut, saya begitu tercengang sewaktu tahu bahwa Lazio, sebuah klubsepakbola besar anggota seri A Italia ternyata memiliki suporter yang terkenal sangat rasis. Mereka selalu melakukan penghinaan dan ledekan-ledekan kepada pemain klub lawan yang berkulit hitam. Sehingga untuk menghilangkan sifat ini manajemen klub Lazio mengontrak Marco Liverani, seorang pemain berkulit hitam hanya untuk mengurangi sikap suporternya tersebut. Tetapi, bukan suporternya yang berubah malah sang pemain yang harus angkat kaki karena tidaknyaman dengan perilaku suporternya.

Masih dari dunia sepakbola saya masih teringat bagaimana ketika, Samuel Eto’o. pemainBarcelona asal Kamerun menolak untuk meneruskan permainan dalam suatu pertandingan. Hal initerjadi bukan karena ia cedera atau diganti oleh pemain lain tetapi dikarenakan ia menerimaperlakuan yang tidak manusiawi dari supporter klub lawan. Maka menangislah ia sambil keluarlapangan.

Ya, berbicara masalah Rasisme berarti kita berbicara tentang masalah penindasan sertaketidakadilan. Penindasan terhadap martabat dan kehormatan manusia. Fakta berbicara akibatsemangat rasisme banyak nyawa yang harus terbuang percuma. Silakan anda tanyakan haltersebut kepad Fuhler Hitler. Berapa banyak nyawa orang Yahudi yang harus ia bunuh akibatketidaksukaannya serta pandangan bahwa ras Aria lah yang paling unggul. Dan jangan lupa untukselalu mengingat apa yang dilakukan para pemimpin Serbia terhadap umat muslim di Bosnia sana. Berapa puluh juta rakyat Bosnia harus kehilangan nyawanya hanya akibat ketidaksukaanmereka terhadap apa yang dipercayai oleh kaum muslim di Bosnia sana.

Sejak awal masa turunnya Islam. Masalah yang satu ini juga menjadi sorotan penting daririsalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Islam menegaskan bahwa bukan kebangsaan, warnakulit, status sosial di masyarakat apalagi persoalan pria dan wanita yang menentukan posisinya disurga nanti. Tetapi hal itu semuanya hanya akan dihitung dan ditimbang dengan sejauhmanaketakwaan sang hamba terhadap apa yang diperintahkan dan dilarang. Jadi gak perduli mo iaberkulit hitam atau putih, kaya atau miskin sekalipun. Hal itu gak akan berpengaruh dalampandangan Allah swt.

Banyak hal yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam memecahkan masalah ini. Misalnyamelalui perkawinan. Bila sebelum Islam datang perkawinan lebih didasarkan pada kesederajatan, Rasulullah malah sebaliknya. Beliau saw tidak ragu menikahkan seorang budak dengan seorangbangsawan. Misalnya dalam perkawinan antara Zaid bin Haritsyah dan Zainab binti Zahasy

Suatu ketika Abu Dzar melontarkan kalimat, “Hai anak perempuan hitam.” Kepada seorangsahabat. Mendengar itu Nabi saw menepuk bahu Abu Dzar, “Thafa sha’. Keterlaluan kamu AbuDzar. Tidak ada kelebihan orang putih di atas orang hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atasorang ‘Ajam kecuali karena amal salihnya.” Mendengar itu, Abu Dzar merapatkan kepalanya ketanah. Ia meminta kawannya itu menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kepongahan ras yang secara tidak sengaja tampak keluar dari mulutnya.

Maka tidak mengherankan seorang berkulit hitam seperti Bilal bin Rabah, dapat memilikikedudukan yang tinggi di mata Rasulullah saw. Bahkan beliau menjadikan Bilal sebagai muadzinnomor satunya. Bilal yang dimasa Jahiliyah hanya menjadi sapi perahan dari sang majikan tetapidi masa Islam ia termasuk orang yang mendapat jaminan surga dari Rasulullah saw. BahkanRasulullah saw telah dapat mendengar bunyi kelopak sandal Bilal di surga sana, disaat sang muadzin masih sehat walafiat.

Makanya kita sepakat dengan slogan yang dikeluarkan FIFA “Kick out Racism” dalamrangka menghapuskan sikap-sikap rasisme dari dunia sepakbola. Ya, buang jauh semangatrasisme dari kehidupan kita. Sebab, itu hanyalah akan menciptakan semangat negatif dalamkehidupan kita.

Teliti Memilih Informasi

Betepa berharga dan mahalnya harga akan sebuah informasi. Betapa banyak dana yang dikeluarkan untuk membuat organisasi seperti CIA atau FBI di Amerika Serikat sana dan hampir diseluruh negara dunia lainnya. Makanya dahulu apabila suatu negara ingin menyerang negara lainnya maka salah satu sasaran utamanya ialah pusat-pusat informasi yang dimiliki negara tersebut seperti stasiun televise dan stasiun radio.

Manusia memang tidak bisa dipisahkan dari yang namanya informasi, sebab dari informasi yang kita terima, kita dapat melakukan sesuatu. Bila informasi itu menjadi sesuatu yang penting, maka tak kalah penting juga tentang sejauhmana ketelitian informasi yang akan kita terima. Islam telah mengajarkan betapa pentingnya mencari informasi yang baik dan benar agar informasi itu tidak menghasilkan tindakan yang keliru. Makanya dalam ilmu hadits ada yang namanya, ilmu Al-Jarh Wa Al-Ta’dil. Ini adalah ilmu yang berusaha menguji data yang ada untuk menentukan keterpercayaan periwayat hadits. Jadi suatu hadits itu akan diteliti dan ditentukan derajatnya, apakah hadits itu shahih, dhaif, palsu dan sebagainya itu terkandung orang yang meriwayatkannya.

Teliti dalam memilih informasi itu sangat penting, sebab manusia dalam bertindak dipengaruhi oleh informasi yang ia terima. Bila informasi itu salah atau keliru, maka begitu juga dengan tindakan yang akan dilakukannya, begitu juga sebaliknya. Salah satu contoh ialah serangan AS ke Irak, awalnya pemerintah Amerika Serikat menerima informasi bahwa Irak tengah mengemangkan senjata kimia, serta memiliki jaringan dengan Usamah bin Laden. Menerima informasi ini George W. Bush, langsung mengambil inisiatif untuk melakukan penyerangan terhadap Irak. Dikemudian hari diketemukan fakta bahwa informasi yang diterima itu keliru

Hal- hal seperti ini juga banyak terjadi di sekitar kita, hingga ini harus benat-benar diwaspadai sebab jika informasinya saja sudah salah maka sudah pasti output atau solusi yang dihadirkannya akan salah juga. salah satu contoh yang berbahaya adalah program untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS melalui jalur penggunaan alat kontrasepsi berupa kondom. Berapa banyak iklan yang berseliweran baik di media elektronik maupun media massa yang berisi tentang penggunaan kondom sebelum melakukan hubungan seks. Bahkan yang lebih spektakuler ialah dengan disediakannya ATM kondom di sejumlah tempat hiburan, dimana dengan alat ini hanya dengan beberapa rupiah orang dengan bebasnya bisa mendapatkan alat kontrasepsi itu. Sebagaimana yang digambarkan iklannya jelas-jelas akan kita dapati bahwa sasaran dari program ini adalah mereka yang memang belum sah melakukan hubungan seksual juga bagi mereka yang memang suka gonta-ganti pasangan.

Jelas ini adalah tindakan yang keliru, sebab penggunaan kondom itu juga belum pasti menekan penularan HIV/AIDS, dan yang semakin membuat geram ialah dibalik iklan ini pemerintah cenderung untuk melegalkan seks bebas, padahal aktivitas seks itu hanya bisa dilakukan ketika sudah ada ikatan perkawinan. Pemerintah seakan-akan mengalah dengan banyaknya mereka yang telah melakukan seks bebas. Padahal tidak selamanya loh yang banyak itu benar. Boleh jadi aktivitas seks bebas didukung mayoritas warga tetapi belum tentu Allah swt juga mendukungnya. Sebab ajaran Islam jelas-jelas menolak hal seperti itu

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Ayat diatas dengan sangat tegas dan jelas menyebutkan bahwa perilaku Zina itu adalah perilaku haram yang tidak disukai oleh Allah swt.

Jelas program ini bisa menyesatkan kaum muda, mereka serasa diizinkan untuk melakukan kegiatan seks yang illegal dengan alasan “kan gw sudah memakai kondom jadi safety”. Sory bro bagi yang berpikiran demikian kita ini bukan hanya mencari safety di dunia saja - lagian siapa juga yang bilang bahwa kondom itu bisa menjamin seratus persen kamu terbebas dari virus HIV/AIDS, sejumlah dokter bahkan telah mengatakan bahwa virus HIV/AIDS itu masih bisa menembus pori-pori yang ada di kondom- coz kita juga mencari safety di akhirat sana.

Jadi telitilah dengan benar informasi yang kita terima, jangan asal telan bulat-bulat. Sedini mungkin kita harus bersikap lebih kritis terhadap informasi yang gak jelas rimbanya. Sebab dizaman kemajuan teknologi, yang menyebabkan informasi dapat dengan mudah didapat dari segala penjuru, maka semakin bias juga antara informasi yang memang benar dengan informasi yang jelas-jelas keliru. Makanya kita harus kembali kepada dua panduan terbesar informasi bagi umat islam yaitu: Al-Qur’an dan As-sunnah.

Nah inilah yang sekarang banyak ditinggalkan oleh kaum muslim, padahal Rasulullah saw berpesan bahwa siapa yang ingin selamat maka berpeganglah dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. memang sih masih ada yang baca dan beli Al-Qur’an, tetapi berapa banyak yang mau mengamalkannya. Padahal Al-Qur’an itu tidak cukup hanya dimiliki dan dibaca tetapi yang terpenting adalah pengamalannya. Bahkan, saking pentingnya mengamalkan Al-Qur’an para sahabat Rasulullah saw, tidak akan berhenti dari membaca satu ayat sebelum mereka dapat memahami dan mengamalkannya.

Saat ini kita lebih banyak bergaul dengan referensi-referensi yang hadirnya dari manusia sendiri, entah itu ahli filsafat, mereka yang bergelar Doktor ataupun para public figure. Padahal jelas yang namanya manusia itu ada keterbatasan dan kekurangannya. Kita malah meninggalkan Allah swt yang jelas-jelas akan memberikan panduan bagi permasalahan manusia di dunia.

Maka sekarang ayo deh selagi belum telat dan terlambat kita kembali lagi kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasululullah saw, coz hanya dengan kedua sumber itu kita akan dapat menemukan solusi bagi kehidupan kita didunia ini.

Julia Peres Salah Mikir

Dalam satu tayangan televisi Julia Peres, artis yang baru aja meluncurkan album musiknya mengatakan, "Saya pikir masyarakat Indonesia sudah cerdas semua, jadi nggak ada masalah dengan bonus kondom itu. saya aja nggak apa-apa" pernyataan ini disampaikan ketika menanggapi usul bu Meuthia Hatta yang menyarankan untuk menarik bonus kondom dalam album yang dibikinnya.

Kalo kita mau memahami, sebetulnya Jupe sudah terjebak dalam kesalahan berpikir yang namanyan Fallacy of Dramatic Instance. Dia menyamakan semua orang dengan dirinya. padahal kita tahu tidak semua orang cara berpikirnya sama. Fallacy of Dramatic Instance berangkatdari sebuah pemahaman untuk melakukan penyamaan terhadap semuanya, atau penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang umum. Biasanya argumennya sangat sulit untuk dipatahkan karena apa yang diangkat berangkat dari peristiwa pribadi.

Disinilah kesalahan fatal Julia Perez. Baginya bonus kondom dalam album musiknya itu tidak masalah, dan bukan sebagai justifikasi atau pelagalan seks bebas. Ia berpendapat itu upayanya mendukung program pemerintah dalam penanggulangan AIDS. Memang bagus niatnya, tetapi masalahnya apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki pemikiran yang sama? ini yang susah dijawab.

Satu bukti aja sudah jelas. Film-film Indonesia yang sekarang menjamur di bioskop dan hampir seluruhnya hampir bernuansa seks, niat awalnya dibuat sebagai seks education. Bahkan dalam satu wawancara salah satu produser yakin yang menonton filmnya hanya mereka yang 17 tahun keatas. Tetapi, apa dilapangan kayak begitu? Kalo diperhatikan pasti penontonnya adalah mereka-mereka yang masih sangat muda dan biasanya dibawah usia 17 tahun. Lalu apakah mereka benar-benar mereka mengambil pelajaran tentang seks yang baik dari film itu? ini juga saya ragukan.

Jadi sebelum melakukan sesuatu itu ada baiknya dipikirkan dulu dengan baik siapa yang akan menerima produknya. karena memang setiap orang dan manusia pemikirannya itu tingkat kemampuannya tidak sama.

Minggu, 27 April 2008

Negara Selebritis

Pasca kemenangan Rano Karno dalam pilkada Tangerang, dan Dede Yusuf dalam Pilkada Jawa Barat, ada fenomena baru dalam dunia politik kita. yang pertama adalah mulai 'sadarnya' partai politik bahwa untuk meraih kemenangan dalam pilkada faktor figur dan kedekatannya dengan masyarakat menjadi hal yang utama. Lalu fenomena selanjutnya adalah banyaknya para selebritis yang juga ingin terjun ke dalam dunia politik.

Saat ini sedang gencar dalam media bagaimana Syaiful Jamil, yang katanya sudah di plot untuk duduk dalam wakil walikota Serang. kemudian juga ada nama Vena Melinda, artis yang sekarang menjadi instruktur salsa. Kemaren dalam sebuah acara televisi saya juga melihat berita Maia Ahmad, entah serius atau tidak, juga tertarik terjun ke dunia ini.

Memang harus diakui dunia politik dan selebritis itu bukanlah sesuatu yang berlainan atau bersebarangan. Beberapa kasus telah menunjukkan hal itu. Sebut saja nama Arnold Scwarzeneger, sang terminator saat ini ayik menjadi gubernur California. Juga ada nama Joseph Estrada, yang pernah menjabat sebagai Presiden Filipina. Jadi sebetulnya itu nggak ada masalah. Tetapi masalahnya apakah mereka yang maju itu betul-betul punya kapasitas untuk itu?

Lalu saya teringat hadits Nabi Saw, "Apabila suatu urusan tidak diberika kepada ahlinya maka tunggu saja kehancurannya". Hadits ini jelas dan tegas bahwa suatu urusan memang harus diberikan kepada ahlinya, dan bila tidak maka siap saja menanggung akibatnya. Saya juga sempat terpikir bila kita melamr pekerjaan saja harus ada wawancara yang detil tentang bakat dan kemampuan kita, belum ditambah psikotes-psikotes yang lainnya. Lalu, adakah tes serupa yang dilakukan oleh partai politik ketika merekrut para selebritis itu. Atau jangan-jangan hanya karena popularitas sang figur saja yang menjadi nilai lebih mereka. Sedangkan masalah bisa atau tidaknya mereka mengurus pemerintahan itu soal belakang. ah... lagi-lagi jadi kepikiran

Indonesia Baru Di tengah Pertarungan antara Mosaik Budaya yang elok dan kaya dengan ancaman keserakahan

oleh: Ahmad Syafi'i Ma'arif

Pendahuluan

Secara harfiah, mosaik berasal dari Bahasa Yunani Kuno mouseios, berarti sekeping karya seni dekoratif sebagai hasil perpaduan dari pecahan-pecahan batu atau gelas yang penuh warna-warni, sehingga membentuk sebuah pola atau gambar[1]. Indonesia tercinta yang terdiri dari 17.565 pulau besar dan kecil sebenarnya adalah sebuah mosaik fisik dan budaya yang teramat elok dan menawan dengan kekayaan alam yang masih potensial dan memberi harapan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak, jika saja dikelola secara baik dan jujur. Hutan-rimba sekalipun telah banyak yang digunduli dan dipetak-petak secara serakah, dan di beberapa daerah kondisinya sudah teramat parah, kita masih punya hutan lindung yang sebagian merupakan paru-paru dunia yang dibanggakan oleh seluruh penduduk bumi. Kekayaan laut kita masih memuat harapan untuk kepentingan kemakmuran bersama jika pencurian ikan dan pasir dihentikan sekarang juga dan untuk selama-lamanya. Kita memang memerlukan kepemimpinan nasional yang berani mengambil keputusan, tetapi bijak dan adil untuk memperbaiki borok-borok bangsa yang sudah parah ini. Ibarat kanker, kondisinya sudah berada pada tahap ketiga.

Korupsi sebagai salah satu bentuk keserakahan meskipun masih menggurita, tokh di antara anak bangsa yang bersih, jumlah jauh lebih besar. Petani-petani, nelayan-nelayan, dan buruh-buruh kecil kita sekalipun belum merasakan benar apa makna merdeka bagi perbaikan nasibnya, mereka tidak akan berontak, karena mereka memang tidak punya daya dan kesempatan untuk itu. Mereka inilah dalam jumlah puluhan juta yang belum juga merasakan rahmat kemerdekaan, sekalipun nenek moyang mereka tidak mustahil telah turut membantu para pejuang semasa pergerakan nasional untuk melihat negeri ini merdeka pada suatu hari, dan di masa revolusi telah menyumbang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara ini yang masih terancam.

Namun ada pula sosok lain yang nenek moyangnya belum tentu turut berjuang mengawal revolusi, sementara keadaan lahirnya telah cukup gemuk dan tambun oleh berbagai fasilitas yang didapatnya, berkat kemahirannya dalam memainkan seni kolusi dengan para pejabat dan aparat. Mereka ini termasuk jenis "Londo Ireng" dengan mental kumuh penuh daki. Oleh sebab itu, dalam menghadapi berbagai kasus kriminal, orang sering sukar membedakan antara oknum pejabat dan penjahat. Ini adalah "mosaik" lain yang tidak elok dipandang mata dan tidak boleh dibiarkan untuk terus mengacau republik ini di masa depan. Mengapa bangsa yang dikatakan relijius ini tidak pandai menjaga amanah kemerdekaan yang telah begitu banyak meminta korban itu? Apakah semangat multikultural dapat dijadikan modal untuk menjaga mosaik budaya Indonesia yang sangat kaya itu di masa datang yang tidak terlalu jauh? Bagaimana memerangi keserakahan yang dapat meluluhlantakkan semua yang sudah kita bangun selama ini dan hampir saja meruntuhkan keutuhan bangsa ini? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin disampaikan dalam orasi penerimaan Anugerah Hamengkuwono IX dalam rangka dies Universitas Gadjah Mada yang membahagiakan kami sekeluarga.

Relijiusitas, kebebasan berpikir, dan langkanya negarawan


Secara formal dan berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, hampir 100% rakyat Indonesia mengaku menganut agama tertentu: Islam (88,22%), Kristen/Katolik (8,92%), Hindu (1,81%), Budha (0,84%), dan Kong Hu-Chu (sekitar 0,82% tahun 1971), lain-lain (0,20%)[2]. Prosentase rakyat yang tidak jelas agamanya ternyata kecil sekali yaitu hanya 0,20%. Persoalannya bukan terletak pada jumlah penganut, tetapi terletak pada kualitas mental mereka dalam menjalankan agamanya masing-masing dalam upaya menjaga dan mengawal moral bangsa sehingga tidak merosot tajam seperti sekarang ini. Bagi saya kualitas relijiusitas, seseorang harus terlihat pada kualitas moralnya dalam berhubungan dengan sesama, alam semesta, dan dengan Tuhan. Kualitas hubungan menaik dengan Tuhan (Langit) harus tampak pula pada dimensi hubungan mendatar dengan sesama makhluk dan dengan lingkungan alam. Harmonisasi hubungan tiga dimensional ini merupakan pra-syarat untuk tegaknya sebuah bangunan peradaban yang boleh jadi akan bertahan lama, termasuk kita harapkan yang telah dan akan berkembang di nusantara ini.

Dalam perspektif di atas orang tidak boleh misalnya mengklaim bahwa ia telah punya hubungan baik dengan Tuhan, jika pergaulannya dengan sesama umat di muka bumi berada dalam kondisi kumuh dan penuh curiga. Inilah barangkali yang dibidik oleh al-Qur'an: "Ditimpakan kehinaan atas diri mereka di mana pun mereka berada, kecuali [mereka yang berpegang] dengan tali Allah dan tali manusia." (Q s. III:112). Agama yang fungsional dengan demikian adalah yang mampu menjaga hubungan erat dengan Langit serta dirasakan pula sentuhan positifnya pada dimensi mendatar dalam format persaudaraan yang tulus antar pemeluk beriman, bahkan dengan mereka yang tidak beriman. Di luar itu, agama tidak lebih dari serimoni dan upacara kosong tanpa makna, sekalipun dalam penyelenggaraan berbagai upacara keagamaan menelan beaya yang besar yang secara lahiriah terkesan gemerlapan. Agama yang benar-benar fungsional adalah agama yang mampu mengawal prilaku moral pemeluknya.

Di atas planet bumi yang semakin sesak ini dengan keanekaan bahasa dan tutur kata sebagai wujud dari kekayaan multikultural, tidak ada opsi lain bagi kita semua, kecuali mengembangkan budaya lapang dada dan santun, dengan tidak memandang latar belakang agama, etnisitas, dan ideologi politik, dengan syarat semuanya itu dilakukan secara jujur dan tulus. Rasisme yang belum juga menghilang seluruhnya dalam dunia modem haruslah dipandang sebagai daki peradaban yang tidak boleh dibiarkan berkembang dengan alasan apa pun. Agama yang disalahgunakan untuk membela rasisme merupakan sesuatu yang destruktif dan politik yang semacam itu perlu secepatnya dimasukkan ke dalam museum sejarah.

Selanjutnya bila kondisi moral bangsa kita sekarang ini diteropong dengan lebih cermat, maka tidaklah salah kalau kita menyimpulkan bahwa agama belum berfungsi secara benar dan efektif dalam kehidupan kolektif kita secara keseluruhan. Terlalu banyak penyimpangan dan bahkan kejahatan moral yang kita lakukan, tidak jarang atas nama Tuhan. Ini tidak lain dari perbuatan orang yang membajak Tuhan untuk kepentingan-kepentingan rendah sesaat tanpa rasa berdosa dan menyesal. Pemandangan yang tidak elok ini tidak boleh diperagakan terus, sebab pasti akan memuakkan orang yang berpikir jernih dan dalam, apa pun agama dan sukunya. Semuanya ini berlaku di wilayah politik, ekonomi, dan sosial dalam tenggang waktu yang sudah agak lama. Indonesia kita adalah sebuah bangsa yang mengaku beragama, tetapi setiap hari dan setiap malam nilai-nilai luhur agama itu diinjak dan diperkosa dengan dipayungi oleh berbagai pembenaran teologis dan kutipan-kutipan sakral. Keserakahan di kalangan segelintir orang memang telah merusak bangunan bangsa ini selama beberapa dasa warsa, dan sekarang harus dihentikan melalui penegakan hukum dan sikap tegas dari pemerintah.

Sama halnya dengan mereka yang sering berlindung di balik Pancasila, semata-mata untuk menutup syahwat kekuasaan sebagai agenda tersembunyinya. Pada periode lalu, berbagai penataran tentang Pancasila telah dilakukan dengan beaya ratusan milyar. Apa yang terjadi adalah: semakin sering ditatar, semakin rusak saja moral bangsa ini. Bukan karena Pancasila, tetapi semata-mata karena pengkhianatan kita terhadap nilai-nilainya yang luhur. Perbuatan kita mencabuli apa yang kita katakan. Terjadi keretakan antara kata dan laku. Wahai orang-orang yang beriman: "Mengapa kamu berkata tentang sesuatu yang tidak kamu lakukan? Besar kemurkaan di sisi Allah lantaran kamu berkata apa yang tidak kamu lakukan," teguran keras al-Qur'an dalam sebuah surat Madaniah. (Q LXI: 2-3). Teguran ini sudah disampaikan sejak puluhan abad yang lalu, justru kepada pemeluk beriman. Oleh sebab itu iman bukan untuk digembor-gemborkan dan menakuti-nakuti pihak lain, tetapi untuk dibuktikan dalam perbuatan baik yang dirasakan semua orang. Perbuatan baik inilah yang menjadi indikator utama, apakah seorang beriman atau tidak, yaitu beriman secara autentik, bukan iman yang dibungkus dalam jubah kepalsuan, iman basi-basi. Agama yang fungsional adalah agama yang mampu mengawinkan antara kekuatan spiritual dengan perbuatan baik dan mulia dalam kehidupan bersama. Dalam ungkapan lain, agama yang mampu mengawal arus peradaban, bukan yang terseret oleh kekuatan-kekuatan sosial yang destruktif.

Sekarang mari kita masuki wilayah hubungan agama dan kebebasan berpikir pada skala yang lebih mondial untuk meluaskan wawasan intelektual kita sebagai bangsa merdeka. Salah satu buah dari gerakan Renaisans di Eropa abad ke-16 adalah munculnya gelombang modernitas yang tak terbendung sampai hari ini. Salah satu buahnya adalah bahwa manusia modem didorong untuk berpikir sebebas-bebasnya sehingga doktrin-doktrin agama dan keimanan kepada Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang membelenggu dan ketinggalan zaman, dan karena itu harus disingkirkan. Segala apa yang menghambat kemajuan saintifik adalah musuh, menurut cara berpikir modem itu. Sudah sejak abad ke-19, F. Nietzsche bukan saja mengumumkan Tuhan telah mati, tetapi "Tuhan ini," tulisnya, "adalah bahaya terbesar bagimu”[3]. Deklarasi "Tuhan telah mati" (God is dead) Nietzsche telah menimbulkan heboh yang luar biasa di kalangan penganut agama formal, tetapi jika kita tengok masalahnya dengan tilikan yang lebih jernih dan seksama, kita mungkin akan sedikit simpati kepada filosuf kontroversial Jerman ini. Bukankah agama pada abad ke-19 itu dan juga pada abad-abad sebelumnya sudah tidak lagi berfungsi tertinggi? Tokoh secara efektif sebagai pengawal peradaban dan nilai-nilai -tokoh agama bahkan menentang temuan-temuan ilmu pengetahuan berdasarkan data empirik yang tak terbantahkan. Jadi apa yang dikemukakan Nietzsche sebenamya tidak lebih dari tafsirannya tentang krisis peradaban sekuler antroposentris akibat kegagalan agama dan nilai-nilai spiritual dalam menyediakan jawaban terhadap pemikiran dan temuan ilmiah yang sedang berkembang. Hanya kelemahannya, filosuf ini menggunakan ungkapan yang serba ekstrem sehingga memancing reaksi yang sangat hebat. Apa yang sedang kita saksikan sesungguhnya adalah melajunya kereta zaman yang sudah tak mungkin dihentikan lagi, maka Nietzsche "lalu mendorongnya sampai ke batas''[4] tulis Hollingdale, penerjemah Zarathustra dari Bahasa Jerman ke dalam Bahasa Inggris.

Nietzsche pada akhimya memang menjadi seorang nihilis, sementara kerinduannya untuk menemukan Tuhan pada waktu itu telah menemui jalan buntu, dan dia sendiri kemudian menjadi gila, 11 tahun sebelum meninggal pada 25 Agustus 1900 dalam usia 56 tahun. Barangkali tidak ada penulis mana pun yang mendefinisikan nihilisme setajam Nietzsche, yaitu situasi di mana "manusia berguling dari pusat menuju X", sehingga seperti ungkapan Heidegger, pada ujungnya 'there is nothing left' of Being as such (tidak ada lagi yang tersisa dari Yang Ada itu)[5]. Artinya Tuhan telah menghilang dalam pergaulan umat manusia, atau karena "telah mati", kata Nietzsche. Akibatnya memang sangat dahsyat, yaitu berlakunya proses devaluasi (kemerosotan) dari nilai-nilai tertinggi[6] dalam kehidupan modem. Dalam kalimat Charles Taylor: "People no longer have a sense of a higher purpose, of something worth dying for”[7]. Teknologi hanyalah mempercepat proses kemerosotan ini, karena kawalan spiritual telah demikian melemah.

Pemikiran bebas ini adalah bagian dari modernitas kultural yang implikasi-implikasinya menurut Habermas meliputi: (1) individualisme, (2) kebebasan dan kemampuan untuk menundukkan tradisi kepada penalaran kritikal, (3) otonomi tindakan individu, dan (4) filsafat tentang manusia yang menghasilkan pandangan dunia yang berpusat pada manusia (a man-centered view of the world)[8]. Implikasi keempat inilah terutama yang memberi peluang kepada manusia sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya untuk mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya tanpa merujuk kepada. sesuatu yang transendental atau kepada "an ultimate spiritual reality which gives the universe its meaning and value", dalam ungkapan A.J. Toynbee[9]. Pernyataan Nietzsche tentang kematian Tuhan hendaklah dibaca melalui kacamata modernitas kultural ini. Pada permulaan abad ke-21 ini, karya-karya Nietzsche tampaknya semakin digemari orang, terutama di Barat, karena beberapa ramalannya memang terbukti, di samping ungkapan-ungkapan sastranya yang provokatif.

Kita rekamkan laporan tentang Nietzsche ini, semata-mata untuk menunjukkan bahwa agama bila telah kehilangan fungsinya sebagai pengawal moral dan gerak peradaban, maka ia akan dilupakan orang, setidak-tidaknya diketepikan. Atau jika secara formal masih terlihat, yang berlaku tidak lain selain upacara-upacara ritual dan serimonial tanpa makna, sementara substansinya sebagai acuan moral telah ditelan arus komersialisasi yang , ganas dan tidak mengenal iba. Indonesia memang belum melahirkan Nietzsche sebagai pengamat sangat kritikal terhadap fenomena Tuhan dan agama, tetapi bahwa orang yang mengaku beragama telah menjual ayat-ayat Tuhan untuk kepentingan politik, posisi, dan sebagai mata pencarian, juga tidak asing di Indonesia. Komersialisasi agama dengan kawalan jubah dan tasbih telah sangat memprihatinkan agamawan yang lurus dan sejati.

Di samping penjaja ayat, ada pula kelompok yang tampil radikal dan militan dengan memakai pakaian-pakaian khas, tetapi mental dan sikap dasarnya tidak lebih baik dari mental dan sikap preman. Fenomena semacam ini juga merisaukan sebagian kita dalam membaca perkembangan masyarakat Indonesia kontemporer yang masih dilanda krisis. Di otak belakang kelompok radikal ini adalah kehausan terhadap kekuasaan. Jika kekuasaan itu dapat diraih, maka akan dibentuklah sebuah pemerintahan yang otoritarian, karena memang ke arah itulah mereka bergerak. Agama di tangan mereka tidak lebih dari pembenaran terhadap sistem kekuasaan yang memonopoli kebenaran itu. Oleh sebab itu, kelompok ini sangat anti demokrasi karena demokrasi memberi peluang kepada manusia untuk hidup damai dalam perbedaan, dalam iklim multikultural dan multiagama.

Namun, dalam sistem demokrasi, tentu saja kita tidak boleh pula menghukum kelompok-kelompok yang berwajah garang ini, selama mereka menghormati konstitusi, hukum, dan etika pergaulan. Tetapi saya akan sangat keberatan terhadap tafsiran agama mereka yang monolitik. Seakan-akan di luar paham mereka " tidak ada kebenaran.Tafsiran monopolistik ini jelas tidak sejalan dengan doktrin egalitarian yang diajarkan agama. Islam, misalnya, sangat tegas dalam membela prinsip persamaan ini. Kegagalan kaum fundamentalis menghadapimodernitas merupakan salah satu sebab mengapa sikap berani mati mereka sangat menonjol dan ditakuti. Sebenamya, jika kita tengok lebih dalam, sikap semacam ini adalah karena mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap hidup, atau karena tidak punya gagasan apa pun yang dapat ditawarkan untuk memperbaiki kondisi peradaban manusia yang semakin bercorak nihilistik ini. Mereka lari dari tanggung jawab sejarah dengan melakukan berbagai tindakan teror dan kekerasan. Ini terjadi akibat pandangan yang serba medioker dan monolitik itu. Tetapi harap dicatat, bahwa yang melakukan teror bukan hanya mereka, tetapi ada pula bentuk teror yang lebih dahsyat, yaitu yang disponsori negara tertentu yang semakin membawa dunia menjadi kalang-kabut dan lintang-pukang dengan meninggalkan korban dalam jumlah jutaan manusia. Maka benarlah pendapat Johan Galtung dan Dietrich Fischer bahwa "untuk mengakhiri terorisme, akhiri terorisme negara."[10] Apa yang berlaku di Palestina, Afghanistan, dan Iraq adalah bagian skenario terorisme negara ini. Penulis terkenal Perancis, Emmanuel Todd menulis bahwa apa yang dikatakan ancaman global sebenarnya tidak ada. "Tidak ada ancaman global yang menuntut jawaban darurat oleh Amerika Serikat demi melindungi kemerdekaan. Hanya ada satu ancaman terhadap stabilitas global yang meliputi dunia sekarang-yaitu Amerika sendiri, yang pada masa lalu sebagai protector (pelindung) dan kini sebagai predator (pemangsa)”[11]." Sungguh kritik Todd ini tepat dan tajam, sebab itulah yang kita saksikan sekarang, dan Amerika tidak mau belajar dari berbagai petualangan politik imperialistiknya pada masa lampau, khususnya di Vietnam yang memaksa mereka angkat kaki dari sana.

Untuk membatasi gerak kelompok radikal destruktif dalam masyarakat kita, jalan yang terbuka adalah menegakkan sistem demokrasi secara sehat, di mana keadilan bagi masyarakat luas betul-betul dirasakan sebagai sesuatu yang hidup. Demokrasi yang hanya berhenti sebagai wacana, tetapi tidak dalam realitas, akan selalu memberi peluang kepada kelompok-kelompok yang tidak puas dalam masyarakat untuk menebarkan virus kebencian terhadap tatanan kekuasaan yang sedang berlaku. Bahwa sebagian mereka terkooptasi oleh kekuasaan dalam berbagai periode juga bukan sesuatu yang asing dalam sejarah modem Indonesia. Di sinilah serba ironi fundamentalisme itu sering kita saksikan. Dalam satu situasi, kaum fundamentalis tampil dengan panji-panji idealisme yang memukau, tetapi pada situasi lain, jati-dirinya sebagai kelompok yang haus kekuasaan tidak dapat disembunyikannya, karena raison d'etre mereka memang untuk berkuasa, demi menggantikan sistem politik yang dinilainya serba sekuler dan tidak adil.

Tetapi yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa fundamentalisme dan sekularisme sesungguhnya sama-sama membuahkan dampak destruktif bagi sebuah keseimbangan sosial (social equilibrium) dalam masyarakat mana pun. Sistem Pancasila yang sudah kita sepakati, pada hakekatnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang berimbang itu, dengan syarat sila-silanya dipahami sebagai sebuah kesatuan yang saling mengisi dan melengkapi. Dengan Pancasila, kita telah memiliki modal filosofis sosial dan politik untuk membangun sebuah Indonesia modem yang berkeadilan dan bermartabat. Fungsi lain dari Pancasila adalah sebagai kekuatan pengikat unsur-unsur subkultur Indonesia yang sangat beragam lagi kaya itu.

Untuk itu, kita memerlukan lahimya para negarawan yang secara kultural dan historis berakar kuat dalam darah daging bangsa ini. Maka dalam sistem demokrasi yang sehat, peluang untuk tampilnya para negarawan ini menjadi semakin besar, sekalipun memerlukan waktu. Sistem politik yang otoritarian selama ini telah mengunci peluang untuk munculnya para negarawan Indonesia yang visioner itu. Akibatnya kita rasakan sekarang, yaitu semakin banyaknya jumlah politisi yang menjadikan politik lebih sebagai mata pencarian, tetapi hanyalah sedikit sekali di antara mereka yang dapat diharapkan menjadi negarawan. Inilah di antara kelemahan kita yang cukup serius dalam bernegara setelah hampir 60 Indonesia merdeka.

Oleh sebab itu, sebuah kondisi yang mantap bagi proses percepatan tampilnya para negarawan Indonesia modem ini perlu selalu diciptakan dan dipelihara, baik oleh negara maupun oleh masyarakat sendiri, dengan memberi peluang yang sama kepada semua warga negara yang berpotensi untuk itu. Dengan jalan ini diharapkan kelangkaan negarawan akan dapat diatasi dalam tempo yang tidak terlalu lama. Adalah sebuah kenyataan sejarah bilamana rakyat Indonesia diberi peluang yang wajar untuk mengembangkan bakatnya sebagai calon negarawan, bibitnya cukup tersedia pada semua sub-kultur kita yang beragam itu. Oleh sebab itu demokrasi kita yang mulai menampakkan tanda-tanda baik ini tidak boleh dibunuh lagi dengan alasan apa pun.

Multikulturalisme, mosaik budaya Indonesia, dan ancaman keserakahan


Secara historis, ciri utama multi kulturalisme ialah adanya kenyataan tentang: 1. Kebutuhan manusia terhadap pengakuan; 2. Perlunya legitimasi keragaman budaya atau pluralisme budaya[12]. Dalam perspektif dua ciri ini, multikulturalisme dapat dijadikan benteng terhadap monokulturalisme sebagai bawaan dari gelombang globalisasi sebagai perpanjangan radius peradaban ekspansif Barat modem, dalam arti positif atau negatif. Yang positif menyangkut dimensi ilmu dan teknologi yang bergerak dengan kencang, sedangkan yang negatif adalah serbuan nihilisme, sebagaimana yang telah dibicarakan sebelumnya. Dengan adanya pengakuan dan legitimasi nilai-nilai budaya suatu masyarakat, maka kecenderungan yang serba mono (tunggal) dapat dihadapi dengan sikap percaya diri,karena apa yang kita miliki belum tentu sesuatu yang usang yang harus segera dibuang.

Tetapi filsafat multikultural jika tidak disikapi dengan hati-hati, dapat pula menyuburkan kebanggaan berlebihan terhadap budaya lokal atau nasional, tanpa sikap kritikal. Oleh sebab itu mosaik subkultur Indonesia yang kaya dan beragam haruslah senantiasa membuka diri terhadap unsur-unsur luar yang positif, agar terhindar dari keterasingan lintas budaya dalam proses memberi dan menerima. Dalam sebuah dunia yang semakin mengecil tanpa batas berkat teknologi informasi-komunikasi, maka hampir mustahil orang akan bebas dari pengaruh unsur kultur lain. Yang penting adalah agar milik kita jangan sampai tergusur, kecuali jika keadaannya memang sudah dalam proses membusuk, sehingga tidak mungkin lagi dipertahankan sebab sudah menjadi beban budaya itu sendiri.

Dalam filsafat bhinneka tunggal ika yang telah menjadi doktrin pengikat bangsa Indonesia, khususnya sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda 1928, multikulturalisme dapat memainkan peran positifnya agar mosaik sub-kultur kita yang baik dapat dipertahankan. Dalam pribahasa Minang yang terkait dengan masalah adat, kita mengenal ungkapan: "Tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan." Tetapi ungkapan ini hanya mungkin berlaku dalam situasi isolatif, pada saat interaksi lintas budaya masih sulit karena belum disentuh teknologi modem. Begitu pula pribahasa yang sering kita dengar: "Berani karena benar, takut karena salah." Dalam iklim demokrasi, pribahasa ini sudah ketinggalan, sebab yang dituntut orang kemudian adalah: "Berani itu benar, takut itu salah." Pers bebas adalah salah satu indikator dari ungkapan terakhir ini.

Kasus Munir misalnya telah dibicarakan secara bebas dan berani oleh pers, tinggal menanti tanggapan pemerintah terhadap tuntutan masyarakat yang ingin segera masalahnya terungkap tuntas dan gamblang. Membiarkan masalah peka ini tergantung di awang-awang dapat melemahkan legitimasi sosial dan moral pemerintah. Kabinet Indonesia Bersatu sebagai realisasi dari hasil pemilihan presiden/wakil presiden secara langsung oleh rakyat pada tanggal 20 September 2004 merupakan sebuah prestasi demokrasi yang sangat mengagumkan. Oleh sebab itu pemerintah wajib bersikap responsif terhadap keluhan dan tuntutan masyarakat, jika memang tuntutan itu punya substansi yang kuat. Kasus Munir yang telah mendapat perhatian luas jangan dibiarkan terlunta-lunta, sebab akibatnya akan sangat buruk bagi citra penegakan hukum kita di mata publik dunia. Seorang Munir yang tampaknya berpegang kepada diktum: "Berani itu benar, takut itu salah", adalah sosok anak bangsa yang semestinya tidak halal diracun, sebab dari jumlah 220 juta rakyat Indonesia, mencari tandingan keberanian Munir susah sekali[13].

Akhirnya sampailah kita kepada bagian yang cukup genting dalam orasi ini, yaitu tentang ancaman keserakahan yang dapat meluluhlantakkan mosaik budaya dan fisik nusantara yang telah lama dikenal dunia. Pembicaraan tentang korupsi tidak akan diperpanjang lagi dalam pidato ini, karena sudah terlalu membosankan. Tetapi perasaan tertampar muka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akibat sorotan mata 20 delegasi APEC di Santiago bulan lalu yang langsung mengarah kepadanya pada saat forum mengupas tentang korupsi, kiranya lebih dari cukup untuk kita beristighfar dan bertanya kepada diri sendiri: "Bangsa macam apa kita sebenarnya?"[14].Saya di sini hanya akan menambahkan data yang diberikan oleh M.S. Kaban tentang kebocoran negara dari sektor hutan dan satwa yang dicuri. "Tidak kurang dari Rp.50 triliyun harta negara yang lenyap setiap tahun dari praktik yang serba ilegal, baik kayu mau pun satwa.[15]" Kayu dan satwa ini diambil dari berbagai pulau di Indonesia, khususnya Kalimantan dan Papua, kemudian diseludupkan ke luar negeri untuk meraup keuntungan pribadi yang fantastik, tetapi dengan mengorbankan kepentingan bangsa, negara, dan terutama rakyat kecil. Dalam proses penyeludupan ini, peran aparat untuk melindungi si pencuri serakah sudah bukan rahasia lagi. Di sinilah permainan kongkalikong itu semakin menggila, seakan-akan negeri ini sudah tidak bertuan lagi. Akibat pencurian kayu ini, hutan-hutan sudah semakin gundul, sehingga degradasi hutan sudah mencapai 2,7 juta hektar per tahun[16].

Kerusakan hutan adalah wujud belaka dari kerusakan mental orang serakah, tetapi mencelakakan orang banyak di samping merusak lingkungan. Keserakahan di mana pun di muka bumi umumnya terlihat dalam dua wajah: wajah uang dan wajah kekuasaan. Yang ironis adalah bahwa hampir tidak ada penguasa yang mau belajar dari kesalahan masa lampau, yang pada umumnya disebabkan oleh laku dosa dan dusta penguasa itu sendiri. Untuk Indonesia, ada istilah "pengusaha" (penguasa yang berkolusi dengan pengusaha). Sebagai seorang senior citizen, setelah kita hampir 60 tahun merdeka, saya berharap agar kita tidak hanya berbicara tentang siapa atau partai mana yang menang dalam pemilihan umum. Yang harus kita perkatakan dan kita perjuangkan tanpa mengenal lelah adalah agar hati nurani dan akal sehat menjadi pemenang tunggal untuk menyelamatkan Indonesia baru yang sangat kita cintai. Kemenangan hati nurani dan akal sehat dapat melumpuhkan budaya serakah yang masih belum menghilang dari tubuh bangsa ini.

Yang lumpuh adalah hati nurani

Yang lumpuh adalah akal sehat [17]


Penutup

Dari podium ini, sudah lebih dari pantas, saya sekeluarga mengucapkan rasa haru dan terima kasih kepada Rektor, senat Guru Besar, dan seluruh sivitas akademika Universitas Gadjah Mada atas Pemberian Anugerah Hamengkubuwono IX tahun ini. Mengaitkan nama besar HB IX dengan pemberian anugerah ini tidak saja untuk mengenang jasa luar biasa dari salah seorang tokoh pendiri negara kita yang telah berpihak sepenuhnya kepada republik dan telah menyerahkan harta Keraton, entah berapa banyaknya, demi tegaknya bangsa dan negara pada masa revolusi, tetapi lebih dari itu. HB IX yang tidak pernah bersedia menyebut jasanya, adalah kekuatan perekat yang sangat kuat bagi keutuhan kita sebagai bangsa. Tetapi ada satu soal yang pernah saya sampaikan langsung kepada pewarisnya, Sri Sultan Hamengkuwono X, yaitu "sekiranya HB IX mau sedikit berkata terus terang kepada Bung Karno dan Pak Harto tentang kondisi bangsa dan negara yang sebenarnya, keadaan Indonesia tentu tidak akan seburuk seperti yang kita alami". Jawaban yang saya terima adalah: "Itulah ayah saya yang pernah mengatakan kepada saya agar [saya] lebih berani."[18] HB IX, seorang raja, tetapi terlalu menenggang perasaan orang lain, sebuah kemampuan mengendalikan diri yang luar biasa, memang. Terima kasih Sri Sultan, semoga nasehat HB IX adalah nasehat untuk semua pemimpin Indonesia baru yang sedang dan yang akan muncul. Terima kasih Keraton Jogja yang telah menyediakan segala kemudahan bagi penyelenggaraan acara orasi malam ini.

Jogjakarta, 20 Desember 2004

[1] Lih. David B. Guralnik et al (ed.), Webster's New World Dictionary of the American Language. New York: the World Publishing Company, 1970, hlm 488; Jonathan Metcalf et al. (ed.), Illustrated Oxford Dictionary. Oxford-New York: Oxford University Press, 1998, hlm. 530.

[2] Lih. Leo Suryadinata, Evi Nurvidya Arifin, Aris Ananda, Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2003, hlm. 104.

[3] F. Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, terj. R.J. Hollingdale. New York: Penguin Books, 1976, hlm. 297.

[4] Ibid. Lih. Pengantar, hlm. 13

[5] Lih. Gianni Vattimo, The End of Modernity, terj. Jon R. Snyder. Baltimore: The Johns Hopkins University Press, 1991, hlm. 19. Di Barat sekarang perhatian terhadap Nietzsche semakin meluas saja. Salah satu biografi filosofisnya ditulis oleh Rudiger Safranski, Nietzsche: A Philosophical Biography. London: Granta Books, 2003, cukup penting untuk dibaca sebagai pengenalan awal terhadap filosuf ini. Sekarang hampir seluruh karyanya sudah tersedia dalam Bahasa Inggris, dan beberapa dalam Bahasa Indonesia.

[6] Ibid., hlm 20

[7] Charles Taylor, The Malaise of Modernity. Concord, Ontario: Anansi, 1992, hlm. 4.

[8] Lih. Bassam Tibi, The Challenge of Fundamentalism: Political Islam and the New World Disorder. Berkeley: University of California Press, 2002, hlm. 80, dikutip dari Jurgen Habermas, The Philosophical Discourse of Modernity. Cambridge, Mass.: MIT Press, 1987

[9] Lih. AT Toynbee, Surviving the Future. New York-London: Oxford University Press, 1973, hlm. 56.

[10] Lih. Johan Galtung dan Dietrich Fischer, "To End Terrorism, End State Terrorism" dalam Just Commentary, Vol.2, No. 9, 2002, hlm. 1

[11] Emmanuel Todd, After the Empire: The Breakdown of the American Order, terj. C. Jon Delogu. London: Constable & Robinson, 2003, hlm. 191

[12] Lih. H.A.Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo, 2004, hlm. 83

[13] Mingguan Tempo, 5 Desember 2004, tidak kurang dari sembilan halaman telah berbicara tentang kasus Munir ini, lih. hlm 23, 26-28, dan 30-34

[14] Kolom yang cukup baik tentang ini, lih. Asro Kamal Rokan, "Tak Perlu Lagi Kata-kata", Republika, 8 Des. 2004, hlm 12.

[15] Keterangan Menteri Kehutanan sewaktu saya diminta berbicara tentang perbaikan moral bangsa di Departemen Kehutanan pada 30 Nopember 2004.

[16] Ibid

[17] Motto Khutbah iftitah yang saya sampaikan dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Mataram (Lombok), 2-5 Desember 2004.

[18] Pembicaraan terjadi di Pagelaran Keraton pada tanggal 7 Desember 2004, saat Sri Sultan mengadakan jamuan makan malam bagi delegasi tokoh-tokoh agama dari 13 negara.

Perspektif-Perspektif Hubungan Internasional

Ditulis oleh; Asep Setiawan

I. PENDAHULUAN
Berbagai perspektif teori hubungan internasional selama abad ini memperlihatkan pengaruh Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Dingin. Perspektif itu lahir dalam konteksnya sendiri sehingga dapat dilihat bahwa ada persepektif yang sudah ketinggalan tapi juga ada perspektif yang masih bisa hidup dalam era pasca Perang Dingin ini.
Makalah ini bertujuan untuk menjelajah berbagai perspektif yang muncul dalam hubungan internasional. Sedikitnya ada enam perspektif seperti diungkapkan Charles Kegley yang akan dikaji yakni Current History, Idealisme Politik, Realisme Politik, Aliran perilaku (behavioralism), Neorealisme dan Institusionalisme neoliberal

I. CURRENT HISTORY
Hubungan internasional sebagai ladang penyelidikan intelektual sebagian besar dipengaruhi fenomena abad ke-20. Akar-akar sejarah disiplin ini terletak pada sejarah diplomatik.
Sejarah diplomatik merupakan salah satu pendekatan untuk memahami HI yang berfokus pada deskripsi kejadian-kejadian sejarah, bukan eksplanasi teori. Untuk kemudahan, aliran ini disebut pendekatan Current History terhadap studi HI.
Lingkungan pada awal abad ketika lahirnya studi HI dimulai dengan optimisme. Banyak orang yakin bahwa perdamaian dan kemakmuran akan hadir. Hukum internasional menguat dan konferensi perdamaian Den Haag 1899 dan 1907 dipicu oleh harapan bahwa persenjataan bisa diawasi dan Eropa takkan mengalami perang lagi.
Namun harapan itu hancur karena Perang Dunia I yang pecah mulai 1914. Pengalaman menyakitkan ini melahirkan pencarian pengetahuan mengenai sebab-sebab perang, misalnya, dalam konteks teori. Oleh karena itulah para pengambil kebijakan dan pakar memerlukan sebuah teori untuk meramalkan pecahnya perang dan bagaimana mencegahnya.

II. IDEALISME POLITIK
Perang Dunia I membuka pintu terhadap revolusi paradigma dalam studi HI. Sejumlah perspektif HI berusaha menarik perhatian para peminatnya pada periode ini. Meskipun demikian aliran current history masih memiliki pengikutnya.
Secara kolektif kelompok idealis memiliki keyakinan yang sama seperti :
1. Yakin bahwa fitrah manusia adalah “baik”. Oleh karena itulah manusia mampu saling membantu dan bekerja sama.
2. Perhatian fundamental manusia terhadap perang memungkinkan terjadinya kemajuan. Pendapat ini seperti keyakinan kaum Pencerahan tentang kemungkinan perbaikan peradaban.
3. Perilaku buruk manusia adalah produk, bukan manusianya yang jahat tetapi lembaganya yang buruk dan pengaturan struktural yang memotivasi orang untuk bertindak egois dan merusak yang lainnya, termasuk perang.
4. Perang bukan tidak terhindarkan dan sering dapat dicegah dengan menghapuskan lembaga yang mendorongnya.
5. Perang adalah masalah internasional yang memerlukan usaha kolektif atau multilateral dan bukannya usaha nasional saja.

6. Masyarakat internasional harys mengakui usaha untuk menghapus
institusi yang mendorong terjadinya perang.

III. REALISME POLITIK
Perspektif Realisme lahir dari kegagalan membendung Perang Dunia I dan II. Aliran ini semakin kuat setelah Perang Dunia II, terutama di Amerika Serikat. Pacuan senjata yang marak ketika Perang Dingin semakin mengukuhkan perspektif Realisme.
Pandangan-pandangan yang jadi fundasi aliran ini posisinya berseberangan dengan mereka yang menganut idealisme. Misalnya, perspektif ini berkeyakinan bahwa manusia itu jahat, berambisi untuk berkuasa, berperang dan tidak mau kerja sama.

IV.PENDEKATAN PERILAKU (THE BEHAVIORAL APPROACH)
Aliran realisme klasik menyiapkan secara serius pemikiran teoritis mengenai kondisi global dan kaitan empiris. Namun demikian ketidakpuasan karena kurangnya data, reaksi tandingan, kesulitan dalam peristilahan dan metode, mendapatkan momentum pada tahun 1960-an dan awal 1970-an.
Disebabkan pendekatan perilaku terhadap studi hubungan internasional maka banyak mempengaruhi pendekatan terhadap teori dan logika serta metode penelitian.
Aliran Perilaku dalam hubungan internasional bagian dari gerakan besar yang menyebar dalam ilmu-ilmu sosial secara umum. Sering disebut pendekatan ilmiah (scientific approach), behavioralisme menantang model-model yang ada dalam mempelajari perilaku manusia dan basis teori-teorinya yang disebut
tradisionalisme.
Perdebatan panas sering mewarnai para ilmuwan mengenai prinsip-prinsip dan prosedur yang paling tepat dalam meneliti hasil-hasil fenomena internasional. Debat itu berpusat pada makan teori dan syarat-syarat teori yang memadai dan metode terbaik yang tepat untuk pengujian teori.
Sebagian besar perdebatan berlangsung antara penganut perilaku dan kubu tradisionalis sangat hangat. Memang benar “berteori mengenai teori” dan berteori tentang hubungan internasional sering bercirikan perdebatan. Literatur pada periode ini diwarnai dengan isu-isu metodologis, bukannya masalah substantif.
Asumsi yang sama dan preskripsi analitik merupakan ini dari gerakan perilaku. Aliran Perilaku mengusahakan generalisasi seperti hukum mengenai fenomena internasional. Yakni, pernyataan mengenai pola-pola dan keteraturan melintasi waktu dan tempat.
Ilmu, kata kaum penganut perilaku, adalah aktivitas membuat generalisasi. Oleh sebab itu tujuan penelitian ilmiah adalah menemukan pola-pola ajeg perilaku antar negara dan penyebab-penyebabnya.
Bertolak dari perspektif ini sebuah teori hubungan internasional harus berisi pernyataan hubungan antar dua atau lebih variabel, khusus untuk kondisi dimana hubungan berlangsung dan menjelaskan mengapa hubungan itu bisa berlangsung.
Untuk menemukan teori-teori itu, penganut perilaku condong kepada analisa komparatif lintas nasional tak hanya sekedar studi kasus negara tertentu dalam waktu tertentu seperti terlihat dalam pendekatan Current History.
Kubu perilaku juga menekankan perlunya mengumpulkan data mengenai karakteristik negara dan bagaiman berhubungan satu sama lain. Oleh sebab itulah gerakan perilaku ini diwarani dengan studi kuantitatif hubungan internasional.

V. PENDEKATAN NEOREALISME STRUKTURAL
(THE NEOREALIST STRUCTURAL APPROACH)

Pendekatan realisme politik masih penting sebagai perspektif teoritis yang mendasari analisa masalah keamanan nasional. Namun juga mendapat popularitasnya setelah terbentuk dalam teori umum politik internasional yang disebut neorealisme atau realisme struktural.
Neorealisme membedakan antara eksplanasi peristiwa politik internasional di tingkat nasional seperti negara yang diketahui sebagai politik luar negeri dengan eksplanasi peristiwa di tingkat sistem internasional yang disebut sistem atau teori sistem.
Apa yang neorealis inginkan adalah “mensistemasikan realisme politik kedalam teoris sistem yang kuat, deduktif dari politik internasional.”
Seperti dikemukakan Kenneth M Waltz dalam bukunya yang berpengaruh Theory of International Politics (1979) dan dianggap sebagai karya utama pemikiran neorealis, “struktur internasional muncul dari intreraksi negara dan kemudian hambatan yang dihadapi dalam mengambil tindakan tertentu saat terdorong ke negara lain.”
Seperti dalam realisme klasik, anarki dan ketiadaaan lembaga sentral (sebuah pemerintah) menjadi ciri struktur sistem. Negara masih menjadi aktor utama. Mereka bertindak sesuai dengan prinsip menolong diri sendiri dan semuanya mengusahakan agar bisa bertahan.
Oleh karena itu menurut realisme struktural, negara tak berbeda dalam tugas-tugasnya yang dihadapinya. Yang berbeda adalah kapabilitasnya. Kapabilitas mendefinisikan posisi negara dalam sistem dan distribusi kapabilitas mendefinisikan sistem struktur.
Demikian pula perubahan dalam distribusi kapabilitas merangsang perubahan dalam struktur sistem seperti dari konfigurasi kekuatan multipolar ke bipolar atau dari bipolar menuju unipolar.
Kekuatan juga masih menjadi konsep sentral realisme struktural. Namun demikian, masalah merebut kekuasaan tak lagi dianggap tujuan seperti dalam realisme klasik. Hal itu juga tidak dilihat sebagai karakter manusia.
Seperti dijelaskan Waltz, “negara berusaha dalam cara yang lebih kurang masuk akal menggunakan cara yang ada untuk mencapai tujuan yang terjangkau”.
Cara-cara itu digolongkan dalam dua kategori yakni usaha internal seperti meningkatkan kemampuan ekonomi, kekuatan militer, mengembangkan strategi yang lebih pintar serta usaha eksternal seperti memperkuat dan memperluas aliansi atau memperlemah dan membubarkan aliansi musuhnya.
Keseimbangan kekuatan (balance of power) muncul lebih kurang secara otomatis dari instink untuk bertahan. “Kencenderungan keseimbangan kekuatan untuk membentuk apakah sejumlah negara semua negara secara sadar bertujuan membentuk dan mempertahankan keseimbangan atau apakah sejumlah atau beberapa negara bertujuan dominasi universal,” tulis Waltz (1979).
Sekali sistem internasional terbentuk, sistem itu “akan menjadi kekuatan yang dimana unit-unit didalamnya tak mampu mengontrol, sistem itu membatasi perilaku mereka dan menempatkan mereka antara niat mereka dan hasil dari tindakan mereka.”

VI. INSTITUSIONALISME NEOLIBERAL
Seperti halnya neorealis, institusionalis neoliberal menggunakan teori struktural politik internasional. Mereka terutama berkonsentrasi kepada sistem internasional, bukannya karakteristik unit atau sub unit didalamnya.
Namun mereka memberi lebih banyak perhatian cara lembaga internasional dan aktor non negara lainnya mempromosikan kerja sama internasional.
Daripada hanya menggambarkan dunia dimana negara-negara di dalamnya enggan bekerja sama karena masing-masing merasa tidak aman dan terancam oleh yang lainnya, institusionalis neoliberal membuktikan syarat-syarat kerja sama yang mungkin dihasilkan dari kepentingan yang tumpang tindih diantara entitas politik yang berdaulat.
Sebagai tambahan dari idealisme klasik, akar intelektual pendekatan yang biasa disebut pula neoliberalisme dapat dilacak dari studi integrasi regional yang mulai merebak pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an saat para pakar berusaha memahami proses dimana unifikasi politik negara bedaulat mungkin bisa dicapai.
Usaha-usaha untuk menciptakan lembaga baru di Eropa Barat mendapat perhatian besar bersamaan dengan meluasnya aliran transaksi, mendorong Eropa mengorbankan sebagian kemerdekaan kedaulatan dalam upaya menciptakan unit politik baru yang terpisah. Prestasi Eropa ini memberikan inspirasi bagi kawasan lainnya.
Untuk mengkaji konsep dalam pemikiran neoliberalis, perlu kita lihat tiga perspektif yang berdekatan dengannya.

1. Interdependensi yang kompleks (Complex Interdependence) sebagai sebuah Pandangan Dunia

Sebagai sebuah perspektif analitik yang eksplisit, inderdendensi kompleks (complex interdependence) muncul pada tahun 1970-an untuk menantang asumsi-asumsi kunci kerangka teoritis saingannya, khususnya realisme klasik.
Pertama, menantang asumsi yang ada bahwa negara bangsa hanya satu-satunya aktor penting dalam politik dunia. Lalu mereka memperlakukan aktor lain seperti perusahaan multinasional dan bank-bank transnasional sebagai “penting bukan karena hanya kegiatannya dalam mengejar kepentingan mereka, namun juga karena
mereka bertindak sabuk transmisi sehingga membuat kebijakan pemerintah di sejumlah negara lebih sensitif terhadap negara lain (Keohane dan Nye, 1988).
Dalam pengertian ini, interdependensi kompleks sebagai sebuah “holistik”, konsepsi sistem yang melukiskan politik dunia sebagai jumlah interaksi banyak bagian dalam “masyarakat global” (Holsti, 1988).
Kedua, intedependen kompleks mempertanyakan apakah isu keamanan nasional mendominasi agenda keputusan negara bangsa. Berdasarkan kondisi interdependensi, agenda politik luar negeri menjadi “semakin luas dan beragam” karena jangkauan luas kebijakan “pemerintah”, meskipun sebelumnya dipandang sebagai kebijakan domestik.
Ketiga, perspektif yang dipertikaikan dalam konsep populer bahwa kekuatan militer satu-satunya alat dominan dalam menggunakan pengaruh di politik internasioal, khsusnya diantara negara industri dan masyarakat demokratis di Eropa dan Amerika Utara.

2. Rejim-rejim internasional

Meskipun sistem internasional masih memiliki karakter anarkis, sifatnya dapat lebih dikonseptualisasikan sebagai anarki yang tertib dan sistem secara keseluruhan sebagai “masyarakat anarkis” karena kerja sama, bukan konflik, sering hasil yang dapat diamati
dalam hubungan antar negara.
Karena realitas ini, masalah baru muncul : bagaimana prosedur dan aturan yang terlembagakan untuk manajemen kolektif masalah kebijakan global dapat dibentuk dan dipertahankan ? Kepentingan dalam masalah itu muncul dari dua tujuan motivasi kebanyakan analis neoliberal. Pertama, “keinginan memahami seberapa jauh hambatan bersama mempengaruhi perilaku negara”. Kedua, kepentingan dalam merancang strategi untuk menciptakan “tatanan dunia” yang lebih tertib.
Menuru sebuah definisi, rejim adalah sistem terlembaga kerja sama dalam isu-isu tertentu. Krasner (1982) menjelaskan, “ini adalah pemasukan perilaku dengan prinsip dan norma yang membedakan aktivitas rejim yang diperintah dalam sistem internasional dari aktivitas yang lebih konvensional oleh kepentingan sempit yang
terukur”. Oleh karena itu esensi dari sebuah rejim adalah terdiri dari “sistem aturan perilaku internasional”.
Sistem moneter global dan sistem perdagangan yang tercipta setelah Perang Dunia II merupakan ekspresi jelas dari rejim-rejim internasional.

3. Teori Stabilitas Hegemoni

Seperti ditekankan oleh perspektif institusionalis neoliberal, aktor-aktor non negara memainkan peran penting dalam kerja sama internasional yang menjadi karakter Tatanan Ekonomi Internasional Liberal.
Perspektif ini juga mengajak memperhatikan peran menentukan kekuatan besar Amerika Serikat dalam mempromosikan stabilitas dan operasi efektif rejim moneter dan perdagangan pasca Perang Dunia II.
Masalah yang muncul adalah: Apa pengaruh menurunnya kekuasaan AS seperti dipersepsikan banyak pihak tehadap lembaga rancangannya untuk mendorong kerja sama internasional ? Apakah menurunnya pengaruh itu bisa menjelaskan ketidaktertiban tatanan ekonomi global yang muncul sejak 1970-an ? Masalah-masalah inilah yang jadi perhatian khusus bagi analis yang tertarik pada stabilitas hegemoni.
Teoritisi stabilitas hegemoni membedakan definisi hegemoni dengan menekankan kapasitas kekuatan militer untuk mengendalikan tatanan dunia dan kapasitas kekuatan ekonomi untuk menentukan dan mendikte aturan yang mengendalikan perdagangan, keuangan dan investasi internasional.
Dalam konteks institusionalisme neoliberal, teori stabilitas hegemoni didedikasikan terutama pada tugas menjelaskan bukan perang dan damai namun menerangkan mengapa negara-negara penting (hegemonik) di hirarki tertinggi (seperti AS setelah Perang Dunia II) termotivasi mempromosikan rejim internasional yang menguntungkan
yang tak hanya menguntungkan diri tapi juga negara lain.

VII. KESIMPULAN
Untuk memahami perubahan dunia sekarang dan membuat prognosis yang masuk akal tentang masa depan, kita pertama-tama perlu melengkapi dengan pengetahuan secukupnya dan alat-alat konseptual, interpretasi yang bertentangan mengenai cara-cara melihat peta politik dunia dan masalah dari asumsi-asumsi cara pandang dunia ini.
Seperti kita bahas sebelumnya, ada sejumlah alternatif yang kadang-kadang saling melengkapi dalam mengorganisasikan perspektif teoritis tentang hubungan internasional.
Alasannya jelas. Masalah hubungan internasional, problem global adalah salah satu bagian yang kompleks dan berat yang tak dapat direduksi menjadi penilaian yang tunggal dan sederhana.

Sabtu, 26 April 2008

negara individual

kalo kita mau perhatikan ternyata prestasi yang diraih cabang olahraga team sangat menyedihkan bila kita bandingkan dengan cabang olahraga perorangan. lihat saja bagaimana cabang olahraga sepakbola, yang digemari banyak orang dinegeri ini, gak ada prestasi yang bisa dibanggakan. begitu juga dalam olahraga volley, basket. polo air dan yang lainnya. semua sama nggak ada prestasi yang bisa membuat kita bangga.

tetapi sebaliknya dalam cabang olahrga yang menonjolkan peran seseorang. lihat aja dalam cabang bulutangkis. Gelar dunia, emas olimpiade, emas Al England dan sederet gelar lainnya udah pernah diraih. begitu juga dalam olahraga tinju kita punya nama Chris Jon. cabang tenis pernah ada seoarang Yayuk Basuki. di catur ada Grand Master Utut Adianto. dan lainnya.

yang jadi pertanyaan mengapa ini bisa terjadi? ternyata kalo kita mau teliti jawabnya ialah mudah. bangsa ini ternyata lebih suka menonjolkan dirinya, dibandingkan bila jarus kerjasama. semangat gotong royongnya sekarang sudah hilang. yang ada semangat narsisme, bangga dengan diri sendiri. semangat inilah yang kelihatan saat ini. kita lebih suka menyebut dan disebutkan nama sendiri, dibandingkan dengan mendengar nama orang lain.

yang parah ketika semangat ini juga terbawa kepada mereka yang seharusnya bekerja secara tim. diawal pemerintahan SBY-JK, kita kerap mendengar ketidaksepahaman mereka dalam beberapa hal. hingga mencuatkan isu ada menteri yang loyak kepada SBY dan menteri yang loyak kepada JK. begitu juga ditingkat menteri. banyak komentar-komentar yang saling bertabarakan antara menteri yang satu dengan menteri yang lain. padahal pemimpin mereka sama, sidang pun bareng-bareng. entah ini karena komunikasi yang nggak nyambung atau karena memang semangat individual itu.

dikalangan elite politik juga begitu. mereka ketika tidak cocok dengan kepemimpinan partai, atau ketika sudah merasa partainya gak bisa dimanfaatkan lagi. ramai-ramai keluar membikin partai baru. jadi jangan heran ketika jumlah partai sekarang semakin banyak. yang repotnya hampir partai baru itu dibuat oleh mereka yang memang sakit hati dengan partai lama mereka. ya, ketika diri tidak keangkat, atas nama perubahan dan pembaruan, mereka membuat partai baru lagi.

ah, sebetulnya banyak yang ingin saya tulis. tetapi karena nanti saya juga kena tuduhan narsis, asyik mengkritik tetapi gak mau dikritik, jadi saya sudahi dulu aja tulisan ini. moga-moga sih ada yang baca.

Jumat, 25 April 2008

situs hadits online

berikut adalah sebuah situs yang berisikan kitab-kitab hadits, http://hadith.al-Islam.com situs ini milik Departemen Wakaf Kerajaan Saudi Arabia.

Di dalamnya terdapat 9 kitab matan hadits yang utama:

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Sunan At-Tirmizy
  4. Sunan An-Nasa'i
  5. Sunan Abu Daud
  6. Sunan Ibnu Majah
  7. Sunan Ahmad
  8. Al-Muwaththa' dan
  9. Sunan Ad-Darimi.

Sedangkan kitab syarahnya antara lain:

  1. Fathul Bari (Penjelasan Shahih Bukhari)
  2. Syarah An-Nawawi (penjelasan Shahih Muslim)
  3. Tuhfatul Ahwazi (penjelasanJami' At-Tirmizy)
  4. Syarah Sunan An-Nasa'i oleh As-Sundi
  5. Syarah Sunan An-Nasa'i oleh As-Suyuthi
  6. Aunul Ma'bud (penjelasan Sunan Abu Daud)
  7. Syarah Sunan Ibnu Majah
  8. Al-Muntaqa syarah Al-Muwaththa'
  9. Ta'liqat Ibnul Qayyim.


Selain dalam bentuk online, juga ada situs Islam yang menyediakan kitab hadits secara soft copy yang bisa didownload secara gratis. Misalnya situs www.saaid.net

Filenya bisa berbentuk doc atau pun pdf. Jumlahnya cukup lumayan, setidaknya ada sekitar 158 judul yang masing-masingnya bisa berjumlah berpuluh jilid tebalnya.

masalahnya cuma satu, situs ini baru berisi bahasa arab, belum ada yang terjemahan. moga-moga aja kedepan ada yang mau menerjemahkan hadits-hadits ini, kan lumayan buat bekal di akhirat nanti.