Pages

Senin, 29 Juni 2009

Mulutmu Harimaumu

Tahu gak kamu hikmah mengapa kita diberi satu mulut dan dua telinga oleh Allah Swt.? Ternyata, kita disuruh lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Tetapi kenyataan sangat jauh dari keinginan kita masih lebih banyak mengunakan mulut kita dibandingkan dengan telinga kita. Dan biasanya nih, yang kita-kita omongin kebanyakan sesuatu yang buruk. Makanya nanti di akhirat sana mulut kita dikunci dan yang menjadi saksi adalah anggota badan kita yang lainnya. Ihh seremmm...



Banyak persahabatan yang putus gara-gara mulut, bahkan ada satu kisah nyata sebuah keluarga yang setiap hari harus bertengkar diakibatkan selalu terjadi perang mulut hingga tak jarang seluruh binatang yang ada di kebun binatang keluar dari mulut antara sesama anggota keluarga yang terkadang terus berlanjut dengan adu jotos serta adu lempar piring (asli kalo melihatnya lebih seru daripada game Commandos lho…).
Mengenai mulut Rasulullah pernah memperingatkan kita untuk menjaga apa yang ada di antara dua bibir dan apa yang berada di antara dua paha, dan bagi siapa saja yang menjamin akan keduanya mendapat ganjaran surga. Yang berada di antara dua bibir yaitu mulut, sedangkan yang berada di antara dua paha yaitu kemaluan kita. Bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh mulut diantaranya yaitu ;

Sssttt… Awas Ada Ghibah dalam Obrolanmu

Siang itu sesudah jam pelajaran di sekolah. Seperti biasa sebelum pulang ke rumah saya dan kawan-kawan asyik berbincang-bincang terlebih dahulu. Ini adalah pekerjaan rutin yang terkadang bisa menghabiskan waktu ber jam-jam. Banyak hal yang menjadi bahan obrolan kami waktu itu. Dari mulai prediksi soal hasil pertandingan sepakbola, tugas sekolah, hingga tentang pribadi seseorang yang memang asyik menjadi perbincangan, terutama mengenai kekurangan orang tersebut. Ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol, seorang teman yang memang dikenal cukup religius menegur, “sssttt… awas tuh ghibah.”

Apa sih yang dimaksud dengan ghibah itu? Ghibah atau yang biasa disebut dengan menggunjing ialah kalo kamu membicarakan saudaramu, teman or siapa saja beserta apa-apa yang ada padanya dan yang tidak ia sukai, dari belakangnya dan didepan umum bukan di depannya langsung, walaupun hal itu benar. Dalam sebuah hadits Abu Hurairah meriwayatkan,

“Rasulullah Saw. bersabda, “Tahukah kalian apa yang dinamakan dengan ghibah?” para sahabat menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah bersabda,”Ghibah adalah kalian menyebut sesutu tentang saudara kalian, yang apabila ia mendengarnya ia sangat membencinya.” Ada seorang bertanya,” Bagaimana jika yang dikatakan itu benar adanya?” Beliau menjawab,”Jika engkau menceritakan apa yang ada padanya, itulah Ghibah. Jika engkau menceritakan apa-apa yang tidak ada padanya, maka itu adalah Buhtaan (Fitnah).” (HR. Muslim).

Nah, menurut Imam Hasan Al Bashri, ghibah itu memiliki tiga kategori. Tiga kategori itu adalah Al Ghibah, Al Ifki, dan Al Buhtaan. Al Ghibah adalah ketika seseorang menceritakan sesuatu yang ada pada orang lain, sementara dia tidak menyukainya. Al Ifki itu, menceritakan suatu berita tentang seseorang, dimana ia tidak pernah memberitakan hal itu sebelumnya kepadamu. Sedangkan Al Buhtaan, adalah menceritakan apa-apa yang tidak ada pada diri seseorang.

Pasti kamu pernah mengalami bagaimana rasanya diomongin oleh temanmu, padahal bisa jadi apa yang jadi omongan temanmu itu jauh dari yang kamu perbuat atau bisa jadi malah kamu yang membicarakan temanmu itu. Ya jangan cemberut gitu dong bos... Sebab, sebagai manusia pasti kita pernah mengalami semua itu baik terkadang sengaja atau tidak.

Banyak hal yang bisa menimbulkan ghibah, bisa karena seseorang iri dengan temannya, adanya persaingan dalam memperebutkan nilai atau suatu posisi penting, atau bisa juga karena tidak suka dengan gaya seseorang. Memang sih kebanyakan bermula dari hal-hal yang sepele.

Padahal Islam sangat melarang perbuatan ghibah mengghibah. Bahkan, dalam sebuah ayat Allah Swt. memberikan persamaan orang yang suka menggunjing dengan orang yang suka memakan daging saudaranya sendiri, ihhhh…. Serem yaa kayak kanibal gitu loh.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat 12)

Oh ya, dalam ayat di atas kalo kamu perhatikan ternyata ada hubungan antara prasangka, ghibah dan mencari kesalahan orang lain. Para ulama telah menjelaskan tentang kemesraan tiga faktor tersebut. Biasanya, kita manusia suka mengartikan apa aja yang kita lihat atau kita dengar dengan berprasangka, terutama apa yang terjadi pada manusia yang lain. Misal, bila teman kamu ada yang sedang berubah mimik mukanya menjadi sedih padahal biasanya ceria. Sebelum kamu bertanya kepadanya apa yang terjadi biasanya akan coba menebak-nebak apa gerangan yang sedang terjadi pada dirinya. Setelah itu kamu membicarakan hal itu kepada teman kamu yang lainnya tanpa sepengetahuannya. Nah, jadilah ini faktor yang kedua yaitu ghibah. Lalu setelah itu kamu dan temanmu mulai mencari-cari kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Begitulah Allah menyatukan ketiga faktor tersebut dalam satu ayat.

Sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu menjaga kehormatan temannya dari mulutnya. Seperti banyak orang bijak bilang, “lidah itu lebih tajam dari pedang”. Berapa banyak coba kalo kamu perhatikan persahabatan yang telah dijalin lama selama bertahun-tahun pecah hanya dalam beberapa menit karena disebabkan oleh kata-kata yang menyakitkan. Kalo dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwa kekecewaan yang diakibatkan oleh perkataan yang tidak mengenakkan itu biasanya berbekas lebih lama bila dibandingkan dengan kekecewaan karena tindakan.

Biasanya, percakapan antar teman yang tidak terkendali dan ngelantur bisa menyebabkan munculnya pergunjingan, fitnah, serta kebohongan-kebohongan. Apalagi kita para remaja biasanya kalo sedang kongkow maka apa saja akan menjadi bahan pembicaraan dari mulai yang serius sampai sampai yang sekedar gosip. Bahkan jika ada orang lewat yang tidak kita kenal sebelumnya pun akan menjadi obyek obrolan kita tersebut jika memang udah kehabisan bahan obrolan. Makanya Rasulullah mengingatkan tatkala obrolan itu telah ngelantur dan tak terkendali, sebaiknya cepat-cepat dialihkan pada dzikir kepada Allah.

Sekedar informasi bahwa saat ini para ahli pendidikan anak menemukan sebuah fakta bahwa apa yang didengar ketika si anak masih bayi biasanya akan ikut mempengaruhi kehidupannya ke depan. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada umatnya bahwa bayi yang baru lahir lebih baik didengarkan adzan terlebih dahulu sebelum didengarkan kalimat-kalimat yang lainnya.

Saat ini disekitar kita banyak sekali media yang melegalkan ghibah atau perilaku menggunjing, baik yang cetak maupun yang elektronik. Lihat aja acara infotainment yang saat ini sangat marak beredar ditelevisi kita. Bagaimana jika kamu lihat dalam acara itu sangat asyik sekali mereka membongkar kehidupan selebritis sampai dalam permasalahan pribadinya sekalipun yang memang notabene tidak ada hubungannya dengan profesi si selebritis tersebut gak lupa dengan embel-embel fakta demi mengungkap kebenaran. Yang saya tidak habis berpikir bagaimana jika si wartawan mengalami masalah serupa, mau gak ya ia diperlakukan seperti para selebritis tersebut?
Tetapi, walau begitu ada juga loh ghibah yang dibolehkan. Dalam bukunya Fikih Bertetangga, DR. Abdurrahman Al- Baghdadi mengutip Imam Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin menjelaskan setidaknya ada enam hal dalam masalah apa saja ghibah itu diperbolehkan, yaitu:

1. Ghibah dalam hal penganiayaan (kezaliman). Bila kita di dzalimi oleh orang lain kita boleh mengadukan hal tersebut kepada orang yang memiliki kekuasaan. Kita boleh mengatakan sesuatu yang dibenci oleh si penganiaya kepada penguasa, misalnya dengan mengatakan, “Si A telah menganiaya saya demikian dan demikian.”

2. Ghibah dalam hal meminta pertolongan kepada orang lain agar ia mau melenyapkan kemungkaran dan memperingatkan dengan keras orang yang berbuat maksiat. Misalnya kamu melihat lokasi perjudian di daerahmu lalu kamu melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang untuk menghilangkan lokasi perjudia tersebut dan menunjukkan para pelakunya.

3. Ghibah dalam meminta saran dan nasehat. Kamu boleh menggibah orang lain untuk memberikan saran dan nasehat, misalnya, kamu mengatakan, “Saya telah diperlakukan begini dan begitu oleh orang tua, saudara dan sahabat saya, lantas bagaimana sebaiknya.” Contoh lainnya adalah ketika kamu meminta fatwa kepada seorang ulama ketika kamu merasa dizhalimi seseorang.

4. Ghibah dalam rangka memberikan nasehat kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan.

5. Ghibah dalam rangka menegur dengan terus terang pelaku kemungkaran, seperti kepada peminum minuman keras, perampok, penipu dan sebagainya. Kamu boleh berterus terang menegur tindakannya yang tidak benar itu.

6. Ghibah dalam rangka memberikan pengertian, atau kejelasan. Misalnya, ada orang yang dikenal dengan sebutan ‘si buta’, ‘si pincang’, ‘si pendek’ dan sebagainya. Contoh ketika kita bertanya tentang seseorang tetapi orang yang ditanya itu tidak tahu dengan orang yang kita tanya tersebut, lalu kita menyebutkan kriteria orang yang dimaksud seperti orang yang berkulit hitam. Tetapi bila penyebutan gelar itu ditujukan untuk menghinakan dan mengejeknya, maka itu diharamkan.

Nah, gimana sekarang kamu sudah tahukan mana ghibah yang boleh dan tidak? Kemudian sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya atau tips apabila kita ingin menghilangkan kebiasaan berghibah ria itu? OK sekarang gini, yang biasanya menjadi bahan ghibah di antara kita itu kan kekurangan ataupun kejelekan yang terpadat pada orang lain. Kalo emang benar gitu berarti caranya pun mudah. Marilah mulai sekarang juga kamu sibukkan dirimu dengan mencari kesalahan atau kekurangan yang ada pada dirimu sendiri, bagus-bagus kalo kamu tidak berhenti hanya sekedar mencari kekurangan dirimu aja tetapi juga dengan niat untuk memperbaikinya sekaligus. Kalo sudah begini kamu tetap gak bisa menghilangkan kebiasaan menggunjingmu, yaa gak ada salahnya kamu bicarakan kekurangan dan kesalahan dirimu sendiri.

Rasulullah saw, telah memberika satu rumus kepada kita agar terhindar dari bahaya mulut ini. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah mengatakan yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Ya, berkata yang atau diam. Gak pantas hanya untuk mencari perhatian kita ngomongin orang kesana kemari or agar dibilang sebagai anak gaul kita asyik aja mengumbar kata-kata tak berguna dari mulur kita.

Selain itu bila kita menggunjing orang lain, maka akan mendatangkan kemurkaan dari Allah Swt. Lalu kebaikanmu akan berpindah ke diri orang yang kamu gunjingkan tersebut. Celakanya bila kamu gak ada kebaikan, maka kejahatan orang yang kamu gunjing akan berpindah kepadamu. Makanya sekarang pikir-pikir deh kalo kamu mau menggunjing terhadap orang lain.

Amalmu akan Hilang karena Mulutmu
Suatu ketika kesabaran Abu Bakar Ash-Shiddiq benar-benar diuji. Bagaimana enggak, seorang yang selama ini kehidupan sehari-harinya selalu ditanggungnya, ikut-ikutan menyebarkan berita bohong seputar isu yang menyebutkan bahwa, Aisyah, putrid kesayangannya dan juga istri Rasulullah saw, berbuat tidak senonoh dengan laki-laki lain.

Akhirnya Abu Bakar mengancam dengan berkata, “Aku tidak akan memberikan kebutuhan hidup Mastha’ lagi!”. Walaupun kemudian Abu Bakar mencabut ancamannya dan memilih untuk memaafkannya. Tetapi, peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa susah untuk tidak mengungkit bantuan yang kita berikan kepada orang lain.
Nah, terkait dengan perilaku sebut-menyebut pemberian ini Allah swt dalam Al-Qur’an berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu sitimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah 264)

Selain itu Rasulullah saw pun bersabda,
“ Ada tiga kelompok manusia yang kelak diakhirat, Allah tidak akan berbicara kepada mereka, Allah tidak akan melihat mereka, Allah tidak akan mengampuni dosa mereka, dan bagi mereka siksaan yang amat pedih.” Rasulullah mengulangi sabdanya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Betapa kecewa dan meruginya mereka. Siapakan mereka itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu, orang yang memanjangkan kainnya (isbal), orang yang suka menyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim)

Makanya, kalo kita-kita beramal baik itu kecil maupun besar diusahakan jangan sampai orang lain tahu akan perbuatan kita, apalagi kalo orang lain itu tahunya dari diri kita sendiri. Sebab, sayang loh kalo amal yang telah kita lakukan ternyata gak berdampak apa-apa.
Rasanya memang berat, untuk tidak dapat menyebut-nyebut segala pemberian yang telah kita berikan. Tetapi seberat apa pun tantangan dan cobaan yang ada harus kita hadapi kalo tidak mau masuk dalam golongan manusia yang nantinya tidak akan ditegur dan disapa oleh Allah Swt.

Jujur dong...
Satu hal lagi yang juga merupakan penyakit mulut atau lisan kita adalah sulitnya untuk berkata jujur. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah Saw. sudah mewanti-wanti umatnya untuk menjaga lisannya dari berkata bohong dan dusta.

“Barangsiapa yang dapat menjamin kepadaku apa yang ada diantara dua janggutnya dan dua kakinya maka aku jamin ia masuk surga.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga Allah menetapkannya sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya dusta itu mengantarkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa itu mengantarkan kepada neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga Allah menetapkannya sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tuh, coba deh kamu simak dan renungkan kedua hadits diatas. Ya, Rasulullah telah menjelaskan bahwa siapa saja yang jujur maka ia akan masuk surga bahkan masuk surganya itu mendapat jaminan yang mutlak dari beliau.
Tidak ada lagi tokoh atau manusia di dunia ini yang berhak kita contoh dan teladani perilakunya selain Muhammad Saw. Beliau sangat terkenal kejujurannya bahkan sebelum ia diangkat menjadi rasul pun kejujurannya telah terkenal seantero kota Mekkah, tidak hanya di kala serius beliau berlaku jujur tetapi juga di kala dalam kondisi yang cair.

Satu kisah bagaimana dalam situasi bercanda, Rasulullah tetap menjaga kejujurannya dapat kita lihat dalam kisah berikut. Suatu ketika Rasulullah dihampiri seorang perempuan tua yang terkenal dengan amal salihnya dan wajar apabila ia mengharapkan surga. Untuk mengetahui hal itu ia bertanya kepada Rasulullah apakah dirinya akan berada di surga. Tetapi apa kata Rasulullah, “Nenek-nenek tidak ada disurga.”
Perempuan tua itu pun menangis menundukkan kepalanya, ia merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Buliran air mata pun mengalir. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama ketika ia melihat wajah Rasulullah yang mengeluarkan senyum. Senyum Rasulullah terlihat mengembang melihat perempuan tua itu. Beliau pun segera menjelaskan bahwa nanti di surga memang tidak ada nenek-nenek. Semua penghuni surga dengan seizin-Nya menjadi muda kembali. Akhirnya tangis nenek itu pun berubah menjadi senyum ceria.
Kisah tersebut menjadi bukti walau dalam kondisi apapun Rasulullah tetap menjaga kejujurannya. Ia tidak akan rela kehilangan kejujurannya walau hanya sedikit waktu dan nanti akan dibetulkannya kembali. Hal ini disebabkan karena kejujuran itu akan mengantarkan manusia masuk surga. Sebagaimana sabdanya,

“Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga Allah menetapkannya sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya dusta itu mengantarkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa itu mengantarkan kepada neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga Allah menetapkannya sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oh ya, jujur itu tidak hanya satu macam saja, makanya keliru besar kalo ada orang yang mengatakan bahwa jujur itu hanya di lisan saja. Tetapi sebenarnya jujur itu ada dalam ucapan, perbuatan dan segenap keadaan. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang jujur adalah orang yang segala urusannya adalah kejujuran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya.”
Kalo begitu, yuk sekarang kita rinci tiga jenis kejujuran yang dimaksudkan oleh Imam Ibnul Qayyim tersebut.
Pertama, Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisannya, dan tidak berbicara kecuali dengan jujur dan benar. Karena Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban atas ucapan lisan, sebagaimana firman-Nya.

“Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. An-Nur: 24)

Makanya sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk berusaha sekuat tenaga dan kemampuan yang ada untuk berusaha menjaga kejujuran dalam lisan ini, walau apapun kondisinya. Yang masuk dalam kategori ini adalah jujur dalam menyampaikan berita dan juga menepati janji yang diucapkan
Kedua, jujur dalam perbuatan. Yang dimaksud dengan ini adalah kesesuaian antara yang terlihat dengan yang tersembunyi. Atau dengan bahasa betawinya “ape yang elu kerjain pas ame yang elu ucapin.” Ini nih biasanya yang agak sulit untuk dikerjakan. Tak jarang banyak orang yang tertipu ama ini perkara. Selayaknyalah kita bercontoh pada Hasan al-Bashri seorang tokoh Tabiin besar (yang dimaksud dengan Tabiin adalah orang yang hidup pada jaman sahabat). Seorang sahabatnya pernah berkata,
“Apabila beliau memerintahkan manusia dengan sesuatu, maka dia adalah orang yang paling giat dalam melaksanakannya. Dan apabila beliau melarang manusia dari sesuatu. Maka dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan aku tidak pernah melihat seseorang yang paling sama antara yang tersembunyi dengan yang tampak melebihi dia.”
Ketiga, jujur dalam segala keadaan. Tingkatan jujur yang satu ini mungkin adalah tingkatan jujur yang tersulit. Yang termasuk ke dalam bagian ini adalah jujur dalam niat yang ikhlas dan dalam rasa takut, dalam bertaubat, pengharapan, zuhud, cinta tawakal, de el el. Pada dasarnya segala amalan hati bermuara dalam kejujuran, sehingga kapan saja seorang hamba jujur dalam seluruh kondisi tersebut, maka dia akan terangkat dan tinggi kedudukannya di sisi Allah Swt.


Minggu, 28 Juni 2009

Optimisme "Yes We Can"

Oleh Sindhunata

Dalam hal politik dan ekonomi, Amerika Serikat adalah negara superpower. Tetapi, dalam hal sepak bola, mereka hanyalah negara berkembang. Maka, adalah sebuah sensasi besar bahwa mereka bisa memaksa kesebelasan Spanyol—salah satu superpower sepak bola—bertekuk lutut.

Memang layak bila kesebelasan Spanyol digelari superpower. Dalam tiga tahun terakhir ini, hanya sekali "La Furia Roja" kalah saat dipecundangi Romania 0-1 pada 16 November 2006. Setelah itu, dalam 35 pertandingan mereka tak pernah lagi kalah. Malah menjelang Piala Konfederasi 2009 ini, 15 kali berturut-turut mereka menang.



Kata penyerang Spanyol, Fernando Torres, "Kemenangan berturut-turut itu bukan hanya karena kami bermain dengan baik, tetapi lebih-lebih karena secara manusiawi kesebelasan kami luar biasa harmonis. Kami saling mengenal satu sama lain sejak kami bermain dalam tim yunior."

Dengan modal kemenangan yang demikian meyakinkan, di tambah spirit kebersamaan yang demikian kental, Spanyol merasa pasti, mereka akan sampai ke final. "Kami akan menulis sejarah," kata Torres menjelang pertandingan melawan AS.

"Kami harus serius menghadapi Amerika walau terus terang kami sudah bermimpi akan bertemu dengan Brasil di final," kata Pelatih Vicente del Bosque.

Ternyata bukan David Villa atau Torres yang membobol gawang Tim Howard. Malah Jozy Altidore dan Clint Dempsey yang rnengobrak-abrik gawang Iker Casillas. "Superpower Spanyol" itu akhirnya tumbang di kaki "negara berkembang Amerika Serikat", dengan 0-2. Tak ada yang mengira, "US boys" bisa menggilas Spanyol.

"'The Yanks' telah menarik kita kembali ke bumi," begitu tulis koran sport Spanyol, La Marca.

Pemain dan publik Amerika sendiri juga terheran-heran atas kemenangan itu. "Lebih daripada Anda, saya juga tidak dapat berkata apa-apa tentang kemenangan ini," kata kiper Tim Howard. "Miracle on grass (Keajaiban di atas rumput)", demikian The New York Times mengomentari kemenangan itu.

Kata-kata itu jelas mengasosiasikan pada legenda Miracle on Ice (keajaiban di atas es), penggambaran yang dipakai untuk memuja tim hoki es amatir AS yang berhasil menggulingkan raksasa hoki es Uni Soviet dalam Olimpiade Musim Dingin tahun 1980.

Euforia kehebatan Amerika tiba-tiba bangkit lagi. Kata kolumnis olahraga Jamie Trecke, "Inilah kemenangan yang membuat fans Amerika gembira luar biasa. Kami menang melawan tim besar, dalam pertandingan besar, dan di tanah asing pula. Inilah kemenangan besar dalam sejarah sepak bola Amerika. Inilah kali pertama Amerika menundukkan tim nomor satu dunia sejak kami mengalahkan Brasil dalam Gold Cup tahun 1998. Malam itu pahlawan kami adalah kiper Kasey Keller. Ia menahan tembakan pasukan Brasil sampai 35 kali."

Memang kemenangan AS atas Spanyol bisa dibilang suatu keajaiban. Namun, seperti diakui Pelatih Jerman Joachim Loew, kemenangan itu juga disebabkan mereka mempunyai organisasi permainan yang amat rapi dan efektif. Dan selain itu, kata Loew, "Mereka mempunyai semangat juang yang gigih." Dan khas bagi orang Amerika, di balik semangat juang itu adalah rasa optimis yang luar biasa.

Rasa optimis itu hidup dalam segala bidang. Tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam politik. Dengan optimisme itulah mereka yakin bisa mengubah dirinya, negaranya, dan bahkan dunia semesta. Dalam hal ini, ingatlah kata-kata Presiden Barack Obama, "Yes we can", yang diucapkannya dalam kampanye-kampanye menjelang ia terpilih sebagai presiden.

"Kami dapat menyelamatkan negara ini. Kami dapat menggapai masa depan kami. Jatuh atau bangun, kami akan terus mencintai negeri kami. Kami akan terus berharap sejauh kami masih bernapas. Terhadap mereka yang sinis, ragu, dan takut, marilah kita katakan, spirit dari rakyat Amerika terangkum dalam tiga kata ini, yes we can," kata Obama menjelang ia mendekati Gedung Putih.

Kata-kata Obama itu diucapkan ketika AS sedang dilanda krisis. Seperti diakuinya sendiri, kata-katanya itu banyak diinspirasikan oleh Thomas Paine (1737-1809), pemikir liberal Amerika, yang tahun ini merayakan ulang tahunnya ke-200. Tahun 1776, Paine menulis karya The American Crisis. Menjelang kemerdekaannya, rakyat Amerika kehilangan segala-galanya Belum lagi, mereka terbenam dalam musim dingin berkepanjangan. Mereka tak mempunyai apa-apa lagi, kecuali harapan dan kesungguhan. Harapan dan kesungguhan, itulah kata-kata Paine yang diingat oleh hampir setiap orang Amerika.

Dengan kata-kata ini, George Washington pernah menyemangati tentara Amerika, sampai mereka memperoleh kemenangan yang berarti di New Jersey, Natal 1776, ketika mereka harus berjuang mempertahankan kemerdekaan negaranya. Dengan kata-kata itu pula, Obama menggugah semangat rakyat AS untuk memulai zaman baru setelah mereka terpuruk di bawah pemerintahan Presiden Bush.

Optimisme yang lahir dari harapan dan kesungguhan itu bangkit setiap kali Amerika terpuruk. Kiranya, optimisme itu pula yang mewarnai kesebelasan AS kali mi. Tak heran, setelah dikepruk Italia, 3-1, dan dihajar Brasil, 3-0, Amerika bangkit dengan memukul Mesir, 3-0, dan menjungkirkan Spanyol, 2-0.

Anak-anak asuhan Bob Bradley ini sadar, dalam hal bola, mereka hanyalah "negara berkembang" di depan superpower Brasil, yang akan mereka hadapi di final Senin dini hari WIB. Namun, the miracle on grass bisa saja terjadi, apalagi bila anak-anak Amerika sedang dilanda optimisme yang lahir dari spirit khas mereka, yakni harapan dan kesungguhan.

Warung Bu Arif

Dulu, di depan rumah saya ada sebuah warung. warung itu lebih dikenal dengan nama warung Bu Arif, karena memang yang punya tuh namanya bu Arif. warung ini menjual hampir segala kebutuhan pokok sehari-hari: dari mulai beras, gula, minyak tanah, minyak goreng, sapu, dll. pokoknya warung bu Arif tuh komplet.



Di warung bu Arif itu enak belanjanya. suasananya sangat kekeluargaan. kita bisa ngobrol2 disana walau hanya membeli sebuah minuman botol. kita juga bisa menjadikan warung bu Arif sebagai tempat untuk janjian walau gak beli apa-apa. yang hebatnya di warung bu Arif tuh belanjanya gak harus cash, disini juga berlaku 'tempo' atau bahasa kerennya tuh ngutang,dan pembayarannya tuh gak kena bunga, walau banyak yang bayar terlambat dari yang dijanjikan. jadi kita gak terkena sistem riba. prinsipnya tuh sama-sama ikhlas. Disini juga walau barang2nya sudah ada harganya, terkadang juga bisa didiscount tanpa harus menaikkan harganya terlebih dahulu.

Tapi sekarang warung bu Arif tuh sudah nggak ada. semenjak adanya warung waralaba dari ritel terkenal hadir di daerah saya. awalnya sih bu Arif gak masalah. tapi lama-kelamaan warung bu Aris tuh gak kuat bersaingnya. Lagian waktu itu banyak juag pelanggan bu Arif yang memindahkan tujuan belanjanya. padahal barang yang dijual hampir sama, memang soal harga warung ritel itu lebih murah. tapi saya merindukan kehadiran warung bu Arif karena disana kita tidak hanya sekedar belanja, tetapi kita bisa menjalin silaturahim.

(Selamatkan pasar dan warung Tradisional)

Senin, 22 Juni 2009

Budaya Membaca Peta

Oleh Irfan AmaLee (CEO Pelangi Mizan)

Sebuah unjuk rasa terjadi di sebuah desa bernama Broughton. Warga desa di bagian selatan Inggris ini memblokade jalan menghalangi mobil Google yang siap memotret semua sudut desa yang nantinya akan di-upload ke web untuk layanan terbaru ”Google Street View”. Mereka tak rela orang sedunia melihat semua sudut desa, lorong-lorong, hingga pekarangan bahkan pintu rumah mereka. "Kami khawatir pencuri akan memanfaatkan layanan Google ini untuk merencanaan niat jahat mereka," begitu keberatan salah satu warga.



Puja-puji dan kontroversi terus bermunculan mengiringi diluncurkannya layanan baru ”Google Street View”. Sebelumnya, melalui layanan ”Google Earth”, kita bisa mencari suatu lokasi dalam peta yang merupakan potret dari arah langit. Kini, melalui ”Google Street View”, kita dapat melihat setiap lorong jalan, perempatan, tikungan, bahkan pintu rumah dengan sudut pandang seperti menggunakan mata kamera. Tak berhenti di situ. Kita pun dapat memutar kamera 360 derajat, nengok kanan-kiri, atas-bawah, mirip game-lah. Untuk membangun layanan ini, dengan sebuah mobil yang dilengkapi kamera, Google menelusuri kota, lorong, dan mengambil jutaan gambar sepanjang jalan yang dilalui.

Kontroversi bermunculan karena sepanjang proses pemotretan itu, banyak objek yang secara tak sengaja tertangkap kamera. Salah satu koran di London memberitakan ada seorang politisi sedang memukul seseorang di luar sebuah bar tertangkap kamera Google. Bahkan Liam Gallagher, vokalis band kesohor Oasis, ditengarai tertangkap kamera di suatu sudut kota, meskipun belakangan berita itu disangkal Gallagher. Diberitakan juga seorang istri bercerai dengan suaminya setelah melihat (melalui layanan ”Google Street View”) mobil suaminya terparkir di depan rumah teman perempuannya. Warga desa Broughton keberatan karena mereka menganggap layanan ini tidak etis. Google telah mempublikasikan ruang-ruang privat mereka ke mata dunia.
Peta, bagi warga kota-kota besar di negara maju, adalah sebuah kebutuhan pokok. Di toko buku, ratusan jenis peta tersedia. Mau peta apa? Peta negara hingga peta khusus untuk backpacker tersedia.

Peta sebagai Kebutuhan Utama
Google pasti sudah memperhitungakan nilai bisnis layanan baru ini. Hukum pasar menyatakan bahwa sebuah produk diciptakan karena pihak produsen percaya pasar membutuhkannya. Peta, bagi warga kota-kota besar di negara maju, adalah sebuah kebutuhan pokok. Di toko buku, ratusan jenis peta tersedia. Mau peta apa? Peta negara hingga peta khusus untuk backpacker tersedia. Mungkin kita pernah mendengar Lonely Planet, sebuah peta yang menjadi salah satu kiblat para backpaker untuk menemukan tempat wisata yang asyik, hotel dengan tarif miring, dan info perjalanan lain.

Peta, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kota di negara-negara maju. Saya baru betul-betul merasakan ini ketika selama dua minggu harus menjelajahi kota London untuk sebuah Industry Tour. Pihak panitia, The British Council, memberikan jadwal tiga pertemuan dalam sehari dengan meeting point di tiga titik berbeda dan saling berjauhan. Saya menyangka bahwa akan ada seorang pemandu dengan sebuah mobil yang mengantar-jemput kami. Ternyata mereka hanya memberi selembar alamat yang dilengkapi dengan peta.

Seorang teman dari Meksiko, ketika mendarat, langsung membeli buku setebal kamus besar, peta lengkap kota London edisi terbaru. Teman lain dari Slovenia selalu berjalan sambil menunduk memperhatikan peta ”Google Earth” di layar iPhone-nya yang menyediakan fitur GPS. Di hotel, puluhan peta tersedia, ada peta khusus wisata kuliner, peta bertema museum, serta puluhan peta dengan berbagai tema berbeda. Jika kita bertanya tentang sebuah alamat pada resepsionis hotel, maka dia akan segera membuka peta digital, dan mengetikkan nama tempat yang kita tuju. Setelah itu, dia pun akan segera menunjukkan titik tujuan kita, juga di atas peta. Di stasiun kereta bawah tanah, juga di halte bis, terpampang peta raksasa dengan sistem warna yang begitu mudah dimengerti, bahkan orang dungu sekalipun tak akan tersesat.

Sebelum menuju suatu tempat, setiap orang merencanakan perjalananya, menganalisis jalurnya, dan memastikan berapa waktu tempuhnya. Tiga pertemuan satu hari, yang mustahil dicapai di Jakarta, ternyata di sana dapat dicapai dengan waktu yang nyaris presisi. Di mobil pribadi selalu terselip peta tebal mirip Yellow Pages. Ketika mereka tersesat, daripada membuka kaca untuk bertanya, mereka lebih memilih membuka lembaran-lembaran peta. Itulah tradisi membaca peta, tradisi menganalisis, serta merencanakan. Karena itu, peta menjadi teman siapa pun yang akan menjelajah. Tak aneh jika Google berani berinvestasi untuk produk peta tiga dimensinya.
Kita tumbuh bukan dalam budaya membaca peta. Kita tumbuh dalam budaya tegur sapa, ngobrol, bicara (dan akhir-akhir ini budaya SMS dan ngerumpi di Facebook). Tak ada peta di mobil kita, tak ada peta di rumah kita.

Membaca Peta atau Bertegur Sapa?
Kita di sini, sepertinya punya tradisi yang berbeda. Kita tumbuh bukan dalam budaya membaca peta. Kita tumbuh dalam budaya tegur sapa, ngobrol, bicara (dan akhir-akhir ini budaya SMS dan ngerumpi di Facebook). Tak ada peta di mobil kita, tak ada peta di rumah kita. Memang kita sepertinya tak butuh itu. Toh kalau kita tersesat ada ribuan orang yang berseliweran di jalan yang siap meluangkan waktu untuk kita tanya. Jika kita tanya, dengan gaya yang khas mereka biasanya menjawab, "Lurus saja, nanti belok kanan, belok kiri. Di situ ada tikungan, mentok, ada poskamling, nah di sebelah gapura, nanti di sana nanya lagi aja." Bahkan kalau di daerah pedesaan, jawaban akan lebih tidak measurable. "… Oh lurus saja sudah dekat kok, paling tinggal sebatang rokok lagi"—maksudnya, jarak itu bisa ditempuh dalam waktu sebanding dengan durasi sebatang rokok jika kita isap sampai habis.

Itu baru skala mikro, yaitu dari sudut pandang kita sebagai masyarakat pelaku dan pengguna jalan. Di skala makro, kebijakan misalnya, sebuah kota tak pernah benar-benar direncanakan agar mudah ditelusuri. Hari ini sebuah jalan dua arah, besok bisa tiba-tiba diubah menjadi searah. Belum lagi jalan-jalan tikus yang menjadi favorit pengguna jalan yang tak pernah masuk perencanaan tata kota. Di Cicadas Bandung, kita mengenal istilah “gang seribu punten” (punten artinya permisi) karena begitu banyak orang nongkrong di gang itu. Kita harus mengucapkan punten setiap melewati mereka, jika kita ingin selamat sampai tujuan. Mungkin dulu para insinyur perancang kota kita sangat paham sosiologi masyarakat kita dan berpikir, "Kita tak usah merancang kota begitu teratur dan terukur, toh nanti masyarakat kalau nyasar bisa nanya sana nanya sini." Atau mungkin mereka berargumen mengutip pendapat beberapa sosiolog yang mengkhawatirkan kondisi sosial masyarakat kota di Jerman. Karena saking teratur dan jelasnya semua petunjuk kota, tak ada lagi orang yang perlu bertegur sapa di jalan. Kota-kota di Jerman jadi kaku dan dingin. Apa pun alasannya, yang jelas kita memang tak suka membaca peta, dan payah dalam menganalisis dan merencanakan.
Dengan bermodalkan sebuah peta, ratusan tahun lalu, bangsa Eropa menaklukkan Asia, Amerika, dan menemukan Australia, lalu mendudukinya. Mereka rajin membaca, membaca peta, merencanakan, dan memperhitungkan.

Saya menduga itulah sebabnya mengapa bangsa Eropa berhasil menguasai hampir semua benua. Dengan bermodalkan sebuah peta, ratusan tahun lalu, mereka menaklukkan Asia, Amerika, dan menemukan Australia, lalu mendudukinya. Mereka rajin membaca, membaca peta, merencanakan, dan memperhitungkan. Padahal, kalau kita menelisik lagi sejarah, kita akan menemukan bahwa tradisi peta dipelopori oleh Al-Khwarizmi yang merancang peta modern generasi pertama pada 851 M. Lalu peta itu dikembangkan oleh Yunis Al-Mishri (951), Ash-Shafaqi, Al-Istakhiri, dan disempurnakan Al-Biruni pada 1048. Dan puncaknya adalah pembuatan globe pertama di dunia yang terbuat dari perak seberat 400 kilogram oleh Al-Idrisi pada 1166, yang bekerja sama dengan Raja Roger II, Raja Norman dari Sisilia.

Membaca peta adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi membaca, berpikir, menganalisis, dan men-digest sebuah informasi. Buta-baca-peta akan menyebabkan “greget” dari sebuah informasi gagal tersampaikan. Saya bisa memberi sedikit ilustrasi. Ketika belajar sejarah Islam (tarikh al-islam) di pesantren, saya diajarkan bahwa Rasul hijrah dari Makkah ke Madinah, titik. Tak ada penjelasan tentang bagaimana dan sejauh apa perjalanan hijrah Rasul. Informasi tadi hanya membuat saya menganggap perjalanan hijrah itu biasa saja, seperti kita pergi dari Bandung-Jakarta zaman sekarang, tak ada yang istimewa. Padahal kalau informasi itu disampaikan dengan alat bantu peta, kita akan melihat jarak Makkah-Madinah sebanding dengan jarak Bandung-Surabaya. Dan perlu diingat, Rasul menempuh jarak Bandung-Surabaya itu dengan hanya menunggang unta, bukan kereta api Argowilis! Dengan memberi sedikit perspektif geografis, asosiasi, imajinasi, maka kita bisa men-digest informasi itu lebih “greget”, bahwa perjalanan hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tapi perjuangan, kesungguhan, dan pengorbanan.

Karena itu saya mengoleksi beberapa globe. Globe membuat saya punya kesadaran geografis. Ketika mudik lebaran dari Bandung ke Majalengka, sebelum berangkat saya membuat peta sederhana dengan putri saya yang berusia 6 tahun. Lalu putri saya akan membuat sebuah titik dan menuliskan setiap nama kota yang dilalui. Hal ini saya lakukan setelah mengetahui sebuah cerita menakjubkan tentang etos para ilmuwan Belanda. Ketika saya membuat film tentang Danau Purba Bandung, saya membaca bahwa para peneliti Belanda melakukan perjalanan melintasi Bandung dengan tangan kiri menggambar sketsa, dan tangan kanan membuat catatan perjalanan. Kapan kita punya tradisi seperti itu?[]

tulisan ini diambil dari www.mizan.com

Minggu, 21 Juni 2009

Jadwal manggung band di PRJ 09

Bagi yang mau tahu band apa aja yang manggung di PRJ 09 dan hari apa aja, berikut jadwalnya.




Sabtu, 20 Juni 2009

Bakat? Ah itu Kita Punya Kok

Terkadang sebelum memulai sesuatu kita selalu mempunyai musuh yang namanya bakat. Yah, makhluk yang satu ini selalu saja menjadi momok disaat kita ingin memulai sesutau yang baru. Contoh ada seorang teman yang ingin bermain sepakbola tetapi ia selalu takut gak bisa dan berkelit dengan kata bahwa dia itu tidak punya bakat untuk bermain sepakbola. Ah kalo begini kapan majunya kita.


Saya agak tidak percaya dengan yang satu ini. Sebagai contoh walau sampai saat ini saya belum dapat berenang itu saya yakin bukan karena saya gak punya bakat berenang. Tetapi, lebih disebabkan karena saya malas belajar dan ketika kecil jarang mandi hujan kali ya..(emang ada hubungannya?) Lalu ada teman yang nyeletuk bagaimana dengan menyanyi bukankah tidak semua orang memiliki suara yang bagus? Tenang dulu jangan esmosi gitu dong. Nih saya ceritain sebuah fakta. Dulu sewaktu saya maih kursus Drum di salah satu sekolah musik di kota saya. Banyak juga yang kursus menyanyi dan pada awalnya suara mereka itu standar aja (kalo gak dikatakan jelek) tetapi dua sampai tiga bulan setelahnya. Mereka telah menemukan bentuk suara yang bagus loh. kalo gitu gak harus bakatkan tetapi belajar ok.

Tetapi baiklah bagi kamu yang tetap beranggapan dan bersikeras bahwa untuk berbisnis itu tetap dibutuhkan bakat. Ternyata menurut pak Khoerussalim Ikhs. Setiap manusia itu sudah berbakat loh menjadi pengusaha. Bahkan menurutnya lagi hal itu terjadi sejak kita masih rahim. Kok bosa ya? Sekarang kita dengar penjelasannya yang saya kutip dari bukunya To Be The Moslem Entrepreneur.

Pak Khoerussalim mengatakan bahwa sebelum menjadi manusia kita adalah sperma. Dimana disitu terjadi pertarungan jutaan sperma untuk memperebutkan ovum (sel pembuahan kandungan wanita) dan hanya satu yang berhasil menjadi kita-kita seperti sekarang ini. Dari analogi ini beliau mengatakan bahwa kita telah dibekali oleh Allah self confidance yang luar biasa hebatnya, terbukti mampu mengalahkan pesaing yang sangat luar biasa banyaknya.

Kemudian beliau melanjutkan. Apakah kita tidak mengambil hikmah dari kejadian awal kehidupan seorang manusia, termasuk kita, sehingga kita akhirnya menjadi manusia yang lupa atas fitrah kita, yang sesungguhnya itu merupakan modal kemandirian kita? Jiwa yang optimistik, penuh rasa percaya diri, kemampuan untuk mandiri, daya kreasi yang bebas dan kreatif, selalu ingin jadi juara, kemampuan berkompetisi, dll. Faktor- faktor fitrah manusia seperti itu sesungguhnya merupakan modal dasar setiap manusia untuk menjadi pengusaha. Sebab pengusaha memang harus memiliki kemampuan dasar seperti itu.

Tuh kan ternyata kita memang sudah memiliki bakat sebagai pengusaha. Jadi jangan ragu lagi, untuk memulai jalan hidup yang satu ini. Makanya jangan sampai deh kita kalah dan menyerah dengan alasan bahwa kita gak punya bakat. Karena sekali lagi bakat itu bisa dihadirkan dengan belajar dan bersungguh-sungguh. Karena memang Ronaldo, Gerard, Beckham awalnya juga gak bisa bermain bola kok. Tetapi, karena ketekunan meraka dalam belajar dan mempunyai kekuatan tekad yang besar akhirnya mereka bisa menjadi pesepakbola terkenal dan hebat.

Sekarang pertanyaannya adalah gimana cara belajar untuk menjadi seorang pebisnis? Nah disinilah yang uniknya profesi yang satu ini. Bila untuk menjadi seorang dokter ada fakultas kedokteran. Lalu ingin jadi hakim ada fakultas hukum bahkan bagi yang ingin menjadi pengamat politik aja ada pendidikannya di FISIP. Tetapi kayaknya gak ada yah yang namanya sekolah untuk menjadi pengusaha.

Memang untuk menjadi seorang pebisnis atau pengusaha itu kita harus terjun dulu baru kemudian belajar. Karena ketika bergelut di dunia inilah kita selain sebagai aktor juga sebagai pembelajar. Itulah yang saya alami ketika pertama kali saya mencoba untuk berdagang buku. Awalnya saya gelap dengan seluk beluk bisnis ini. Saya gak tahu apa yang namanya istilah konsinyasi, diskon brutto, Return dan lain sebagainya. Tetapi ketika saya telah memasuki bisnis ini saya mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang bisnis ini.

Satu contoh lagi. Kamu pernah memperhatikan ada seorang pedagang Mie ayam, Bakso, atau Soto mie yang memakai gerobak satu tetapi pedagangnya dua? Kalo kamu pernah memperhatikan pasti terlihat anehkan kok pedagang itu memakai asisten. Saya awalnya juga punya perasaan seperti kamu juga. Tetapi ketika saya tanya ternyata abang yang satu lagi yang gak ngapa-ngapain itu ternyat sedang belajar pada rekannya. Dia belajar dari mulai menentukan rute dagang, cara menyajikan dagangan sampai cara menghadapi pelanggan. Dan yang hebatnya mereka hanya belajar satu hari penuh sedang besoknya langsung dilepas sendirian.

Makanya kalo kamu mau belajar berbisnis. Tentukan dari sekarang apa yang akan kamu jadikan obyek bisnis kamu lalu mulailah belajar sambil berjalan. Ok. Dan sekali lagi ternyata soal bakat kita telah punya kok.

Jadi gak usah takut. Bakat itu hanya perlu lagi diolah dengan yang namanya latihan. Ambil contoh ada seseorang yang berbakat menulis. Dan ia terus mengasah bakatnya itu dengan berlatih menulis sebanyak 5-6 jam perhari. Apa saja yang terlintas diotaknya saat itu ia tulis, gak perduli mau bagus atau tidak tulisannya. Namanya juga latihan. Maka ia akan menjadi seorang penulis besar dikemudian hari.

Curhat Obama

Belakngan ini saya sangat risih ketika nama saya sering sekali disebut di tengah invasi Israel ke Palestina. banyak yang bertanya kenpa saya diam aja atau kok nggak komentar bung Obama yang katanya ingin menawarkan perubahan.


nah, dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan tetntang sikap diam yang saya ambil tersebut, setidaknya ada bebarap alasan;

yang pertama, sebagaimana anda ketahui semua saat ini saya sedang sibuk menyiapkan acara pelantikan saya. ingat, pelantikan saya ini mengundang banyak sekali orang dan pastinya juga menjadi perhatian dunia, jadi saya harus detail dalam persiapan agar acara ini berlangsung normal tanpa kekacauan dan pastinya anda semua terpuaskan.

Yang kedua, mengapa saya diam? ya, karena saya nggak ada sangkut pautnya dengan konflik tersebut. secara konflik tersebut jauh dari wilayah saya, dan tidak mengancam kepentingan dalam negeri saya. bahkan dengan perang ini saya sedikit diuntungkan, karena peralatan perang yang negara saya produksi bisa laku dan dibeli Israel. coz sayangkan kalo alat itu hanya menjadi cadangan.

Yang ketiga, ini yang membuat saya bingung, terutama terhdap sikap para pemimpin negara-negara muslim. mengapa anda sangat bergantung terhadap saya? dalam pandangan saya, Islam itu agama yang hebat. Islam memiliki konsep persaudaraan yang disebut ukhuwah, nah tunjukkan dong ukhuwah anda, jangan anda hanya bisa teriak-teriak kepada saya. sedangkan anda tahu bahwa negara saya itu adalah pendukung aktif Israel, maka gak logis kan kalo saya mendukung gerakan yang memusuhi Israel. anda juga tahu bahwa negara saya selalu menggunakan hak veto untuk menggugurkan resolusi yang dialamatkan kepada Israel, lalu mengapa anda selalu berharap pada PBB. sungguh, dalam hati saya tertawa melihat apa yang anda lakukan. anda mengaku bahwa warga Palestina adalah saudara anda, lalu mengapa sebagai seorang saudara anda tidak melakukan perbuatan yang aktif untuk menolong mereka. mengapa anda selalu mendorong negara saya untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin.

jadi kira-kira begitulah alasa yang membuat saya memilih bungkan saja sambil memperhatikan berita di televisi dan juga mengontrol persiapan launcing saya.. jadi......ah cukup aja deh....

Hehehehe......

Rabu, 10 Juni 2009

Islam dan Demokrasi

Masalah anatar Islam dan demokrasi adalah masalah lama yang telah menjadi bahan penelitian para ilmuwan di Barat. Huntingthon pernah menulis buku tentang gelombang demokrasi di negara ketiga. Dalam bukunya tersebut Huntingthon menulis bahwa salah satu hambatan dari perkembangan demokrasi datang dari dunia Islam.
Tetapi benarkah apa yang ditesiskan oleh Huntingthon? Sebelum menjawab hal itu mari kita lihat fakta-fakta berikut.




Aljazair, awal tahun 1990-an
Chaldi Benjedid, Preseiden Aljazair pada waktu itu melakukan reformasi politik dan membuka peluang bagi rakyat Aljazair untuk mendirikan partai-partai politik. Melihat peluang ini para aktivis Islam disana segera merespon dengan positif. Maka didirikanlah sebuah partai Islam yang bernama Front Islamique du salut atau yang biasa disingkat dengan FIS.

FIS didirikan oleh duet Abbasi Madani dan Ali Belhadj. Madani seorang doctor sosiologi lulusan sebuah universitas di Inggris sedang Ali Belhadj ialah seorang ulama. Dengan duet ini FIS begitu menjanjikan di mata masyrakat Aljazair terutama mereka yang berada di lapisan bawah. Seblum menjadi partai politik para aktivis Islam ini melakukan gerakan bawah tanah melalui masji ke masjid dan rumah ke rumah.
Walau di awalnya para aktivis FIS ragu-ragu untuk membuat sebuah partai politik. Tetapi akhirnya mereka sepakat untuk menempuh jalur yang legal dan konstitusional. Sebab keraguan itu memang wajar. Karena sebelumnya di Aljazair politik hanya dijadikan sebauah pertarungan para elit politik untuk merebut kekuasaan dan memperkaya diri sendiri.

Tetapi keraguan itu sirna dan termentahkan, ketika pemilu lokal di gelar FIS mendapat sebuah kejutan yang menggembirakan. Tak disangka masyrakat yang memilih partai tersebut begitu melimpah bahkan dari 1500 daerah pemilihan pada pemilu local ini FIS berhasil memenangi di 825 daerah pemilihan. Sebuah rekor yang fantastis untuk sebuah kekuatan baru.

Kemenangan itu tidak berhenti sampai disana ketika pemilu nasional putaran pertama digelar, 26 Desember 1991, FIS kembali unggul dengan 48 % suara. Perolehan ini mengalahkan partai yang sejak Aljazair merdeka selalu menjadi pemenang, Front Penyelamtan Nasional (FLN). Dimata masyarakat FLN telah dianggap gagal dengan konsep sosialismenya yang hanya bagus ditataran teori saja.

Tetapi kemengan yang diproleh oleh FIS melalui jalur yang legal dan konstitusional melalui pemilu yang berlangsung demokratis dan bersih ini bukan mendapat sambutan yang hangat dari para Negara barat malh sebaliknya mereka khawatir dengan kemenangan ini. Negara Barat dalam hal ini masih trauma dengan revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979. sebab dimata Barat FIS dianggap sebagai partai Islam yang fundamentalis.
Akhirnya karena tidak tahan mendapat tekanan dari Negara barat yang menginginkan pembatalan pemilu maka presiden Benjedid pun mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Dewan Konstitusi, tetapi kemudian pihak militer mengambil alih kekuasaan (kudeta). Lalu keluarlah keputusan yang kontrovrsial, pembatla hasi pemilu dan penundaan pemilu putaran kedua untuk menjegal kemenganan FIS.

Mendengar keputusan ini para aktivis FIS pun menggelar unjuk rasa besar-besaran, bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparata keamanan pun tudak dapat dihindari. Dengan kondisi ini rezim yang berkuasa mulai menangkapi para aktivis dan pimpinan FIS.

Palestina, awal 2006
Seperti telah diduga sebelumnya akhirnya gerakan Islam HAMAS, Palestina. Berhasil memenangi pemilu yang digelar di Negara tersebut. Walau kemengan ini telah diduda sebelumnya, tetapi perolehan kursinya sangat mencengankan para analis politik dan dunia internasional. Dari 134 kursi yang diperebutkan HAMAS berhsil memperolah sebanyak 74 kursi jauh meninggalkan pesaianh terbratnya FATAH yang hanya memperoleh 45 kursi.

Mungkin inilah kado spesial didunia politik yang diberikan oleh bangsa Palestina kepada dunia. Dunia pun terhenyak oleh fenomena ini. Walau sekali lagi hal ini telah banyak diprediksikan sebelumnya oleh para pengamat namun lagi-lagi hasil yang terjadi mampun menyentakkan hati dan membelalakkan mata.

Kemenangan HAMAS dalam pemilu Palestina ini, bisa dibilang merupakan sebuah awal baru dalam sejarah perjuangan gerakan Islam tersebut. Sebelumnya HAMAS dikenal tidak hanya melalui gerkan bersenjatanya tetapi juga sejumlah aktivitas social dan pendidikan yang diberikan secara langsung kepada masyrakat Palestina secara langsung dan tanpa pamrih. Selain itu para pemimpinnya juga dikenal akan kejujurannya dan dekat dengan masyarakat bawah.

Tetapi pertanyaannya, akankah kemenangan yang diperoleh melalui jalur legal dan konstitusional ini akan dibiarkan saja oleh mereka yang memang mengalami Islamophobia? Memang masih terlalu awal untuk mencapai pada kesimpulan kesana tetapi bila melihat dari perkembangan yang terjadi belakangan ini. Arah-arah kesana mulai kelihatan.

Sebelum pemilu dimulai Amerika Serikat ditengarai membantu keunagan FATAH yang akan digunakan sebagai dana kampanya dan pembuatan iklan yang bertujuan untuk menjatuhkan citra HAMAS di mata masyarakat Palestina.

Kemudian yang terparah dan yang dianggap oleh banyak pengamat akan menghambat pemerintahan HAMAS ialah ketika Israel dan Amerika sepakat untuk menghentikan bantuan ekonomi kepada otoritas Palestina. Sebagaimana diketahui Israel setia tahunnya harus memberikan bea cukai kepada pemerintah Palestina.

Sedang pihak Uni Eropa juga memberika ancaman serupa, menarik bantuan yang dialirkannya kepada palestina pasca pemilu. Kecuali jika Palestina mampu memenuhi berbagai syarat berikut. Pertama, harus menghapus sayap militer mereka dan menghentikan perjuangan bersenjata. Kedua, mereka harus membatalkan program menghancurkan Israel dan mengakuinya sebgai negara yang sah.

Fakta diatas menunjukkan kepada kita bahwasanya Islam itu tidak anti dengan demokrasi. Walau memang demokrsi itu tidak semuanya cocok dengan Islam, terutama jargonnya yang berbunyi “Vox Populi Vox Dei” yang berarti suara rakyat itu suara tuhan. Karena logikanya apa yang dimaui rakyat banyak itu sejalur dengan yang dimaui tuhan. Jadi kalo rakyat setuju dengan prostitusi dan pornografi maka tuhan juga setuju dengan itu. Nah, inilah yang jelas-jelas kita tolak dari apa yang dinamakan dengan demokrasi.

Namun, dari kedua contoh diatas kita bisa lihat bahwa apa yang menghalangi jalannya demokrasi justru datang dari negara yang mengaku sebagai pemegang demokrasi modern. Lihat saja bagaimana pemerintahan Hamas di Palestina yang langsung diboikot padahal mereka menang dengan cara yang legal dan konstitusional.

Hamas yang jelas-jelas menang tanpa rekayasa, melalui pemilu yang dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai pemilu yang bersih. Tetapi, mereka tidak mau mengakuinya sebagai pemenang pemilu. Bahkan, tanpa rasa malu sedikitpun negara-negara barat itu rame-rame mengkeroyok Hamas agar mau menyerahkan kuasanya.

Tetapi ada pertanyaan dari seorang teman, kan gak semuanya seperti itu buktinya pemilu di Indonesia saja gak diobok-obok oleh mereka? Memang sih pemilu di Indonesia, Afghanistan dan Irak tidak diobok-obok oleh mereka. Tetapi mata kita pasti jelas melihat bahwa pemilu di Irak dan Afganhistan itu ada sedikit rekayasa. Lalu dengan pemilu di Indonesia? Saya agak susah membayangkan bagaimana seandainya pemenang pemilu di Indonesia itu sebuah partai Islam dan mereka mencalonkan Abu Bakar Ba’asyir sebagai presidennya. Pastinya kapal-kapal induk mereka akan dengan cepat merapat di nusantara.


Memahami Lawan

Sejumlah pengamat sepakbola di negeri ini benar-benar dibuat heran dan terkejut dengan langkah yang dilakukan oleh PSSI. Sebab, PSSI mengirimkan tim nasional sepakbola usia 23 tahun kita untuk berlati ke Belanda.


Bukan rencana latihannya yang membuat bingung para pengamat itu. Sebab, kita sepakat latihan itu sangat penting sebelum kita bertanding. Namun, yang membuat mereka bingung mengapa tujuan latihan tim nasional kita ke Belanda. Inilah yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak tepat sasaran.
Sebagaimana yang kita tahu Belanda adalah negara Eropa. Sedangkan medan sesungguhnya yang akan dihadapi nanti ialah Asian Games 2006 yang akan berlangsung di Qatar. Dan sudah pasti negara yang akan menjadi lawannya adalah negara-negara Asia.
Pastinya kultur sepakbola antara Eropa dan Asia sangat bertolak belakang. Baik itu teknik, gaya bermain, skill dan lain sebagainya. Selain itu unsur geografis yang berbeda antara Eropa yang dingin dengan Timur Tengah yang panas. Pastinya, akan menimbulkan suatu masalah sendiri nantinya.
Dan apa yang dikhawatirkan itu ternyata menjadi kenyataan. Ketika tim nasional sepakbola kita harus menerima hasil yan buruk. Disana gawang mereka dijadikan bulan-bulanan tim lawan. Tercatat hamper selusin gol tercipta ke gawang Indonesia dengan hanya satu gol yang berhasil mereka ciptakan.
Inilah bukti bahwa mengenal lawan sebelum kita bertanding itu sangat penting. Dan, mengenal disini tidak hanya sekedar mengenal saja tetapi mengenal disini mengharuskan kita memahami kekuatan maupun kelemahan lawan itu sendiri.
Sikap itulah yang dilakukan oleh peradaban Barat terhadap peradaban Islam. Setelah mereka menyadari bahwa kekuatan fisik dan militer tidak sanggup mengalahkan semangat juang yang dimiliki oleh umat Islam, mereka mencari cara lain untuk menumbangkan peradaban Islam.
Maka mereka sepakat bahwa untuk mengalahkan umat Islam. Tidak dapat dilakukan dengan langkah sekali gebuk tetapi dengan bertahap dan perlahan melalui cara menghilangkan sedikit demi sedikit ajaran Islam dari pemeluknya.
Maka muncullah apa yang disebut dengan Orientalisme, ini adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan timur. Yang mana setelah mereka mampu mempelajari budaya timur sampai keseluk beluknya ini mereka akan menggebuk dan membalikkan ajaran timur tersebut dengan apa yang mereka inginkan.
Maka bermunculanlah pusat-pusat studi tentang kebudayaan, agama dan sistem masyrakat timur. Yang diikuti dengan lahirnya professor-profesor yang sangat menguasai sekali akan ilmu keIslaman dari negara barat. Bahkan tak jarang mereka sangat fasih dari para ulama Islam sendiri dalam berbicara tentang Islam.
Sampai saat ini setidaknya hal itu bisa dianggap sukses. Hingga saat ini bisa kita lihat dari proyek tersebut mereka setidaknya telah membuat sebagian umat Islam jauh bahkan memusuhi ajaran agamanya yang suci. Bahkan saat ini banyak kader-kader mereka yang berwajah local atau dalam artian orang Islam sendiri yang saat ini mendakwahkan untuk meninggalkan ajaran Islam bagi para pemeluknya.
Maka inilah tantangan bagi kita. Bila mereka telah mampu berbicara tentang Islam lengkap dengan dalil dan hujahnya. Maka bagaimana kita ketika berbicara tentang sistem mereka? jangan sampai ketika kita menolak sekularisme dan pluralisme disatu sisi, tetapi disisi yang lain kita malah menjadi pengikut dan pelaku setianya. Juga jangan sampai ketika mengkritisi globalisasi kita dengan fasihnya menunjukkan kejelakan dan keburukan sistem ini. Namun, ketika ditanya tentang apa makna dari globalisasi kita benar-benar gak mengerti.
Seperti yang terjadi saat ini ketika di kampus-kampus Islam terkemuka di negeri ini yang seharusnya menciptakan cendekiawan-cendekiawan handal untuk memperteguh Islam dan ajarannya, tetapi yang sebaliknya malah tercipta manusia-manusia yang tersilaukan dengan peradaban luar dan menjadikan Islam sebagai musuhnya.
Maka, sudah saatnya sebagian kita mempelajari budaya-budaya mereka. Ingat, belajar disini dalam artian untuk mengkritisi bukan untuk mengikuti secara bulat-bulat. Agar kita dapat menentukan langkah yang tepat untuk menangkal serangan-serangan yang dilakukan pihak lawan. Maka jangan sungkan lagi untuk mengetahui lebih jauh tentang apa itu demokrasi, kapitalisme dan globalisasi. Karena kita belajar untuk ilmu bukan untuk menyembah kepada paham-paham itu. Sebab kita telah yakin tiada sistem kehidupan yang lengkap dan baik selain Islam.
Jangan lagi ada rasa alergi ketika kita berhubungan dengan referensi-referensi budaya mereka. karena bagaimana kita mau paham budaya mereka kalo mengenalnya saja kita enggan. Ya, jadi pahamilah lawan anda. Lalu gebuklah ia setepat-tepatnya.